JATENGPOS.CO.ID, KEBUMEN – Suara mesin diesel dulu menjadi irama yang tak terpisahkan dari sawah di Desa Kedungwaru, Kecamatan Karangsambung. Bising, berasap, dan mahal, biaya pengairan bahkan mencapai Rp11 juta untuk satu kali panen.
Kondisi itu perlahan berubah sejak hadirnya listrik PLN yang menggantikan peran diesel di lahan pertanian. Kini, suara yang terdengar hanyalah aliran air dari pompa listrik yang bekerja lebih efisien.
Pada Agustus 2025, PT PLN (Persero) UID Jawa Tengah melalui program TJSL menghadirkan Kawasan Pertanian Pintar di desa tersebut. Program ini mendorong penerapan electrifying lifestyle bagi sekitar 210 petani di lahan seluas 25 hektare.
Ketua Gapoktan Sidoluhur Desa Kedungwaru, Akhmad Fakhrudin, menyebut perubahan tersebut sangat dirasakan petani. Biaya operasional menurun signifikan sehingga petani lebih tenang dalam mengelola sawah.
“Dulu kami sering berpikir dua kali untuk menyalakan pompa karena biaya bahan bakar minyak mahal. Sekarang, tinggal nyalakan listrik, air mengalir, hati pun lebih tenang,” ujarnya.
Di lahan yang sama, biaya pembukaan lahan yang sebelumnya mencapai Rp900 ribu kini turun hampir setengahnya. Penurunan ini memunculkan optimisme terhadap efisiensi produksi pada musim panen 2026.
Teknologi pompa listrik berbasis IoT yang diterapkan juga meningkatkan efektivitas pengairan. Petani dapat menentukan waktu optimal penyiraman sehingga air dan tenaga tidak terbuang.
Camat Karangsambung, Siti Nuriatun Faoziyah, mengatakan penggunaan listrik juga berdampak pada lingkungan. Selain efisiensi biaya, emisi dari penggunaan mesin diesel dapat ditekan.
“Setelah penggunaan listrik PLN, petani dapat mengurangi emisi dari mesin pompa diesel serta mendapatkan optimalisasi biaya produksi,” ujarnya.
General Manager PLN UID Jawa Tengah, Bramantyo Anggun Pambudi, menegaskan program ini menjadi bagian komitmen PLN menghadirkan manfaat listrik hingga ke pelosok. Listrik tidak hanya menjadi penerang, tetapi juga solusi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Electrifying lifestyle adalah tentang bagaimana listrik mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, program ini menunjukkan listrik bukan hanya kebutuhan, tetapi solusi yang mendorong produktivitas dan kesejahteraan. Di Kebumen, listrik tidak hanya menyalakan lampu, tetapi juga menghidupkan sawah dan menumbuhkan harapan.
Program ini juga menjadi simbol kehadiran negara dalam mendukung sektor pertanian. Sistem pompanisasi listrik kini mampu mengairi lahan secara optimal yang sebelumnya terbatas sarana.
Di balik efisiensi biaya, tersimpan harapan baru bagi para petani. Mereka kini dapat menatap musim panen dengan lebih percaya diri dan peluang panen hingga 2–3 kali setahun semakin terbuka.(aln)















