JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Meningkatnya mobilitas masyarakat selama musim liburan membuat kepadatan lalu lintas di jalur perkotaan dan kawasan wisata ikut meningkat. Pengendara diimbau meningkatkan kewaspadaan dan mengedepankan etika berkendara demi menjaga keselamatan bersama.
Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jawa Tengah, Oke Desiyanto mengatakan, pengendara yang melintasi daerah baru biasanya membutuhkan konsentrasi lebih tinggi untuk menyesuaikan rute dan kondisi jalan. Situasi tersebut kerap memicu manuver mendadak saat menggunakan aplikasi navigasi digital.
“Dalam situasi lalu lintas yang padat dan dinamis, setiap pengendara perlu memiliki empati serta kemampuan membaca potensi risiko di sekitarnya,” ujarnya.
Menurutnya, fenomena yang sering terjadi yakni pengereman mendadak ketika pengendara terlambat membaca petunjuk arah di aplikasi navigasi. Selain itu, pengendara luar kota juga kerap memotong jalur tanpa lampu sein demi mengejar titik tujuan wisata atau kuliner.
Oke menjelaskan, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kecelakaan apabila pengguna jalan lain tidak mengantisipasi sejak dini. Karena itu, pengendara diminta lebih aktif melakukan pemindaian visual terhadap kondisi kendaraan di sekitar.
Ia menyarankan pengendara memperhatikan pelat nomor kendaraan lain, khususnya kendaraan luar kota yang terlihat melambat atau ragu-ragu di persimpangan. Pengendara juga diminta menjaga jarak aman lebih panjang dibanding kondisi normal.
“Kalau biasanya dua detik, saat berada di belakang kendaraan luar kota sebaiknya ditambah menjadi tiga sampai empat detik agar punya waktu reaksi lebih aman,” katanya.
Selain menjaga jarak, pengendara diimbau tidak terlalu lama berada di titik buta kendaraan lain, terutama bus atau mobil wisata. Posisi blind spot dinilai berbahaya ketika pengemudi tiba-tiba berpindah jalur atau berbelok.
Oke juga mengingatkan penggunaan klakson harus dilakukan secara santun. Klakson pendek dinilai lebih efektif sebagai bentuk komunikasi dibanding bunyi panjang yang justru bisa memicu kepanikan pengendara lain.
“Keahlian berkendara bukan hanya soal kemampuan mengendalikan kendaraan, tetapi juga kemampuan memahami situasi, memberi ruang kepada pengguna jalan lain, dan menjaga keselamatan bersama,” tandasnya.(aln)



