JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – SUN memaparkan fase baru pengembangan bisnisnya sebagai mitra elektrifikasi industri dalam kegiatan Media Gathering bersama awak media di Semarang, Jumat (18/9/2026). Memasuki satu dekade perjalanan di industri energi bersih, SUN kini memperluas solusi dari energi surya menuju sistem elektrifikasi yang semakin terintegrasi.
Dalam kegiatan tersebut, SUN menyampaikan perkembangan perusahaan yang telah mengembangkan lebih dari 450 megawatt (MW) kapasitas energi surya melalui lebih dari 400 proyek yang mencakup lebih dari 40 sektor industri. Pengalaman tersebut menjadi fondasi bagi perusahaan untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya.
Chief Customer Relations & Marketing Officer SUN Oky Gunawan menjelaskan kebutuhan industri terhadap energi terus berkembang. Industri tidak hanya membutuhkan energi yang efisien, tetapi juga andal, rendah karbon, serta mampu mendukung daya saing operasional.
“Sepuluh tahun pertama SUN menunjukkan bahwa transisi energi dapat berjalan seiring dengan kebutuhan industri terhadap efisiensi, keandalan, dan daya saing. Memasuki dekade berikutnya, kami ingin membawa pengalaman tersebut lebih jauh melalui sistem elektrifikasi yang semakin terintegrasi, dari energi bersih hingga pemanfaatannya dalam aktivitas operasional pelanggan,” ujar Oky.
Sejak didirikan pada 2016, SUN berkembang seiring meningkatnya kebutuhan industri terhadap energi yang lebih efisien, rendah karbon, dan andal. Portofolio perusahaan kini mencakup proyek di Indonesia, Australia, Vietnam, dan Thailand, termasuk sektor pertambangan, semen, FMCG, logistik, kertas, kemasan, elektronik, komponen otomotif, dan farmasi.
Berdasarkan estimasi produksi energi bersih pada 2026, proyek-proyek SUN diperkirakan berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 244.549 ton CO₂ per tahun. Jumlah tersebut setara dengan penanaman sekitar 4,06 juta pohon.
Memasuki fase baru, SUN memperluas solusi dari pengembangan energi surya menuju sistem elektrifikasi terintegrasi. Solusi tersebut mencakup PLTS, sistem penyimpanan dan manajemen energi, kendaraan listrik, infrastruktur pengisian daya, serta sistem digital untuk mendukung pengelolaan energi dan armada.
Pengembangan tersebut diarahkan terutama pada sektor dengan kebutuhan energi dan aktivitas operasional tinggi, seperti pertambangan, perkebunan, logistik, manufaktur, kawasan industri, dan FMCG.
CEO SUN Mobility Karina Darmawan mengatakan elektrifikasi armada perlu dipandang sebagai bagian dari keseluruhan sistem operasional. Karena itu, kendaraan listrik perlu didukung infrastruktur pengisian daya, pembiayaan, pemeliharaan, serta sumber energi yang disiapkan secara terpadu.
“Elektrifikasi armada perlu dirancang sebagai bagian dari sistem operasional, bukan hanya melalui penggantian kendaraan. Infrastruktur pengisian daya, pembiayaan, pemeliharaan, dan sumber energi perlu dipersiapkan secara bersamaan agar transisi dapat berjalan efektif dan terukur,” ujar Karina.
Melalui produk Mobility, SUN menghadirkan solusi yang mencakup penyediaan kendaraan listrik, pembangunan infrastruktur pengisian daya, skema pembiayaan atau penyewaan, pemeliharaan kendaraan, serta pemantauan melalui Fleet Management System.
Salah satu studi kasus SUN pada distributor FMCG di Jabodetabek menunjukkan penggunaan truk listrik untuk rute sekitar 50 kilometer dengan jam operasional pukul 08.00–17.00 berpotensi menghemat biaya energi hingga 83,6 persen per perjalanan. Perhitungan tersebut juga menunjukkan potensi penurunan total biaya kepemilikan dan operasional sekitar 15 persen berdasarkan ketersediaan listrik jaringan dan pola operasional pelanggan.
Selain elektrifikasi industri, SUN juga memperkuat pengembangan proyek energi surya berskala lebih besar sebagai bagian dari agenda pertumbuhan jangka panjang. Indonesia memiliki potensi energi surya sekitar 3.200 GWp yang membuka ruang pengembangan PLTS untuk sektor komersial dan industri maupun proyek berskala besar.
Saat ini, SUN memiliki pipeline proyek energi surya lebih dari 40 MWp yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia dan masih berada dalam tahap pengembangan. SUN juga memperluas perannya sebagai Independent Power Producer (IPP) untuk mendukung pengembangan aset energi bersih jangka panjang.
Langkah tersebut diharapkan memperbesar kontribusi sektor swasta dalam penambahan kapasitas energi terbarukan nasional sekaligus mendukung visi pengembangan 100 GWp energi surya di Indonesia.
Ke depan, SUN akan memperkuat pengembangan aset energi bersih dan elektrifikasi untuk sektor-sektor strategis. Integrasi PLTS, penyimpanan energi, sistem manajemen energi, elektrifikasi armada, infrastruktur pengisian daya, serta sistem digital diarahkan untuk membantu pelanggan meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat ketahanan energi, dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Untuk mempercepat implementasi, SUN akan terus berkolaborasi dengan pemerintah, regulator, PLN, asosiasi industri, pengelola kawasan, lembaga pembiayaan, mitra teknologi, pemasok, dan EPC.
Dengan pengalaman satu dekade mengembangkan proyek energi bersih, SUN memasuki fase pertumbuhan berikutnya dengan memperkuat perannya sebagai mitra elektrifikasi bagi industri. Fase tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan mendukung peningkatan daya saing industri sekaligus percepatan transisi energi Indonesia.(aln)




