Menjaga Api, Menjaga Usaha, Cerita Portobello Beralih ke Gas Bumi


JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG- Saat sebagian warga Semarang baru memulai aktivitas, dapur Portobello di Jalan Halmahera sudah lebih dulu sibuk. Kompor menyala, oven dipanaskan, bahan makanan disiapkan, sementara pesanan pelanggan mulai berdatangan.

Di dapur tersebut, berbagai menu Portobello dipersiapkan, mulai dari pizza, pasta dan stromboli hingga menu Nusantara seperti nasi goreng dan sop iga. Selama sekitar 13 tahun berkiprah di Kota Semarang, dapur menjadi salah satu bagian terpenting yang menjaga roda usaha tetap bergerak.

Bagi bisnis kuliner, dapur yang aktif berarti kebutuhan energi yang tidak sedikit. Karena itu, pilihan bahan bakar bukan sekadar soal membuat api menyala, tetapi juga bagaimana menjaga biaya tetap efisien, pekerjaan lebih praktis dan pasokan energi tetap tersedia.

Dari Tabung LPG ke Gas Bumi

Portobello di Jalan Halmahera tidak sekadar menjadi restoran, tetapi juga berfungsi sebagai central kitchen. Sebagian bahan makanan diolah hingga setengah jadi sebelum dikirim ke outlet lain untuk diselesaikan menjadi hidangan siap santap.

“Kalau di sini central kitchen, kami mengolah bahan sampai setengah jadi, kemudian dikirim ke outlet untuk diolah menjadi masakan matang,” ujar Ayang Ardyana Susilowati, Finance and Arlider PT Portobello.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan energi di dapur utama cukup besar. Beberapa tungku, high pressure dan oven digunakan untuk mendukung aktivitas produksi.

Berbeda dengan outlet lainnya yang memiliki skala lebih kecil dan kebutuhan energi lebih rendah. Salah satunya masih menggunakan LPG 12 kilogram karena menu dan aktivitas dapurnya tidak sebanyak central kitchen.

Sebelum menggunakan gas bumi PGN, dapur utama mengandalkan LPG 50 kilogram dengan kebutuhan sekitar delapan hingga sembilan tabung per bulan.

Ketika harga LPG meningkat, pengeluaran energi mulai menjadi perhatian. Manajemen kemudian menghitung kembali pilihan sumber energi setelah mendapat tawaran menggunakan jaringan gas bumi PGN yang tersedia di sekitar lokasi.

“Walaupun ada biaya pemasangan, untuk ke depannya biaya penggunaannya bisa lebih ringan daripada kami memakai LPG biasa. Perbedaannya sekitar 30 sampai 40 persen,” kata Ayang.

Biaya pemasangan saat itu sekitar Rp6 juta. Bagi Portobello, biaya tersebut dipandang sebagai investasi yang dapat diperhitungkan dalam jangka panjang.

Baca juga:  Pendaftaran Pada Website MyPertamina Khusus Roda Empat

Kini, saat high season, pengeluaran gas bumi di dapur utama sekitar Rp1,2 juta. Ketika aktivitas lebih rendah, biayanya berada di kisaran Rp800 ribu hingga Rp1 juta.

“Kalau kami pakai PGN, mau memasak berapa pun jumlahnya tetap masih oke dengan tagihan atau biaya yang kami keluarkan,” ungkapnya.

Namun, penghematan bukan satu-satunya manfaat yang dirasakan.

Gas bumi mengalir melalui jaringan pipa langsung menuju lokasi usaha. Pekerja tidak lagi harus mengangkat, memindahkan atau menyiapkan banyak tabung LPG.

“Kalau normal, satu menit langsung menyala. Begitu staf kitchen datang, kami nyalakan stop kran di bawah kitchen dan langsung bisa dipakai,” jelas Ayang.

Kepraktisan tersebut terasa dalam aktivitas sehari-hari. Terlebih, dapur harus tetap siap ketika pesanan meningkat.

Pasokan gas bumi juga dapat digunakan selama 24 jam. Dengan sistem jaringan, Portobello tidak perlu khawatir kehabisan stok seperti ketika masih mengandalkan tabung.

Pembayaran tagihan pun relatif mudah karena dapat dilakukan melalui berbagai kanal pembayaran yang tersedia. Bagi pengelola usaha, kemudahan tersebut membuat pengelolaan energi menjadi lebih praktis.

Portobello juga melakukan pengecekan meter secara berkala. Menurut Ayang, gangguan yang cukup terasa terakhir terjadi pada 2022 dan setelah itu penggunaan gas bumi relatif lancar.

“Keunggulannya yang pertama pasti lebih ekonomis. Kalau ada gangguan teknis, penanggulangannya cukup cepat dan responsif,” terangnya.

Cerita Gas Bumi untuk Usaha Jawa Tengah

Pengalaman Portobello menjadi gambaran bagaimana gas bumi semakin dekat dengan sektor usaha di Jawa Tengah.

Area Head PGN Semarang Sugiyanto Eko Cahyono mengatakan PGN terus memperluas pemanfaatan gas bumi melalui pembangunan dan pengembangan jaringan pipa, sekaligus solusi beyond pipeline untuk lokasi yang belum terjangkau jaringan.

“Pengembangan ini diarahkan untuk menjangkau berbagai segmen pelanggan, mulai dari rumah tangga, industri, komersial, hingga usaha kecil dan menengah,” jelas Sugiyanto.

Saat ini terdapat 22.099 pelanggan PGN di Jawa Tengah yang mencakup sektor rumah tangga, industri dan komersial, serta usaha kecil dan menengah.

Jumlah tersebut tumbuh sekitar 25 persen pada periode 2024-2025. Pertumbuhan turut didukung keberadaan kawasan industri seperti Kawasan Industri Kendal, Kawasan Industri Wijayakusuma, Kawasan Industri Candi, Kawasan Industri Terpadu Batang dan Demak.

Baca juga:  SIG Raih Sertifikat Ekolabel Swadeklarasi dari KLHK

Pemanfaatan gas bumi telah mencakup sejumlah wilayah seperti Semarang, Kendal, Batang, Demak, Blora, Magelang dan Sleman.

Namun, ekspansi tidak hanya diarahkan kepada industri besar. PGN juga menyasar hotel, restoran, kafe, katering dan UMKM kuliner.

“Kami terus melakukan pendekatan dan sosialisasi kepada pelaku usaha, serta pemetaan potensi pelanggan untuk memahami kebutuhan energi masing-masing,” kata Sugiyanto.

Menurutnya, kontinuitas pasokan, kemudahan penggunaan, efisiensi biaya dan aspek keselamatan menjadi pertimbangan utama bagi usaha kuliner dalam memilih energi.

Dari sisi biaya, gas bumi berpotensi memberikan penghematan hingga sekitar 30 persen dibandingkan bahan bakar gas lainnya. Sementara dari sisi lingkungan, gas bumi menjadi pilihan energi yang lebih bersih dibandingkan sejumlah bahan bakar fosil lainnya.

“Selain lebih efisien, menggunakan gas alam jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar lainnya. Pasokan juga dapat digunakan 24 jam tanpa perlu khawatir kehabisan stok,” terang Sugiyanto.

Untuk lokasi yang jauh dari jaringan pipa, PGN menyediakan solusi beyond pipeline seperti GasLink atau CNG. Langkah ini menjadi alternatif karena pembangunan jaringan baru ke lokasi yang jauh dari pipa eksisting membutuhkan investasi besar.

PGN juga memiliki program gratis biaya pengaliran kembali bagi pelanggan rumah tangga maupun pelanggan kecil UMKM yang sebelumnya berhenti berlangganan. Program tersebut dapat dimanfaatkan hingga akhir 2026.

Bagi Portobello, pilihan menggunakan gas bumi akhirnya bukan hanya tentang mengganti LPG dengan sumber energi lain. Ada penghematan yang dirasakan, pekerjaan yang menjadi lebih praktis, pasokan yang lebih kontinu, pembayaran yang mudah serta pilihan energi yang lebih bersih.

Di balik satu piring pizza, stromboli atau nasi goreng yang tersaji, ada api yang bekerja sejak pagi. Api itu dijaga agar tetap menyala, bukan hanya untuk memasak, tetapi untuk memastikan dapur tetap produktif dan usaha terus berjalan.

Sebab menjaga api berarti menjaga lebih dari sekadar masakan. Ada pekerjaan, pelanggan, penghidupan dan harapan untuk membuat sebuah usaha terus tumbuh.(Aning Karindra)


TERKINI

Rekomendasi

...