JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Di tengah maraknya klaim dalam industri terapi sel global, pendekatan berbasis autologous stem cell dinilai sebagai pilihan paling realistis dan aplikatif. Pendekatan ini dinilai tidak hanya unggul dari sisi medis, tetapi juga selaras dengan kesiapan sumber daya, ekonomi, dan regulasi nasional.
Praktisi Kedokteran Regeneratif yang juga Ketua Umum Perkumpulan Dokter Regeneratif dan Terapi Invasif Indonesia (PREDIGTI), dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua menegaskan, Autologous Fresh Manipulation Mononuclear Cell menjadi opsi paling aman dan rasional untuk diterapkan di Indonesia. Ia menyebut pendekatan ini mengedepankan prinsip keselamatan pasien sekaligus menjaga kedaulatan genetika bangsa.
“Terapi berbasis sel autologus adalah pilihan paling realistis karena aman, tidak menimbulkan penolakan imun, dan sesuai dengan kondisi Indonesia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penggunaan sel dari tubuh sendiri menghindari risiko serius seperti Graft-versus-Host Disease yang kerap muncul pada terapi sel donor. Selain itu, teknologi ini memiliki rekam jejak panjang dan telah terbukti secara ilmiah lebih stabil dibanding pendekatan rekayasa genetika yang masih menyimpan risiko.
Agus juga menyoroti kecenderungan overclaim dalam imunoterapi berbasis laboratorium yang dinilai mahal dan berisiko tinggi. Menurutnya, penguatan imun tubuh dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan melalui pola hidup sehat, nutrisi, serta program kesehatan nasional seperti vaksinasi.
“Imunitas tidak selalu harus dibentuk dari laboratorium, tetapi bisa diperkuat secara alami melalui gaya hidup sehat dan intervensi yang teruji,” jelasnya.
Dalam aspek industri, ia menilai dominasi produk berbasis maklon asing seperti eksosom massal berpotensi menurunkan efektivitas terapi. Produk tersebut dinilai rentan mengalami degradasi kualitas dibandingkan metode fresh manipulation yang mempertahankan fungsi biologis sel secara optimal.
Ia menambahkan, konsep Auto Hemotherapy and Cell Unit Research Everlasting (AHT-CURE) menjadi solusi yang fleksibel untuk diterapkan di berbagai daerah. Model ini memungkinkan layanan terapi sel dilakukan secara bertahap, mulai dari fasilitas dasar hingga rumah sakit rujukan dengan teknologi lebih lengkap.
“Pendekatan AHT-CURE memungkinkan pemerataan akses layanan terapi sel tanpa membebani sistem kesehatan nasional,” ungkapnya.
Dari sisi regulasi, terapi autologus dinilai lebih selaras dengan hukum nasional karena tidak melibatkan komersialisasi jaringan tubuh dari pihak lain. Hal ini juga sejalan dengan prinsip etika medis global yang menekankan perlindungan hak dan keamanan pasien.
Agus menilai, pengembangan terapi ini semakin relevan dengan kebijakan Kementerian Kesehatan dalam memperluas fasilitas Cath Lab di berbagai daerah. Infrastruktur tersebut dinilai dapat mendukung penghantaran sel secara presisi langsung ke organ target.
“Sinkronisasi antara teknologi autologus dan penguatan infrastruktur kesehatan menjadi kunci kedaulatan medis nasional,” tandasnya.
Ia menyimpulkan bahwa di tengah berbagai klaim industri, pendekatan yang paling tepat adalah yang realistis, aman, dan sesuai dengan kondisi Indonesia. Autologous stem cell berbasis AHT-CURE dinilai sebagai solusi nyata dalam pengembangan kedokteran presisi di Tanah Air.(aln)















