JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Sebanyak 328 santri perwakilan dari sembilan kecamatan se-Kabupaten Kudus, ‘unjuk gigi’ dalam ajang Festival Anak Saleh Indonesia (FASI) XIII Kabupaten Kudus 2026, yang digelar di lingkungan Pendapa Kabupaten Kudus, Sabtu (10/10).
Gelaran tahunan yang diinisiasi Badan Koordinasi Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (BADKO LPQ) Kabupaten Kudus ini, menjadi wadah strategis bagi para santri untuk membuktikan kemampuan sekaligus mengasah bakat di bidang Al-Qur’an dan seni Islami.
Ketua BADKO LPQ Kabupaten Kudus, Wafik Chairi, menjelaskan bahwa seluruh peserta yang bertanding merupakan santri-santri pilihan. Mereka telah melalui seleksi ketat di tingkat kecamatan masing-masing pada September 2026 lalu.
Lewat FASI tingkat kabupaten ini, panitia akan menjaring duta-duta terbaik untuk mewakili Kabupaten Kudus pada ajang serupa di tingkat Provinsi Jawa Tengah yang dijadwalkan berlangsung di Semarang pada 24–25 Desember 2026 mendatang.
‘’Peserta yang terbaik nanti akan melanjutkan ke tingkat Jawa Tengah. Kami berharap mereka bisa memberikan kemampuan terbaiknya dan membawa nama harum Kabupaten Kudus,’’ tegas Wafik.
Lanjutnya, untuk menjaga kerapian dan keadilan kompetisi, panitia membagi FASI XIII ke dalam tiga kategori berdasarkan tingkat pendidikan dan usia peserta. Terdiri jenjang Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKQ) yang diikuti oleh anak-anak usia dini (5–7 tahun). Lalu kelas Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), khusus anak usia 7–12 tahun.
‘’Sedangkan Ta’limul Qur’an lil Aulad (TQA), diikuti oleh kelompok remaja berusia 12–15 tahun,’’ paparnya.
Dikatakan, beragam cabang lomba dihadirkan untuk mengakomodasi minat dan bakat peserta. Di bidang seni Al-Qur’an, terdapat lomba murattal, tartil, dan tilawah. Selain itu, panitia juga menggelar lomba nasyid Islami, menggambar, mewarnai, cerdas cermat Al-Qur’an (CCQ), hingga praktik ibadah.
Namun, Wafik menegaskan bahwa orientasi FASI XIII tidak melulu soal mengejar piala atau gelar juara. Lebih dari itu, ajang ini dijadikan sarana menanamkan rasa cinta anak-anak terhadap Al-Qur’an sejak dini, baik dalam membaca maupun mempraktikkannya di kehidupan nyata.
‘’Kami berharap anak-anak semakin mencintai Al-Qur’an, tidak hanya dalam hal membaca, tetapi juga mengamalkan nilai-nilainya. Dengan begitu, mereka tumbuh menjadi anak yang sopan, berakhlakul karimah, dan menjadi anak saleh sesuai harapan orang tua,’’ lanjutnya.
Salah satu juri cabang Ceramah Agama Islam, Nur Choirudin, membeberkan bahwa kriteria penilaian tidak hanya bertumpu pada materi, tetapi juga pada aspek penyampaian dan kesiapan mental peserta saat tampil di hadapan dewan juri dan penonton.
‘’Penilaian mencakup isi dan bahasa, ketepatan dalil, serta retorika atau metode penyampaian. Jadi tidak hanya dari penguasaan materi saja, tetapi juga keberanian dan cara mereka membawakan penampilan,” urai Nur Choirudin.
Menurutnya, FASI memberikan ruang yang sangat baik bagi anak-anak untuk melatih kepercayaan diri, mengenali potensi diri, dan membentuk fondasi karakter sejak dini.
“Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan semakin banyak santri muda yang mengembangkan potensi diri, mencintai Al-Qur’an, serta memiliki bekal akhlak dan keterampilan untuk kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.
Ia menambahkan, bagi para peserta yang nantinya belum berhasil meraih juara, keikutsertaan mereka dalam ajang ini sudah merupakan sebuah kemenangan tersendiri.
“Anak-anak yang sudah ikut lomba ini sebetulnya sudah juara karena berani tampil dan memiliki mental yang kuat. Itu sudah luar biasa. Adapun kalah atau menang dalam kompetisi adalah hal yang biasa,” puji Nur Choirudin. (han/rit)







