JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Perkembangan ilmu kedokteran terus bergerak menuju era presisi dengan pendekatan yang lebih personal dan berbasis genetika. Transformasi ini menempatkan berbagai metode terapi dalam beberapa klaster, mulai dari konvensional hingga rekayasa genetik mutakhir.
Praktisi Kedokteran Regeneratif, sekaligus Ketua Umum PREDIGTI, Dr. dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa. menjelaskan, setiap manusia memiliki “cetak biru” kehidupan berupa DNA yang menjadi dasar pendekatan kedokteran modern. Ia menyebut, perkembangan teknologi kesehatan kini mengarah pada personalized medicine yang menyesuaikan terapi dengan kondisi spesifik pasien.
“Pendekatan medis ke depan harus mampu merawat dan memperbaiki cetak biru biologis manusia secara presisi,” ujarnya.
Ia memaparkan, pendekatan medis saat ini terbagi dalam empat klaster utama, yakni konvensional, regeneratif autologus, regeneratif alogenik, dan rekayasa genetika. Setiap klaster memiliki peran berbeda sesuai kompleksitas penyakit dan kebutuhan klinis pasien.
“Metode konvensional tetap menjadi fondasi penting, terutama untuk penanganan akut, meski belum mampu memperbaiki kerusakan seluler secara menyeluruh,” jelasnya.
Dokter Agus menilai, terapi regeneratif autologus menjadi pilihan paling rasional saat ini karena menggunakan sel tubuh pasien sendiri. Pendekatan ini dinilai unggul dari sisi keamanan, efektivitas, serta efisiensi biaya dibandingkan metode lain.
“Autologus memiliki keunggulan utama berupa zero rejection rate karena berasal dari tubuh sendiri, sehingga lebih aman dan efektif,” katanya.
Ia menambahkan, metode autologus seperti Bone Marrow Aspiration (BMA), Peripheral Blood Mesenchymal Stem Cell (PBMC), dan Stromal Vascular Fraction (SVF) telah banyak digunakan secara global. Penerapannya mencakup regenerasi jaringan, penyembuhan luka kronis, hingga perbaikan vaskularisasi.
“Berbagai studi internasional menunjukkan terapi ini memiliki profil keamanan jangka panjang yang sangat baik,” tegasnya.
Untuk menjawab kebutuhan layanan yang efisien, Dokter Agus juga memperkenalkan konsep BiSQuAT (Biological Smart Quick Action Treatment). Konsep ini dirancang sebagai standar tata laksana berbasis kecerdasan biologis tubuh dengan intervensi cepat dan minimal.
“BiSQuAT mampu menekan lama rawat inap, mengurangi komplikasi, serta meningkatkan efisiensi manajerial rumah sakit,” ungkapnya.
Selain autologus, ia turut menyoroti terapi alogenik yang menggunakan donor dari luar tubuh, seperti plasenta dan tali pusat. Metode ini dinilai praktis, namun memiliki potensi ketidakcocokan sehingga penggunaannya harus selektif.
“Terapi alogenik tetap bermanfaat, tetapi harus digunakan dengan indikasi ketat untuk menghindari risiko reaksi tubuh,” tandasnya.
Sementara itu, teknologi rekayasa genetika seperti CRISPR menjadi puncak inovasi kedokteran modern. Teknologi ini memungkinkan perbaikan langsung pada DNA yang mengalami kelainan.
“CRISPR bekerja sebagai pisau bedah di tingkat genetik, namun membutuhkan biaya sangat besar karena proses riset dan infrastrukturnya kompleks,” jelasnya.
Ia menyebutkan, terapi genetik sudah menunjukkan hasil pada penyakit seperti thalasemia dan anemia sel sabit. Namun, sejumlah penyakit lain masih menjadi tantangan besar dalam dunia medis.
“Tidak semua penyakit dapat diselesaikan dengan satu pendekatan, sehingga pemilihan terapi harus tetap berbasis bukti ilmiah dan rasionalitas klinis,” katanya.
Dokter Agus menegaskan, pengembangan kedokteran presisi di Indonesia harus mengedepankan keseimbangan antara inovasi dan keterjangkauan. Sinergi berbagai pihak diperlukan agar teknologi kesehatan dapat diakses secara luas oleh masyarakat.
“Tujuan akhirnya adalah menghadirkan layanan kesehatan yang presisi, efisien, dan tetap memanusiakan manusia,” pungkasnya.(aln)















