JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., MD., Ph.D., mengapresiasi peresmian laboratorium farmakologi milik perusahaan jamu nasional Sido Muncul. Keberadaan fasilitas tersebut dinilai menjadi bukti keseriusan industri herbal Indonesia dalam mengembangkan produk berbasis riset dan ilmu pengetahuan.
Menurut Taruna, tidak banyak industri herbal di dunia yang memiliki laboratorium farmakologi sendiri. Karena itu, langkah Sido Muncul menjadi kebanggaan sekaligus memperkuat posisi Indonesia di tingkat internasional.
“Tidak sedikit industri herbal di dunia yang memiliki laboratorium farmakologi, tetapi jumlahnya sangat terbatas. Sido Muncul menjadi salah satu yang memilikinya sehingga menjadi kebanggaan kita semua sebagai ikon produk Indonesia di dunia internasional,” ujarnya.
Taruna menjelaskan, tugas utama BPOM adalah memberikan jaminan keamanan, kualitas, dan edukasi kepada masyarakat. Ketiga aspek tersebut harus didasarkan pada data ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia mengatakan, laboratorium farmakologi akan mendukung penyediaan data-data ilmiah yang diperlukan dalam proses evaluasi dan pengawasan produk herbal. Dengan demikian, setiap klaim yang disampaikan produsen dapat diverifikasi berdasarkan hasil penelitian.
“Semua klaim harus berbasis ilmu pengetahuan dan data ilmiah sehingga dapat diklarifikasi serta dipastikan kebenarannya,” katanya.
Taruna menegaskan, seluruh produk Sido Muncul yang telah memperoleh izin edar dari BPOM dipastikan aman untuk digunakan masyarakat. Produk tersebut telah melewati tahapan evaluasi berlapis sebelum mendapatkan persetujuan.
“Semua produk yang memiliki nomor izin edar dari BPOM tentu aman karena telah melalui proses pemeriksaan dan evaluasi yang ketat,” tegasnya.
Ia menjelaskan, masyarakat dapat memastikan keamanan produk melalui empat langkah sederhana, yakni memeriksa kemasan, label, izin edar, dan masa kedaluwarsa. Jika seluruh unsur tersebut terpenuhi, maka produk telah mendapatkan jaminan dari negara.
Taruna menambahkan, Indonesia memiliki sekitar 31.000 spesies tanaman yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional dan herbal. Potensi tersebut memerlukan dukungan riset agar dapat berkembang menjadi jamu, obat herbal terstandar, maupun fitofarmaka yang aman dan berdaya saing.
“Fasilitas seperti laboratorium farmakologi ini sangat penting untuk memastikan keamanan bahan alam melalui penelitian yang memadai,” jelasnya.
Selain itu, BPOM juga terus berupaya menjaga kepercayaan publik terhadap produk-produk nasional. Salah satunya melalui Peraturan BPOM Nomor 16 Tahun 2025 tentang Partisipasi Masyarakat dalam Pengawasan Obat dan Makanan.
Menurut Taruna, regulasi tersebut diperlukan untuk menghadapi maraknya informasi yang belum tentu benar di era digital dan kecerdasan buatan. Karena itu, masyarakat dan para influencer diharapkan menggunakan media sosial secara bijak serta bertanggung jawab.
“Kami mengundang seluruh masyarakat untuk berpartisipasi menjaga kepercayaan terhadap produk yang telah disahkan BPOM. Silakan menggunakan media sosial secara arif dan bijaksana karena ada tanggung jawab hukum yang menyertainya,” tandasnya.
Lebih lanjut, Taruna mengungkapkan BPOM tengah mengembangkan konsep kolaborasi Akademisi, Bisnis, dan Government (ABG) untuk mempercepat hilirisasi hasil riset. Melalui konsep tersebut, perguruan tinggi yang kaya inovasi dapat bekerja sama dengan industri yang memiliki fasilitas dan dukungan pendanaan.
Ia berharap, laboratorium farmakologi yang dikembangkan Sido Muncul dapat menjadi pusat kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi, seperti Universitas Gadjah Mada maupun universitas lainnya yang memiliki kompetensi di bidang farmasi dan farmakologi.
“Potensi bahan alam Indonesia sangat besar. Nilai ekonominya diperkirakan mencapai Rp350 triliun. Karena itu, sinergi antara kampus, industri, dan pemerintah perlu diperkuat agar potensi tersebut bisa dimaksimalkan,” pungkasnya.(aln)






