Joy Ride Heritage KAI, Merawat Jejak Sejarah di Atas Jalur Rel


JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Suasana Stasiun Semarang Tawang, Jumat (25/9/2026), terasa berbeda. Pagi itu, perjalanan kereta bukan sekadar membawa rombongan dari satu stasiun menuju stasiun lain, tetapi juga mengajak peserta menyusuri kembali jejak panjang sejarah perkeretaapian Indonesia.

Melalui Joy Ride Heritage dalam rangka HUT ke-81 PT Kereta Api Indonesia (Persero), rangkaian kereta bergerak dari Semarang Tawang menuju Tanggung, dilanjutkan ke Gedungjati, sebelum akhirnya kembali ke Semarang Tawang. Jalur tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan wajah kereta api masa kini dengan warisan perjalanan masa lalu.

Di dalam rangkaian, sejumlah tamu undangan VIP, jajaran manajemen hingga direksi KAI turut mengikuti perjalanan, termasuk Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin. Namun, yang menjadi perhatian bukan hanya perjalanan para penumpang di dalam kereta, melainkan jejak sejarah yang terbentang di sepanjang jalur.

Begitu meninggalkan Semarang Tawang, perjalanan perlahan membawa rombongan masuk ke suasana yang berbeda. Di balik jendela kereta, lanskap Jawa Tengah bergerak, sementara jalur rel yang dilalui menyimpan cerita panjang tentang bagaimana perkeretaapian tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Tanggung menjadi persinggahan pertama. Di stasiun inilah nuansa heritage terasa semakin kuat, karena peserta diajak melihat secara langsung salah satu titik yang memiliki jejak penting dalam perjalanan sejarah perkeretaapian Indonesia.

Tanggung bukan sekadar tempat berhenti dalam sebuah perjalanan. Stasiun dan lingkungan di sekitarnya menjadi pengingat bahwa sebelum kereta api hadir dengan berbagai teknologi modern seperti sekarang, telah ada perjalanan panjang yang dibangun melalui jalur rel, stasiun dan berbagai infrastruktur perkeretaapian.

Dari tempat tersebut, sejarah terasa bukan lagi sekadar cerita yang dibaca atau didengar. Peserta dapat melihat langsung ruang yang menjadi bagian dari perjalanan waktu, sekaligus membayangkan bagaimana jalur kereta dahulu menjadi penghubung antardaerah dan ikut menggerakkan kehidupan masyarakat.

Joy Ride Heritage di Tanggung pun tidak hanya menghadirkan pengalaman sejarah. KAI juga menggelar kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan dengan menyalurkan bantuan kepada masyarakat di sekitar stasiun.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Gedungjati. Jika Tanggung menjadi pintu masuk untuk menengok jejak sejarah, Gedungjati menjadi bagian berikutnya dari perjalanan heritage yang memperlihatkan bahwa warisan perkeretaapian tidak hanya berada pada bangunan dan kereta, tetapi juga menyatu dengan kehidupan masyarakat di sepanjang jalur.

Di Gedungjati, KAI kembali menghadirkan kegiatan CSR bagi masyarakat. Perjalanan pun memiliki makna yang lebih luas karena upaya merawat sejarah berjalan berdampingan dengan kepedulian terhadap masyarakat yang berada di sekitar wilayah operasional kereta api.

Di atas rangkaian, pengalaman peserta semakin lengkap. Kereta Panoramic menawarkan pandangan luas terhadap bentang alam Jawa Tengah, sementara Royal Heritage menghadirkan suasana perjalanan yang lebih eksklusif dan kereta vintage membawa kembali atmosfer perjalanan masa lalu.

Baca juga:  XL Axiata Dukung Pengembangan Jakarta Jadi Smart City

Jendela lebar Panoramic membuat sawah, pepohonan, permukiman dan berbagai aktivitas masyarakat di sepanjang jalur menjadi bagian dari perjalanan. Sementara nuansa klasik kereta vintage menghadirkan sensasi berbeda, seolah peserta diajak sesaat meninggalkan masa kini dan merasakan atmosfer perjalanan kereta pada zaman dahulu.

Bagi para railfans, perjalanan ini memiliki cerita tersendiri. Mereka datang dari Jakarta dan berbagai daerah, termasuk Semarang dan Cirebon, untuk merasakan langsung perjalanan yang membawa mereka melewati jalur dan stasiun dengan nilai sejarah.

Salah satunya Danish, railfans berusia 13 tahun asal Semarang yang telah menyukai kereta api sejak kecil. Kesempatan mengikuti Joy Ride Heritage membuat kecintaannya terhadap kereta api mendapatkan pengalaman baru.

“Saya sangat senang bisa mengikuti kegiatan ini. Selain menambah pengalaman, saya juga bisa merasakan langsung nuansa perkeretaapian di zaman dulu. Ini menjadi pengalaman yang tidak terlupakan,” kata Danis.

Bagi Muhammad Rizka Aulia, 13, pelajar kelas VII SMP asal Cirebon, perjalanan tersebut juga menjadi pengalaman istimewa. Datang ke Semarang bersama ibunya dan mengenakan kostum pejuang, Rizka mengaku senang bisa mengikuti perjalanan sekaligus bertemu dengan sesama pencinta kereta api.

“Saya senang bisa ikut perjalanan ini. Selain bisa jalan-jalan, saya juga bisa bertemu dengan banyak orang yang sama-sama suka kereta api,” ungkap Muhammad Rizka Aulia.

Rizka mengikuti Joy Ride Heritage melalui undangan khusus dari komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS). Rute Semarang-Gedungjati juga menjadi pengalaman pertamanya, sekaligus kesempatan untuk melihat langsung perjalanan kereta di wilayah yang sebelumnya belum pernah ia jelajahi.

Kecintaannya terhadap sejarah perkeretaapian telah tumbuh sejak 2022, ketika masih duduk di sekolah dasar. Ketertarikan itu berawal dari kepala sekolahnya yang juga merupakan railfans dan sering mengenalkan dunia kereta api kepadanya.

Sejak itu, Rizka semakin sering mencari informasi tentang kereta api, termasuk melalui YouTube. Ia bahkan menghafalkan berbagai jenis kereta dan kerap berkeliling di Cirebon untuk melihat aktivitas perkeretaapian, termasuk mengunjungi Balai Yasa.

Pengalaman tersebut membuat perjalanan Joy Ride Heritage memiliki arti lebih bagi para railfans. Mereka tidak hanya datang untuk melihat rangkaian kereta, tetapi juga untuk mendekatkan diri dengan sejarah, mengenal jalur dan stasiun, sekaligus bertemu dengan komunitas yang memiliki kecintaan serupa.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin mengatakan, Joy Ride Heritage merupakan bagian dari rangkaian HUT ke-81 KAI yang mengusung tema Wonderful Journey. Tema tersebut, menurutnya, tidak dilepaskan dari sejarah, heritage, kebudayaan dan kebangsaan Indonesia.

Baca juga:  SIG Pasok 2.630 Unit Tetrapod

“Semua temanya itu adalah tema sejarah, tema heritage, tema kebudayaan dan tema kebangsaan Indonesia,” kata Bobby Rasyidin.

Menurutnya, perkembangan perkeretaapian harus tetap berjalan bersama upaya menjaga peninggalan sejarah. Kemajuan teknologi dan layanan kereta api tidak berarti membuat jejak masa lalu ditinggalkan, karena heritage menjadi bagian dari perjalanan KAI yang perlu dikenalkan kepada generasi berikutnya.

“Kita punya tanggung jawab merawat sejarah kepada generasi,” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu makna penting dari perjalanan Joy Ride Heritage. Kereta api boleh terus berubah, dari rangkaian lama menuju kereta dengan teknologi dan kenyamanan modern, tetapi cerita yang berada di balik jalur dan stasiun tetap perlu dirawat.

Bobby juga menekankan bahwa perjalanan perkeretaapian ke depan harus tetap dibarengi peningkatan keselamatan. KAI terus mendorong pengamanan perlintasan sebidang, termasuk pembangunan palang atau pintu perlintasan serta kesadaran masyarakat agar tidak menerobos saat kereta akan melintas.

Di sisi kenyamanan, KAI juga terus melakukan pembaruan melalui pengadaan kereta baru dan pengembangan layanan wisata. Sejumlah produk perjalanan dikembangkan untuk memadukan perjalanan kereta dengan potensi alam dan keramahan lokal Indonesia, sejalan dengan arah pengembangan pariwisata.

Upaya tersebut berjalan beriringan dengan pengembangan transportasi massal yang lebih terjangkau, nyaman, tepat waktu dan terkoneksi. KAI juga menghadirkan layanan kereta ekonomi kerakyatan pada sejumlah rute di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Dari Gedungjati, rangkaian akhirnya kembali menuju Semarang Tawang. Perjalanan yang dimulai dari pagi itu perlahan berakhir, tetapi meninggalkan pengalaman yang berbeda bagi setiap peserta.

Ada Tanggung yang mengajak kembali menengok sejarah, Gedungjati yang melanjutkan cerita heritage, Panoramic yang membuka bentang perjalanan, Royal Heritage yang menghadirkan kenyamanan, serta kereta vintage yang membawa atmosfer masa lalu kembali terasa.

Bagi KAI, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa merawat sejarah bukan berarti berhenti pada masa lalu. Justru dari jejak yang telah ada, perjalanan kereta api terus bergerak menuju masa depan.

Joy Ride Heritage akhirnya bukan sekadar perjalanan menikmati kereta. Dari Semarang Tawang, menuju Tanggung dan Gedungjati, kemudian kembali ke Tawang, perjalanan itu menjadi cara untuk melihat kembali bagaimana jalur rel telah menjadi bagian dari perjalanan bangsa.

Sebab di atas rel yang sama, masa lalu dan masa kini terus bertemu. Kereta bergerak maju, sementara sejarah yang ditinggalkannya tetap menjadi jejak yang harus dirawat untuk generasi berikutnya.(aln)


TERKINI

Rekomendasi

...