JATENGPOS.CO.ID, SRAGEN – Lautan merah putih membanjiri Desa Jambanan, Kecamatan Sidoharjo, Jumat (28/8/2026). Sejak pagi, warga dari delapan dukuh memadati jalan utama hingga Lapangan Jambanan untuk menyaksikan puncak Kirab Budaya dan Merah Putih 2026.
Acara tahunan ini kembali digelar setelah sempat vakum saat pandemi COVID-19. Tahun ini, 27 kelompok peserta tampil all out membawa kostum, seni, dan tradisi khas Jambanan. Sorak penonton pecah setiap kali barisan lewat diiringi musik tradisional yang menggema.
“Semangat warga luar biasa. Ini contoh baik, bisa jadi role model desa lain,” ujar Anggota DPRD Sragen, Faturohman, saat menyaksikan kirab.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pembiayaan kirab 2026 terasa berat. Alokasi Dana Desa sudah mentok. Biasanya desa bisa menganggarkan sekitar Rp100 juta, namun tahun ini tidak memungkinkan.
Akhirnya panitia menggalang sponsor. Dukungan juga datang dari wakil rakyat dan elemen masyarakat.
“Desa hanya menganggarkan kecil. Sponsor-sponsor termasuk kami sebagai wakil rakyat ikut mem-back up,” jelas Faturohman.
Meski begitu, Kepala Desa Jambanan, Sugino Welly, mengaku bangga. Menurutnya, kemeriahan acara murni lahir dari kesadaran warga tanpa paksaan.
“Alhamdulillah, tiap tahun antusiasmenya justru naik. Ini semua karena persatuan dan guyub rukun warga,” kata Sugino.
Konsep setiap barisan pun lahir dari kreativitas masing-masing dukuh. Tema unik, properti mandiri, hingga koreografi dikerjakan secara swadaya.
Tahun ini kirab terasa lebih istimewa karena dihadiri dewan juri dari Dinas Pendidikan, Dinas PMD, dan Dinas Pariwisata. Kehadiran mereka diharapkan memperkuat status Jambanan sebagai Desa Budaya.
Faturohman dan Sugino berharap Pemkab Sragen memberi perhatian lebih. Rencananya, kegiatan ini akan diusulkan masuk kalender event resmi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atau Dinas Pariwisata Sragen.
“Kami berharap kabupaten menjadikan ini pilot project. Minimal ada apresiasi, kehadiran Bupati atau Sekda akan sangat membakar semangat warga,” harap Sugino.
Faturohman menambahkan, Jambanan adalah satu-satunya desa di Sidoharjo yang peradabannya kuat dalam hal gotong royong dan kebersamaan.
Kemeriahan tidak berhenti di siang hari. Pukul 19.00 WIB, panggung Pentas Seni & Hiburan digelar di Lapangan tersebut.
Kirab tahun ke-11 ini juga disokong BUMDes Wargo Jaya, MM Argopuro, Pemuda Mahasiswa Peduli Desa Jambanan, hingga Aktech Digital Solutions.
Di tengah keterbatasan dana desa, warga Jambanan membuktikan budaya tidak butuh anggaran besar. Cukup dengan kebersamaan, tradisi bisa terus hidup dan semakin semarak. (yas/rit)




