JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, tidak banyak perusahaan yang mampu bertahan hingga lebih dari tujuh dekade. PT Phapros Tbk menjadi salah satu di antaranya, yang tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh sebagai saksi sekaligus pelaku sejarah industri farmasi nasional.
Perjalanan panjang itu terasa nyata di pabrik Phapros kawasan Simongan, Semarang. Dari lokasi inilah berbagai produk kesehatan lahir dan didistribusikan, menjangkau masyarakat Indonesia hingga sejumlah negara di luar negeri.
Sabtu (20/6/2026) siang, suasana pabrik terasa berbeda. Dalam rangka HUT ke-72 yang mengusung tema “Phapros itu Sehat, Sehat itu Phapros”, perusahaan menggelar media gathering bertajuk Merajut Harmoni, Menguatkan Kolaborasi sebagai refleksi perjalanan panjang perusahaan.
Di tengah aktivitas produksi yang tetap berjalan, Phapros membuka kembali lembaran sejarahnya. Bukan sekadar angka usia, tetapi kisah tentang bagaimana perusahaan farmasi nasional ini lahir, tumbuh, dan bertransformasi mengikuti dinamika bangsa.

Direktur Produksi PT Phapros Tbk., Ida Rahmi mengatakan, perusahaan berdiri pada 21 Juni 1954. Nama Phapros sendiri merupakan singkatan dari Pharmaceutical Processing Industries yang mencerminkan fokus awal perusahaan pada industri pengolahan farmasi.
“Phapros berdiri tanggal 21 Juni 1954. Nama Phapros merupakan singkatan dari Pharmaceutical Processing Industries,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perjalanan perusahaan tidak bisa dilepaskan dari sosok Oei Tiong Ham, pengusaha yang dikenal sebagai Raja Gula Asia Tenggara pada masanya. Dari sejarah panjang itulah Phapros kemudian berkembang menjadi perusahaan farmasi nasional.
“Perusahaan ini didirikan oleh Oei Tiong Ham. Beliau adalah salah satu tokoh bisnis besar di Asia Tenggara pada masa itu,” kata Ida.
Seiring waktu, Phapros mengalami berbagai fase transformasi. Dari perusahaan yang berawal dari kepemilikan keluarga, kemudian melalui masa nasionalisasi, hingga akhirnya menjadi bagian dari ekosistem BUMN melalui holding Kimia Farma.
Saat ini, Kimia Farma menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan sekitar 56,7 persen. Sementara sekitar 43 persen saham lainnya dimiliki oleh publik.
“Sebagai perusahaan terbuka, kami juga memiliki pemegang saham publik yang cukup besar. Itu sebabnya ada komisaris yang mewakili kepentingan pemegang saham minoritas,” jelasnya.
Struktur kepemilikan tersebut menjadi salah satu fondasi kepercayaan yang terus dijaga perusahaan. Pada tahun ini, Phapros kembali membagikan dividen sebesar 15 persen kepada para pemegang saham.
Meski memiliki sejarah panjang, Phapros tidak hanya hidup dari masa lalu. Perusahaan terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang, terutama di sektor kesehatan yang dinamis.
Salah satu produk yang paling dikenal masyarakat adalah Antimo. Obat anti mabuk perjalanan ini telah hadir lebih dari 53 tahun dan masih menjadi andalan perusahaan hingga saat ini.
“Antimo sudah 53 tahun hadir di masyarakat dan tetap menjadi salah satu produk unggulan kami,” ujarnya.
Bagi banyak orang Indonesia, Antimo bukan sekadar obat. Ia menjadi bagian dari pengalaman perjalanan, mulai dari mudik, wisata keluarga, hingga perjalanan kerja lintas daerah.
Selain Antimo, Phapros juga mengembangkan berbagai produk kesehatan lain seperti Noza yang ditujukan untuk membantu mengatasi gejala influenza, serta berbagai suplemen kesehatan untuk mendukung gaya hidup masyarakat modern.
“Untuk gejala flu, kami juga punya Noza sebagai salah satu pilihan produk yang kami kembangkan,” kata Ida.
Namun perjalanan Phapros tidak berhenti pada produk konsumsi. Perusahaan juga memperkuat perannya dalam pengembangan inovasi berbasis riset melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi.
Kerja sama dilakukan dengan Universitas Airlangga dalam pengembangan produk ortopedi. Selain itu, Phapros juga berkolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada dalam pengembangan teknologi kesehatan.
“Kami ingin berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan kesehatan masyarakat. Karena itu kolaborasi dengan kampus menjadi sangat penting,” jelasnya.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah perangkat kesehatan untuk pasien hidrosefalus, yang berfungsi membantu mengatur aliran cairan di dalam tubuh pasien agar tetap stabil.
Di sisi lain, Phapros juga terus memperluas jangkauan bisnis ke pasar internasional. Produk-produk perusahaan telah diekspor ke berbagai negara seperti Myanmar, Filipina, hingga Afghanistan.
“Kami sudah mengekspor produk ke beberapa negara, di antaranya Myanmar, Filipina, dan Afghanistan,” ungkap Ida.
Produk yang diekspor mencakup obat tuberkulosis, obat flu, hingga produk injeksi yang telah memenuhi standar kualitas internasional.
Keberhasilan menembus pasar global ini menjadi bukti bahwa industri farmasi nasional memiliki daya saing yang mampu diterima di tingkat internasional.
Selain fokus pada pertumbuhan bisnis, perusahaan juga memperkuat tata kelola dan prinsip keberlanjutan sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
“Good corporate governance terus kami perkuat agar perusahaan dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Memasuki usia 72 tahun, Phapros menghadapi tantangan industri yang semakin kompleks, mulai dari persaingan global hingga perkembangan teknologi kesehatan yang sangat cepat.
Namun pengalaman panjang selama lebih dari tujuh dekade menjadi modal penting bagi perusahaan untuk terus beradaptasi dan berkembang.
Dari sebuah pabrik di Simongan, Semarang, Phapros telah melintasi berbagai zaman, dari era awal kemerdekaan, masa industrialisasi, hingga era modern berbasis inovasi dan riset.
Kini, perusahaan tidak hanya menjadi saksi sejarah industri farmasi nasional, tetapi juga turut membentuk arah perkembangannya.
Di usia ke-72, Phapros menegaskan posisinya sebagai perusahaan farmasi nasional yang terus bergerak mengikuti zaman, sambil tetap membawa satu misi yang sama: menebar manfaat bagi kesehatan masyarakat Indonesia dan dunia.(aln)






