JATENGPOS.CO.ID, KARANGANYAR – Konflik air memanas di lereng Gunung Lawu. Ratusan petani dari Tawangmangu dan Matesih menggeruduk Kantor Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Senin (13/10), memprotes proyek peningkatan kapasitas air PUDAM Tirta Lawu dari sumber mata air Pancot.
Aksi dipicu rencana pemasangan pipa baru berdiameter 8 inci. Petani menilai proyek melanggar kesepakatan 2018 dan dilakukan tanpa izin warga.
“Kesepakatanya PUDAM hanya diizinkan mengambil air di sumber Pancot dengan pipa tertentu. Tapi datang pipa lainnya dan langsung dipasang tanpa ada izin dulu dengan petani dan warga,” ujar Sulardiyanto, warga Pancot yang mewakili petani.
Penolakan tidak hanya datang dari Pancot dan Cengklik, Tawangmangu. Perwakilan desa di Matesih, yakni Gantiwarno, Ngadiluwih, Karangbangun, dan Koripan, juga ikut bersuara karena menggunakan sumber air yang sama yang mengalir ke Sungai Samin.
Aktivis Jaga Lawu, Aan Shopanudin, menyebut warga turun karena sawah mengering.
“Di lereng Lawu hari ini warga turun bukan karena ingin demo, tapi karena sawahnya kering. Jangan biarkan sawah mati karena airnya diambil. Kalau sawah mati, hidup petani ikut mati,” katanya.
Camat Tawangmangu Eko Joko Widodo membenarkan adanya aksi tersebut. Ia memastikan situasi kondusif setelah tercapai kesepakatan.
“Iya, itu mau nambah pasang pipa baru dan ditolak warga. Saat ini enggak jadi atau dibatalkan, dan pipa lama terpasang dirawat. Alhamdulillah sudah clear,” ungkap Eko.
Direktur Teknik PUDAM Tirta Lawu Suparno mengatakan penghentian proyek merupakan keputusan untuk meredam kekhawatiran dan menghindari konflik.
“Keputusan terbaik ini kita harus memikirkan semuanya. Tujuannya agar Karanganyar tetap aman dan dinamis,” ujarnya.
Suparno menjelaskan proyek tersebut hanya penggantian pipa untuk memperbaiki elevasi di medan pegunungan, bukan penambahan debit maupun sumber baru.
“Dari PUDAM tidak menambah debit dan tidak mencari debit baru. Debit yang kita ambil adalah debit milik PUDAM di Pancot itu saja. Sebenarnya hanya mengganti pipa,” kata Suparno.
PUDAM juga telah mengajak pemerintah kecamatan dan kepala desa melihat langsung sumber air Pancot untuk menjelaskan persoalan tersebut. (yas/rit)







