Empat Pasang Gunungan Warnai Puncak Grebeg Sekaten


JATENGPOS.CO.ID, ​SOLO — Berkah gunungan menjadi puncak perhelatan Hajad Dalem Grebeg Maulud atau Sekaten Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Rabu (26/8). Perhelatan tahun ini terasa istimewa lantaran terdapat dua kali prosesi kirab dengan total empat pasang gunungan jaler (laki-laki) dan gunungan estri (perempuan) yang diperebutkan masyarakat di Masjid Agung Surakarta.

​Prosesi pertama berlangsung sekira pukul 10.00 WIB. Dua pasang gunungan jaler dan estri dari pihak PB XIV Hangabehi dikirab dari lingkungan keraton menuju Masjid Agung Surakarta. Begitu tiba dan selesai didoakan oleh ulama keraton, gunungan yang berisi hasil bumi dan panganan sebagai simbol sedekah raja itu langsung disambut antusias warga yang saling berebut.

​Ketua Lembaga Dewan Adat sekaligus Pengageng Sasana Wilapa, GKR Koes Moertiyah Wandansari (Gusti Moeng), menyampaikan bahwa prosesi kirab tetap mempertahankan pola dan tradisi baku Keraton Surakarta.

Baca juga:  Sambangi Senayan, Sumanto Minta Pemerintah Tangani Harga Gabah dan Cabut Subsidi Pupuk

​”Prosesnya ya seperti biasa, paling tidak seperti waktu Iduladha kemarin. Ini nanti bawa dua pasang gunungan,” ujarnya.

​Gusti Moeng menjelaskan, urutan kirab diawali dengan satu perangkat gamelan Kiai Guntursari di barisan paling depan, disusul oleh prajurit keraton, dan barisan gunungan. Di bagian belakang, prosesi dipercantik oleh kehadiran penyutro yang diisi oleh 13 penari laki-laki dari abdi dalem Langentoyo.

​”Sepanjang jalan mereka akan menari. Penyutro itu bukan kategori prajurit, tetapi memang mereka adalah para abdi dalem wireng atau penari laki-laki,” jelasnya.

​Tak berhenti di situ, keunikan perhelatan tahun ini berlanjut selang satu setengah jam kemudian. Sekira pukul 11.30 WIB, rombongan dari pihak PB XIV Purboyo kembali mengarak dua pasang gunungan jaler dan estri menuju lokasi yang sama. Setibanya di kompleks Masjid Agung, dua pasang gunungan tersebut turut didoakan dan diserbu oleh masyarakat.

Baca juga:  Jerat UU TPKS, Kuasa Hukum S Resmi Laporkan Seniman PS

​Masyarakat tampak tumpah ruah dan tidak terpengaruh oleh dinamika internal yang terjadi di Keraton Surakarta. Bagi warga yang hadir, tradisi perebutan gunungan bukan sekadar berburu makanan atau hasil bumi, melainkan bentuk ikhtiar meraih keberkahan hidup.

​Fitri, warga asal Sragen yang ikut berebut gunungan, mengaku sengaja datang langsung ke Masjid Agung demi mengikuti tradisi tahunan tersebut.

​”Saya ikut berebut gunungan karena percaya hasil yang didapat membawa berkah. Ini juga menjadi tradisi budaya yang selalu ingin saya ikuti,” ungkapnya.

​Rangkaian kirab gunungan Sekaten ini kembali sukses menyatukan unsur ritual, seni tari, dentuman gamelan, kewibawaan prajurit, serta tingginya partisipasi masyarakat dalam satu wadah pelestarian budaya Keraton Surakarta yang melintasi zaman. (dea/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...