JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) di wilayah Kabupaten Kudus dipastikan berjalan dalam tiga gelombang. Langkah ini diambil sebagai strategi untuk menghindari penumpukan atau kondisi yang terlalu padat, jika dilaksanakan dalam satu waktu bersamaan.
Kepala Disdikpora Kudus, Harjuna Widada melalui Kabid Pendidikan Dasar, Anggun Nugroho, menuturkan saat sekarang TKA masih berlangsung. Gelombang pertama telah tuntas 20-21 April kemarin. Sementara gelombang kedua sedang berjalan. Berdasarkan jadwal, gelombang ketiga sekaligus terakhir direncanakan akan rampung pada tanggal 30 mendatang.
‘’Gelombang satu sudah berjalan kemarin, sekarang sedang berjalan gelombang kedua. Kita baru bisa mengetahui hasil akhirnya setelah gelombang ketiga selesai di akhir bulan,’’ ujar Anggun, saat dihubungi Rabu (22/4).
Anggun menjelaskan, bahwa pembagian gelombang ini bukan disebabkan oleh kendala sarana dan prasarana (sapras), melainkan murni strategi teknis agar pihak sekolah dapat menyesuaikan jadwal dengan lebih nyaman.
Terkait adanya siswa atau peserta yang berhalangan hadir karena sakit, pihak dinas memastikan akan ada laporan resmi setelah tanggal 30. Peserta yang gagal berangkat pada gelombang awal karena alasan kesehatan, akan didata dalam berita acara untuk kemudian diusulkan mengikuti jadwal susulan di akhir periode.
‘’Yang sakit-sakit itu posisinya di belakang. Ada susulan. Nanti setelah rekapitulasi selesai, kita buatkan berita acara untuk mengusulkan mereka yang gagal di gelombang 1, 2, dan 3,’’ tandasnya.
Sebelumnya diberitakan, Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus memastikan kesiapan sarana dan prasarana (sarpras), menjelang pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) jenjang Sekolah Dasar (SD). Sebanyak 420 sekolah baik negeri maupun swasta, dinyatakan siap menggelar ujian yang dijadwalkan berlangsung pada 20–30 April mendatang.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikpora Kudus, Anggun Nugroho, menegaskan bahwa aspek teknis menjadi prioritas utama. Hingga saat ini, pihaknya belum menerima laporan kendala berarti dari lapangan terkait fasilitas pendukung.
‘’Untuk sarpras relatif aman. Sekolah mengoptimalkan fasilitas yang ada, seperti laptop milik sekolah. Jika kurang, biasanya meminjam dari guru atau sumber lain,” ujar Anggun. (han/rit)















