Biogas Limbah Sayur Antar Karang Taruna Desa Manggihan Getasan Wakili Jateng ke Tingkat Nasional


JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Inovasi sederhana yang lahir dari kepedulian terhadap lingkungan mengantarkan Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, mencuri perhatian di tingkat Jawa Tengah (Jateng). Berkat mengembangkan energi biogas dari limbah sayuran, kelompok pemuda desa tersebut berhasil meraih Juara I tingkat Provinsi Jateng dalam bidang Inovasi Karang Taruna.

Prestasi itu sekaligus membuka langkah Karang Taruna di desa berada di kaki gunung Merbabu ini semakin luas. Karang Taruna Dharma Remaja akan berangkat ke Jakarta dan Bali mengikuti kejuaraan tingkat nasional pada awal September mendatang.

Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Ketua DPRD Kabupaten Semarang Bondan Marutohening. Hal itu disampaikannya saat menerima kunjungan Pengurus Karang Taruna Kabupaten Semarang bersama Karang Taruna Dharma Remaja dan Kepala Desa Manggihan di ruang kerjanya, Jumat (21/8/2026).

Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan sekaligus menyampaikan capaian Karang Taruna Manggihan setelah sukses menjadi juara pertama tingkatĀ  Jateng. Bondan menilai keberhasilan itu menunjukkan bahwa pemuda desa mampu melahirkan inovasi yang tidak hanya kreatif, tetapi juga menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

ā€œSaya mengapresiasi dan berbangga dengan inovasi yang dilakukan Karang Taruna Desa Manggihan, yang juga mendapat dukungan luar biasa dari pemerintah desa,ā€ kata Bondan.

Menurutnya, inovasi yang dikembangkan Karang Taruna Manggihan layak menjadi contoh bagi organisasi kepemudaan lainnya di Kabupaten Semarang. Ia berharap keberhasilan tersebut tidak berhenti sebagai prestasi dalam sebuah perlombaan, tetapi dapat berkembang menjadi gerakan yang menginspirasi Karang Taruna di desa-desa maupun tingkat kecamatan dan kabupaten.

Bondan secara khusus menyoroti inovasi biogas berbahan limbah sayuran yang dikembangkan para pemuda Manggihan. Menurutnya, pemanfaatan limbah sayuran sebagai sumber energi merupakan gagasan yang menarik dan belum banyak dikembangkan.

ā€œBiogas dari limbah sayur ini merupakan inovasi yang baru karena belum banyak yang mengembangkan. Harapannya terus berkembang agar semakin bermanfaat bagi masyarakat,ā€ ujarnya.

Bagi Bondan, kekuatan inovasi tersebut terletak pada kemampuannya mengubah sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna. Persoalan sampah dan limbah rumah tangga yang selama ini menjadi beban lingkungan justru diolah menjadi energi alternatif sekaligus menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan kembali.

Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan saat mengikuti lomba seleksi 10 Besar Jawa Tengah, belum lama ini. FOTO:DOK.JATENGPOS

Berangkat dari Persoalan Lingkungan

Ketua Karang Taruna Kabupaten Semarang Lugud Endro Susilo mengatakan, audiensi dengan DPRD Kabupaten Semarang dilakukan untuk menyampaikan capaian Karang Taruna sekaligus membangun komunikasi terkait persiapan menghadapi kompetisi tingkat nasional.

Baca juga:  Ikan Asap Wonosari Sasar Konsumen Lewat Pemasaran Online

Ia menyebut prestasi Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan menjadi kebanggaan bersama karena berhasil membawa nama Kabupaten Semarang dan Jawa Tengah ke tingkat yang lebih tinggi.

ā€œKarang Taruna Kabupaten Semarang bersama Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan alhamdulillah telah berprestasi di tingkat Jateng dan memperoleh Juara I. Awal September nanti kami akan mewakili Jateng untuk tingkat nasional,ā€ jelas Lugud.

Karena itu, pihaknya berharap dukungan dari Pemerintah Kabupaten Semarang, termasuk DPRD, dapat terus diberikan sehingga Karang Taruna Manggihan mampu tampil maksimal dalam kompetisi tingkat nasional.

Di balik keberhasilan tersebut, terdapat persoalan lingkungan yang menjadi pemantik lahirnya inovasi. Ketua Karang Taruna Desa Manggihan Juari menjelaskan, wilayah desanya berada di kawasan hulu Danau Rawa Pening yang merupakan salah satu danau prioritas nasional.

Kondisi lingkungan di sekitar kawasan tersebut menghadapi sejumlah persoalan, mulai dari limbah kotoran sapi hingga sampah rumah tangga. Persoalan itu mendorong para pemuda untuk tidak sekadar mengeluhkan kondisi lingkungan, tetapi mencari solusi yang bisa diterapkan dan dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat.

Dari proses tersebut lahirlah berbagai inovasi pengolahan limbah, salah satunya biogas berbahan limbah sayuran.

ā€œTeman-teman tertarik berinovasi energi biogas karena di hulu Danau Rawa Pening yang berada di wilayah desa kami ada berbagai persoalan, baik kotoran sapi maupun limbah lainnya, terutama sampah rumah tangga yang mencemari lingkungan,ā€ terang Juari.

Eksperimen biogas berbahan sayuran kemudian dikembangkan menggunakan drum sederhana. Inovasi tersebut bahkan sempat menjadi perhatian luas setelah videon di instagram Karang Taruna Dharma Remaja viral di media sosial.

Juari menjelaskan, pengelolaan lingkungan yang dilakukan Karang Taruna Manggihan dimulai dari pemilahan dan pemanfaatan sampah, khususnya sampah organik rumah tangga.

Selain limbah sayuran, kelompok tersebut juga mengembangkan pengolahan limbah kotoran sapi menjadi berbagai produk yang memiliki nilai manfaat. Di antaranya pupuk fermentasi dan pupuk kascing.

Sementara dari sisi energi, mereka mengembangkan biogas yang bersumber dari limbah kotoran sapi maupun sayuran rumah tangga. Hasil biogas tersebut kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan memasak.

Tidak berhenti pada pemanfaatan gas, sisa proses pengolahan atau bioslurry juga dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik cair.Ā Dengan pola tersebut, satu jenis limbah dapat menghasilkan beberapa manfaat sekaligus. Limbah yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan diolah menjadi energi, sedangkan residunya kembali dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian.

Baca juga:  Sakit Syaraf Kejepit Mujiyati Warga Ungaran Sembuh Berkat Pengobatan Gratis Program JKN

ā€œUntuk energinya kami ada biogas permanen dari limbah kotoran sapi dan juga dari sayuran rumah tangga. Biogas dimanfaatkan untuk memasak, sedangkan bioslurry-nya digunakan sebagai pupuk organik cair,ā€ ujarnya.

Ke depan, Karang Taruna Manggihan juga berencana memperluas edukasi mengenai inovasi pengolahan limbah tersebut. Mereka mulai masuk ke sekolah-sekolah dan sejumlah instansi untuk memperkenalkan teknologi sekaligus mengajak masyarakat melihat sampah dari perspektif berbeda.

Kepala Desa Manggihan Kecamaatan Getasan, Supriyadi. FOTO:MUIZ/JATENGPOS

Beri Kepercayaan PemudaĀ 

Sementara itu, Kepala Desa Manggihan Supriyadi mengatakan keberhasilan Karang Taruna tidak datang secara tiba-tiba. Karang Taruna Manggihan mulai bergerak secara lebih aktif sejak 2018.

Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari konsep visi-misi pembangunan desa yang diterapkannya melalui tiga pendekatan yang disebut 3P, yakni Pelaku, Penemu, dan Penentu.

Pelaku, adalah anak-anak muda Karang Taruna yang diberi ruang untuk bergerak dan ikut memikirkan berbagai persoalan desa. Mereka tidak hanya ditempatkan sebagai pelaksana kegiatan, tetapi juga diajak memahami persoalan sekaligus mencari jalan keluarnya.

ā€œKita memberi penjelasan tentang permasalahan di desa, kemudian anak-anak muda turut memikirkan dan membuat inovasi,ā€ ungkap Supryadi.

Penemu, lanjut Supritadi, dalam hal ini pemerintah desa melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk memastikan setiap kegiatan maupun inovasi yang dikembangkan tetap sesuai dengan norma sosial, agama, serta adat yang berlaku di masyarakat.

Sedangkan pilar ketiga, Penentu, yang berarti pemerintah bersama pihak swasta maupun unsur lainnya menjadi bagian dari kolaborasi untuk memberikan dukungan dan memastikan inovasi dapat berkembang.

Menurut Supryadi, kunci utama keberhasilan Karang Taruna adalah memberikan kepercayaan. Ketika pemuda diberi ruang untuk berkreasi dan bertanggung jawab, mereka mampu membuktikan bahwa anak-anak desa juga bisa menjadi penggerak perubahan.

ā€œKetika Karang Taruna ini diberi kepercayaan, ternyata benar-benar bisa menjadi pahlawan-pahlawan desa dengan berhasil membawa kemajuan,ā€ tegasnya.

Untuk memastikan kreativitas tersebut terus berkembang, Pemerintah Desa Manggihan juga memberikan dukungan anggaran melalui APBDes. Setiap tahun, pemerintah desa mengalokasikan sedikitnya Rp30 juta untuk mendukung kegiatan Karang Taruna.

Anggaran tersebut selanjutnya diserahkan kepada para pemuda untuk dirumuskan menjadi berbagai kegiatan yang dinilai memberikan dampak sosial bagi masyarakat. (muz)


TERKINI

Rekomendasi

...