Mengubah Limbah Dapur Bernilai Guna, Kreasi Mahasiswa UNW Diadaptasi Ibu-Ibu Desa Sendang Lewat JELITA


JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Aroma harum lilin aromaterapi mendadak menyeruak di ruang pertemuan RT 07, Desa Sendang, Kecamatan Bringin, Kamis malam (20/8/2026). Tampak puluhan ibu-ibu kelompok yasinan duduk melingkar, khusyuk menyimak setiap tahapan praktik yang dipandu oleh para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Ngudi Waluyo (UNW).

Malam itu, kegiatan rutin pengajian yang dimulai pukul 19.00 WIB tidak berhenti pada pembacaan surat Yasin dan Tahlil semata. Usai doa bersama dipanjatkan, suasana langsung bertransformasi menjadi ruang belajar yang interaktif melalui program bertajuk JELITA—akronim dari Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi.

Di tangan para mahasiswa UNW, minyak goreng bekas yang selama ini kerap dibuang sembarangan dan mencemari lingkungan disulap menjadi produk bernilai estetika dan ekonomi tinggi. Limbah dapur yang sering dianggap sebelah mata ini diolah kembali lewat proses sederhana, mulai dari penjernihan minyak menggunakan arang, pencampuran bahan pengeras, hingga penambahan esens aromaterapi yang menenangkan.

Inisiatif ini lahir dari kepedulian nyata terhadap persoalan limbah rumah tangga di pedesaan. Selama ini, minyak jelantah sisa menggoreng sering kali dibungkus plastik lalu dibuang ke tempat sampah atau dialirkan begitu saja ke saluran air, yang tanpa disadari dapat merusak ekosistem tanah dan air.

Melalui program JELITA, para ibu rumah tangga diajak untuk melihat limbah dari sudut pandang yang berbeda. Harapannya, kesadaran menjaga kelestarian lingkungan tidak perlu dimulai dari hal-hal besar yang rumit, melainkan bisa dieksekusi langsung dari dapur rumah masing-masing. Antusiasme terlihat jelas dari puluhan pasang mata yang menyimak demonstrasi tersebut, membuktikan bahwa isu lingkungan dapat diterima dengan hangat ketika dikemas secara aplikatif dan solutif.

Baca juga:  Kintakun Bikin Tidur Nyenyak

Kegiatan JELITA dilaksanakan melalui demonstrasi pembuatan lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah. Dalam kegiatan tersebut, para ibu peserta diperkenalkan pada tahapan pengolahan minyak jelantah, mulai dari proses penyaringan  dengan menggunakan arang untuk menghilangkan kotoran dan sisa makanan hingga proses pencampuran dengan bahan kimia stearic acid untuk proses pembekuan serta pemberian pewangi lavender untuk aromaterapi juga sebagai penangkal nyamuk.

“Kami berinovasi minyak jelantah yang sebelumnya hanya dianggap sebagai limbah rumah tangga kemudian kita olah menjadi produk yang bernilai guna. Tidak lagi menjadi sampah cair yang sulit dihilangkan,” ujar perwakilan Tim KKN UNW Desa Sendang kepada Jateng Pos, kemarin.

Cara membuat inovasi ini, lanjutnya, campuran bahan lilin dituangkan ke dalam wadah yang telah dilengkapi sumbu dan ditambahkan pewangi untuk menghasilkan lilin aromaterapi yang menarik serta dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan tersebut, peserta memperoleh pemahaman bahwa minyak jelantah tidak seharusnya dibuang secara sembarangan. Pembuangan minyak jelantah secara langsung ke tanah atau saluran air dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, seperti menyumbat saluran air dan menurunkan kualitas tanah maupun air.

Karena itu, peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya mengelola minyak jelantah dengan cara yang tepat agar tidak menjadi limbah yang mencemari lingkungan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memanfaatkannya kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna, seperti lilin aromaterapi.

Sebaliknya, dengan pengelolaan yang tepat dan kreatif, minyak jelantah masih dapat dimanfaatkan menjadi lilin aromaterapi. Selain sebagai pengharum ruangan, aromanya dapat membantu menciptakan suasana yang rileks dan nyaman, sehingga mendukung aktivitas istirahat dan mengurangi stress ringan. Produk ini juga berpotensi dikembangkan sebagai produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.

Baca juga:  Springbed Kesehatan Makin Diminati

Kegiatan JELITA tidak hanya menjadi sarana edukasi mengenai pengelolaan limbah rumah tangga, tetapi juga menjadi salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat. Ibu-ibu memiliki peran penting dalam pengelolaan limbah rumah tangga, termasuk dalam mengurangi kebiasaan membuang minyak goreng bekas secara langsung.

Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan mulai membangun kebiasaan yang lebih ramah lingkungan dengan mengumpulkan dan memanfaatkan kembali minyak jelantah. Kreativitas dalam mengolah limbah juga diharapkan dapat terus dikembangkan menjadi berbagai produk yang bermanfaat dan berpotensi memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Sebagai penutup, lanjutnya, lilin aromaterapi hasil demonstrasi kemudian dibagikan kepada ibu-ibu peserta yasinan RT 07. Pembagian tersebut menjadi bentuk apresiasi sekaligus memberikan kesempatan kepada peserta untuk membawa pulang hasil kegiatan. Produk yang dihasilkan juga dapat menjadi contoh bahwa minyak jelantah yang selama ini dianggap sebagai limbah masih dapat diolah melalui proses yang kreatif.

Melalui program JELITA, masyarakat diajak untuk memulai langkah sederhana dalam menjaga lingkungan. Minyak jelantah yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat diolah menjadi produk bernilai guna, sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan yang lebih bersih, kreatif, dan berkelanjutan.

Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan demonstrasi saja, dan memanfaatkan minyak jelantah secara lebih bijak. Dengan demikian, kegiatan JELITA dapat menjadi salah satu langkah kecil dalam membangun lingkungan yang bersih sekaligus meningkatkan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan limbah rumah tangga. (ril/muz)


TERKINI

Rekomendasi

...

Gus Iqdam Rilis Lagu “Dekengane Pusat”

Penjualan Rumah Mewah Laris Manis

Jadikan Lari untuk Kebugaran Tubuh

GTS Gmedia Latih Disain SMAN 14...