JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Tujuh puluh lima tahun perjalanan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menjadi penanda panjang pengabdian profesi bidan dalam menjaga kesehatan ibu dan anak. Momentum tersebut diperingati IBI Kabupaten Semarang dengan penuh semarak melalui puncak peringatan HUT ke-75 IBI yang berlangsung di Pendapa Rumah Dinas Bupati Semarang, Ungaran, kemarin.
Suasana peringatan berlangsung meriah. Selain menjadi ajang memperkuat silaturahmi dan soliditas antaranggota, kegiatan tersebut juga dikemas dengan berbagai pertunjukan kesenian serta peragaan busana batik lokal.
Puluhan anggota IBI bersama Tim Penggerak PKK dari seluruh kecamatan di Kabupaten Semarang tampil mengenakan beragam busana batik. Peragaan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga menjadi bentuk apresiasi terhadap kekayaan budaya dan produk lokal yang tumbuh di tengah masyarakat Kabupaten Semarang.
Kemeriahan acara semakin terasa dengan hadirnya ratusan anggota IBI yang memenuhi Pendapa Rumah Dinas Bupati Semarang. Mereka datang tidak hanya untuk merayakan bertambahnya usia organisasi, tetapi juga membawa semangat yang sama untuk terus meningkatkan kualitas pengabdian kepada masyarakat.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua TP PKK Kabupaten Semarang Hj Peni Yulianingsih Ngesti Nugraha, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang Dwi Syaiful Noor Hidayat, Kepala DP3AKB Dewanto Leksono Widagdo, Ketua IBI Jawa Tengah Istirochah, Ketua IBI Kabupaten Semarang Veronika Winarni serta ratusan anggota IBI.
Puncak peringatan HUT ke-75 IBI ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra Kabupaten Semarang Rudi Susanto yang mewakili Bupati Semarang H Ngesti Nugraha. Potongan tumpeng tersebut kemudian diserahkan kepada salah satu perwakilan anggota senior IBI sebagai simbol penghormatan terhadap para bidan yang selama puluhan tahun telah mendedikasikan diri dalam pelayanan kesehatan masyarakat.
Dalam sambutan tertulis Bupati Semarang H Ngesti Nugraha yang dibacakan Rudi Susanto, disampaikan bahwa peringatan HUT IBI yang dirangkai dengan Hari Bidan Internasional menjadi momentum penting untuk kembali melihat perjalanan sekaligus tantangan profesi kebidanan.
Menurutnya, bidan memiliki posisi strategis dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, terutama dalam upaya menjaga kesehatan ibu dan anak. Tantangan tersebut semakin kompleks karena kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas terus meningkat.
“Peringatan ini juga menjadi momentum untuk mengingatkan tentang tantangan yang dihadapi para bidan dalam memberikan layanan kesehatan yang berkualitas dan aksesibilitas bagi masyarakat, terutama di wilayah-wilayah pedesaan dan terpencil,” demikian disampaikan dalam sambutan tersebut.
Bidan, lanjutnya, tidak hanya dituntut memiliki kompetensi dan keterampilan medis yang memadai. Mereka juga harus mampu menghadirkan pelayanan yang humanis, mudah diakses, serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Terlebih Kabupaten Semarang memiliki wilayah dengan karakter geografis yang beragam. Kondisi tersebut membutuhkan kehadiran tenaga kesehatan yang mampu menjangkau masyarakat hingga ke tingkat paling dekat dengan keluarga.
Karena itu, keberadaan bidan di tengah masyarakat dinilai memiliki peran penting dalam membangun kesadaran hidup sehat, memberikan pendampingan kepada ibu hamil, membantu proses persalinan, memberikan pelayanan pascapersalinan, serta mendukung tumbuh kembang anak.

Ketua IBI Kabupaten Semarang Veronika Winarni mengatakan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan mengubah hakikat utama profesi bidan, yakni memberikan pelayanan dengan kepedulian, empati dan ketulusan.
Menurut dia, kemajuan teknologi justru harus menjadi sarana bagi para bidan untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas pelayanan. Namun, kemajuan tersebut tetap harus berjalan seiring dengan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi ruh dalam profesi kebidanan.
“Kepedulian dan empati bidan saat bertugas tidak akan lekang dimakan zaman. Bersama seluruh bidan, kami berkomitmen tetap mengabdi bagi kehidupan meskipun ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang,” katanya.
Veronika menegaskan, para bidan akan terus berupaya menjadi tenaga profesional yang adaptif terhadap perubahan zaman. Namun, profesionalisme tersebut tidak boleh menghilangkan sentuhan kemanusiaan dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
“Kami akan tetap adaptif dan profesional, namun tidak meninggalkan keikhlasan hati memberikan pelayanan kesehatan,” tegasnya.
Ia menambahkan, tantangan pelayanan kesehatan ibu dan anak ke depan membutuhkan kerja bersama. Tidak mungkin seluruh persoalan kesehatan dapat diselesaikan hanya oleh satu organisasi atau satu sektor.
Karena itu, IBI Kabupaten Semarang akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, TP PKK, DP3AKB, fasilitas pelayanan kesehatan serta berbagai unsur masyarakat. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar berbagai program kesehatan ibu dan anak dapat berjalan lebih efektif, sekaligus memastikan masyarakat mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan secara berkesinambungan.
Sementara itu, Ketua IBI Jawa Tengah Istirochah mengajak seluruh bidan untuk tidak berhenti melakukan inovasi. Menurutnya, dinamika kebutuhan masyarakat menuntut profesi kebidanan terus bergerak dan menyesuaikan diri.
Bidan, kata dia, harus mampu membaca perubahan kebutuhan pelayanan kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan ibu hamil, persalinan, kesehatan reproduksi dan kesehatan anak “Jalin kerja sama dengan Tim Penggerak PKK dan instansi lain untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak,” tuturnya.
Ia menilai, sinergi antara bidan dan kader PKK menjadi salah satu kekuatan penting dalam menjangkau keluarga. Kader berada dekat dengan masyarakat, sementara bidan memiliki kompetensi profesional dalam memberikan pelayanan kesehatan. Jika keduanya berjalan beriringan, berbagai persoalan kesehatan di tingkat keluarga diharapkan dapat lebih cepat terdeteksi dan ditangani.
Peringatan HUT ke-75 IBI Kabupaten Semarang pun bukan sekadar seremoni tahunan. Di balik kemeriahan kesenian dan peragaan busana batik lokal, tersimpan pesan tentang perjalanan panjang sebuah profesi yang selama puluhan tahun hadir di tengah masyarakat.
Dari desa hingga perkotaan, dari ruang pelayanan kesehatan hingga rumah-rumah warga, bidan menjadi salah satu sosok yang kerap berada di garis depan dalam mendampingi perjalanan kehidupan seorang ibu dan anak. Sebab bagi para bidan, pengabdian bukan semata tentang profesi. Lebih dari itu, pengabdian merupakan ikhtiar untuk memastikan setiap ibu memperoleh pelayanan yang layak dan setiap anak memiliki kesempatan tumbuh sehat sejak awal kehidupannya. (muz)





