JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG- Mendorong penyandang disabilitas agar semakin mandiri dan memiliki daya saing dalam kegiatan ekonomi membutuhkan lebih dari sekadar program bantuan. Diperlukan keterhubungan antara kebijakan pemerintah, pengetahuan akademik, pengalaman komunitas, dan dukungan dunia usaha agar proses pemberdayaan benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan. Perspektif tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam Focus Group Discussion (FGD) penelitian fundamental yang dilaksanakan Universitas Ngudi Waluyo (UNW) di Pendopo Rumah Dinas Bupati Semarang, Minggu, 4 Oktober 2026. Forum tersebut mempertemukan unsur pemerintah daerah, perguruan tinggi, UMKM Centre, serta organisasi dan komunitas penyandang disabilitas dari sejumlah wilayah di Jawa Tengah.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Sosial Kabupaten Semarang dan dipandu oleh Dr. Dina Lusianti, S.E., M.M., AAK. selaku moderator. Turut hadir perwakilan UMKM Centre Kabupaten Semarang, serta unsur organisasi penyandang disabilitas.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Semarang, Dra. Istichomah, M.Si., menyoroti pentingnya mempertemukan kekuatan dan pengalaman masing-masing pihak dalam membangun pemberdayaan penyandang disabilitas. Pemerintah daerah, menurutnya, memiliki pemahaman mengenai kondisi masyarakat serta data yang dapat menjadi dasar perumusan program. Perguruan tinggi memiliki kapasitas dalam penelitian, pengembangan pengetahuan, dan teknologi. Sementara organisasi penyandang disabilitas mempunyai pengalaman langsung mengenai persoalan dan kebutuhan yang mereka hadapi. Adapun dunia usaha memiliki posisi penting dalam membuka akses terhadap pasar dan pengembangan kegiatan ekonomi.
Dengan demikian, pemberdayaan tidak cukup dilakukan oleh satu institusi. Masing-masing pihak perlu mengambil peran sesuai kapasitasnya dan membangun hubungan kerja yang saling melengkapi. āKetika pemerintah, perguruan tinggi, komunitas penyandang disabilitas, dan dunia usaha dapat berjalan bersama, upaya pemberdayaan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara berkelanjutan,ā menjadi pesan utama yang mengemuka dalam sambutan tersebut.
Riset yang Berangkat dari Persoalan Lapangan
FGD tersebut merupakan bagian dari penelitian Penelitian Fundamental Reguler (PFR) BIMA 2026 yang dilaksanakan tim peneliti Universitas Ngudi Waluyo dengan fokus pada penguatan kapabilitas sumber daya manusia penyandang disabilitas pada UMKM ekonomi kreatif kriya. Penelitian diketuai Dr. Pipit Sundari, S.E., M.M., bersama anggota Satria Avianda Nurcahyo, S.M., S.Hum., M.M., yang merupakan dosen Program Studi DIV Sarjana Terapan Bisnis Manajemen Retail Universitas Ngudi Waluyo. Tim juga melibatkan Agung Prihandono, S.T., M.Kom., dosen Program Studi Ilmu Komputer Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU), serta Isra Prihantini, mahasiswa Program Studi Bisnis Manajemen Retail UNW.
Berbeda dengan penelitian yang hanya berhenti pada pengumpulan data, forum tersebut digunakan untuk mempertemukan hasil penelitian dengan pengalaman para pemangku kepentingan yang berhadapan langsung dengan persoalan pemberdayaan penyandang disabilitas.
Pengalaman tersebut menjadi penting karena persoalan pengembangan UMKM penyandang disabilitas tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individu. Di dalamnya terdapat persoalan akses, kesempatan, dukungan kelembagaan, pengembangan usaha, pasar, teknologi, serta lingkungan yang memungkinkan pelaku usaha untuk berkembang.
Ketua tim peneliti, mengatakan bahwa keterlibatan komunitas penyandang disabilitas dalam proses penelitian menjadi bagian penting untuk memastikan model yang dikembangkan tidak hanya sesuai dengan perspektif akademik. āPenelitian ini perlu mendengar pengalaman langsung dari para pelaku dan komunitas penyandang disabilitas. Apa yang secara akademik terlihat baik belum tentu secara langsung sesuai dengan kebutuhan mereka. Karena itu, pengalaman lapangan menjadi bagian penting dalam penyempurnaan model penelitian,ā ujarnya.
Dari Penelitian Menuju Keberlanjutan
Perwakilan Pusat Penelitian LPPM Universitas Ngudi Waluyo, Abdul Rohman, S.Pd., M.Kom., menyampaikan bahwa penelitian fundamental tersebut diharapkan memiliki keberlanjutan setelah periode penelitian tahun berjalan. Menurutnya, hasil penelitian tidak harus berhenti ketika skema pendanaan selesai. Temuan yang diperoleh masih dapat dikembangkan melalui penelitian lanjutan dalam skema multi-year maupun diterjemahkan menjadi kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Pandangan tersebut sejalan dengan arah penelitian UNW yang berupaya menghubungkan kegiatan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Bagi perguruan tinggi, publikasi ilmiah tetap menjadi bagian penting dari luaran penelitian. Namun, nilai strategis penelitian juga terletak pada kemampuannya memberikan pemahaman dan alternatif solusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
Dalam konteks penelitian ini, FGD menjadi salah satu tahapan untuk memastikan bahwa pengetahuan yang dihasilkan melalui proses akademik dapat dipertemukan dengan pengalaman masyarakat dan kebutuhan pemangku kepentingan.
Hasil diskusi selanjutnya akan digunakan tim peneliti sebagai salah satu bahan untuk memperkaya dan menyempurnakan model penguatan kapabilitas SDM penyandang disabilitas yang sedang dikembangkan.
Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Program
Persoalan pemberdayaan penyandang disabilitas pada akhirnya membutuhkan pendekatan yang lebih terintegrasi. Pemerintah memiliki peran dalam menciptakan kebijakan dan dukungan program. Perguruan tinggi dapat menyediakan pengetahuan dan inovasi. Komunitas menjadi sumber pengalaman sekaligus representasi kebutuhan pengguna. Sementara dunia usaha dapat memperluas peluang ekonomi melalui akses pasar dan jejaring bisnis.
Jika keempat unsur tersebut dapat terhubung secara konsisten, pemberdayaan penyandang disabilitas tidak lagi dipandang sebagai program yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari pembangunan ekosistem ekonomi yang inklusif.
Melalui penelitian fundamental ini, Universitas Ngudi Waluyo berupaya mengambil bagian dalam proses tersebut dengan menyediakan dasar akademik untuk memahami kebutuhan, mengembangkan model, dan membuka peluang bagi penelitian serta program lanjutan.
Dengan demikian, hasil penelitian diharapkan tidak hanya memiliki arti bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun ruang yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan potensi, menjalankan kegiatan ekonomi, dan meningkatkan kemandirian.Ā (Oleh: Dr. Pipit Sundari, SE., MM. Akademisi di Universitas Ngudi Waluyo sekaligus praktisi Manajemen Sumber Daya Manusia yang mengembangkan kapabilitas manusia dan organisasi melalui pendidikan, penelitian, praktik profesional, dan pemberdayaan masyarakat, dengan fokus pada hubungan industrial, human capital, ekonomi kreatif, UMKM, inklusi ketenagakerjaan, decent work, serta pelestarian budaya berbasis komunitas).







