Sorak Siswa MI Miftahul Ulum Sambut MBG, Segelas Susu Jadi Menu Favorit


JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Sorak riang langsung terdengar dari halaman MI Miftahul Ulum Kadirejo 02, Desa Kadirejo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, Selasa (8/9/2026) siang. Begitu mobil pembawa menu Makan Bergizi Gratis (MBG) tiba, para siswa bergegas menyambut.

Tak sekedar menunggu makanan dibagikan, sejumlah siswa bahkan ikut membantu guru dan petugas menurunkan ompreng dari mobil untuk kemudian dibawa ke kelas masing-masing.

Namun, ada satu menu yang paling ditunggu. Bukan hanya makanan utama, melainkan segelas susu yang menjadi pelengkap menu MBG.

Bagi para siswa, kehadiran susu membuat santap siang terasa semakin lengkap. Sejak menu tambahan tersebut mulai dibagikan, antusiasme siswa disebut semakin terlihat.

Salah satunya Dzaky Athaya Akbar, siswa kelas 5 MI Miftahul Ulum Kadirejo 02. Dengan penuh semangat, ia mengaku menyukai susu yang dibagikan karena rasanya yang dianggap pas.

“Susunya enak, rasanya original. Jadi bisa makan dan minum susu, kenyang lebih lama,” ungkap Dzaky.

Menurutnya, minum susu juga membuat tubuh terasa lebih kuat dan sehat. Kondisi tersebut, kata dia, tentu membantu siswa lebih bersemangat mengikuti pelajaran.

“Susu menjadikan tubuh lebih kuat. Kalau kuat dan sehat nanti belajarnya lebih semangat, jadi rajin,” katanya.

Kepala MI Miftahul Ulum Kadirejo 02, Widodo, membenarkan tingginya antusiasme siswa terhadap tambahan susu dalam menu MBG.

Ia mengatakan, sejak susu turut disertakan, siswa terlihat semakin lahap menyantap makanan yang disediakan.

“Siswa sangat senang sejak ada menu tambahan dari Rumah Susu Indonesia, susu dalam gelas,” kata Widodo.

Baca juga:  Kunjungi Tanggul Sungai Tuntang yang Jebol, Wagub Jateng Minta Percepat Penutupan, Kerahkan 9 Alat Berat 

Menurutnya, susu menjadi pelengkap yang penting karena menu MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan karbohidrat dan protein dari makanan utama, tetapi juga mendapat tambahan asupan gizi dari susu.

“Ini kan jadi menu pelengkap dalam MBG, ada karbo dan protein. Kami mengharapkan adanya susu ini bisa setiap hari, diteruskan,” harapnya.

Hal senada disampaikan guru SD Negeri Kadirejo 02, Siti Zulfa. Menurutnya, hanya sebagian kecil siswa yang tidak menyukai susu.

Dalam satu kelas, kata dia, biasanya hanya ada satu atau dua siswa yang tidak meminumnya. Agar tidak terbuang, susu tersebut kemudian diberikan kepada teman mereka.

“Satu kelas itu paling satu dua siswa, kalau yang lainnya senang minum susu. Kalau yang tidak suka, susunya diberikan ke temannya, sehingga tidak mubazir,” ujarnya.

Siti menilai keberadaan susu sebagai pendamping MBG memberikan manfaat bagi tumbuh kembang anak. Ia berharap program tersebut dapat terus dilanjutkan.

“Susu ini kan bermanfaat, baik untuk anak karena kandungan gizinya. Jadi saya berharap adanya susu ini bisa diteruskan sebagai pendamping menu MBG,” katanya.

Pembagian MBG di MI Miftahul Ulum Kadirejo 02, Desa Kadirejo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, Selasa (8/9/2026) siang. FOTO: IST/JATENGPOS

Dari Peternak sampai Anak Sekolah

Program tambahan susu dalam MBG ternyata tidak hanya berbicara soal pemenuhan gizi anak. Di balik segelas susu yang diterima siswa, terdapat rantai ekonomi lokal yang ikut bergerak.

Kepala Desa Kadirejo, Riyadi, mengatakan tambahan susu untuk menu MBG telah dimulai sekitar dua bulan lalu. Ia menyambut baik program tersebut karena memberikan manfaat ganda bagi masyarakat.

“Kami sangat mendukung karena dengan adanya menu tambahan susu ini juga turut menggerakkan UMKM lokal,” ujar Riyadi.

Baca juga:  Cerita Terbentuknya Grup Band Dekace Disdukcapil Kabupaten Semarang

Menurutnya, susu tersebut diproduksi oleh Rumah Susu Indonesia di Kadirejo dengan kapasitas mencapai 8.000 cup berukuran 125 mililiter setiap hari, atau setara sekitar satu ton susu.

Produksi tersebut kemudian disalurkan ke tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yakni di Kadirejo, Keji, dan Segiri. Distribusinya mencakup sekitar 50 sekolah dengan kebutuhan mencapai sekitar 7.500 cup susu.

Riyadi mengatakan pemberian susu juga sejalan dengan arahan Badan Gizi Nasional (BGN), yang mendorong agar menu susu diberikan setidaknya dua kali dalam sepekan.

“Sesuai arahan BGN, menu susu setidaknya diberikan dua kali dalam seminggu. Kalau lebih dari itu tentu lebih baik, apalagi Indonesia menuju Generasi Emas 2045,” katanya.

Yang menarik, bahan baku susu tersebut juga berasal dari peternak sapi perah di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Susu kemudian diolah melalui proses pasteurisasi sebelum dikemas dan didistribusikan.

Dengan demikian, manfaat program tidak berhenti di meja makan siswa. Dari peternak sapi perah, proses pengolahan, pelaku UMKM, hingga anak-anak sekolah, semuanya terhubung dalam satu rantai yang sama.

“Kolaborasi ini mampu menggerakkan perekonomian sehingga semakin menyejahterakan pelaku UMKM Kadirejo,” ungkap Riyadi.

Di halaman sekolah, riuh siswa menyambut mobil MBG pun kembali terdengar. Di balik ompreng yang dibawa ke ruang kelas dan segelas susu yang diminum hingga tandas, terselip harapan yang lebih besar: anak-anak tumbuh sehat, belajar lebih semangat, sementara roda ekonomi masyarakat sekitar ikut bergerak. (muz)


TERKINI

Rekomendasi

...