Telkom Raup Pendapatan Rp113,5 Triliun, Empat Segmen Bisnis Tumbuh


JATENGPOS.CO.ID,  JAKARTA – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk terus menunjukkan kinerja positif sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Hingga kuartal III, perusahaan telekomunikasi pelat merah tersebut membukukan pendapatan konsolidasi Rp113,5 triliun atau tumbuh 3,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut ditopang kontribusi empat segmen bisnis utama, dengan pendapatan Data, Internet & IT Services meningkat 8,3 persen secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp71,5 triliun. Dari sisi profitabilitas, EBITDA mencapai Rp55,5 triliun atau tumbuh 2 persen dengan margin 48,9 persen.

Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno mengatakan, perseroan terus menjalankan transformasi strategis TLKM 30 dengan fokus pada penguatan bisnis inti dan peningkatan fundamental perusahaan untuk jangka panjang.

“Transformasi yang kami jalankan berfokus pada pertumbuhan sekaligus penguatan fundamental bisnis untuk jangka panjang. Kami melihat konsumsi masyarakat terhadap layanan data terus meningkat seiring kebutuhan layanan digital yang semakin andal,” katanya.

Laba bersih Telkom pada periode tersebut tercatat Rp14,4 triliun dengan margin 12,7 persen. Sementara laba bersih normalisasi meningkat 3,9 persen secara tahunan menjadi Rp16,5 triliun dengan margin 14,6 persen.

Pada segmen B2C yang mencakup layanan mobile dan fixed broadband, Telkom membukukan pendapatan Rp81,6 triliun atau tumbuh 3,5 persen. Sementara Telkomsel mencatatkan pendapatan Rp82,9 triliun, meningkat 1,8 persen secara tahunan, terutama ditopang bisnis digital yang tumbuh 7,7 persen menjadi Rp60,7 triliun.

Peningkatan monetisasi layanan seluler juga tercermin dari rata-rata pendapatan per pelanggan atau Average Revenue Per User (ARPU) Telkomsel yang naik 7,1 persen menjadi Rp45.400. Sementara data yield meningkat 6,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, pendapatan IndiHome tercatat Rp19,1 triliun seiring penataan basis pelanggan. Meski demikian, sejumlah indikator mulai menunjukkan perbaikan secara kuartalan. Pada kuartal III 2026, jumlah pelanggan IndiHome meningkat 1,2 persen menjadi 9,63 juta, sedangkan ARPU naik 3,2 persen menjadi Rp217.700.

Baca juga:  Special HUT RI, 79 Bikers Honda PCX Jateng Touring 79KM

Pada segmen B2B Infrastructure, pendapatan tumbuh 5,5 persen secara tahunan menjadi Rp7,1 triliun. Pertumbuhan tersebut didukung layanan data center, konektivitas, serta penyewaan infrastruktur TelkomGroup.

Mitratel mencatatkan pendapatan bisnis menara telekomunikasi dan FTTT sebesar Rp7,01 triliun atau meningkat 1,8 persen. Perusahaan tersebut juga membukukan EBITDA Rp5,81 triliun dan laba bersih Rp1,55 triliun, dengan margin EBITDA 82,9 persen dan margin laba bersih 22,2 persen.

Sementara itu, NeutraDC mencatatkan pertumbuhan pendapatan 17 persen menjadi Rp1,39 triliun hingga September 2026. EBITDA meningkat 35 persen dengan margin 40,9 persen, didukung kontribusi data center di Singapura dan Cikarang serta meningkatnya kebutuhan komputasi berbasis kecerdasan buatan (AI).

Ke depan, NeutraDC menargetkan pengembangan kapasitas data center hingga 400 megawatt (MW), dengan aspirasi mencapai 1 gigawatt (GW). Pengembangan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan pasar terhadap layanan pusat data.

Pada segmen B2B ICT, pendapatan mencapai Rp11,2 triliun atau meningkat 3,1 persen secara tahunan. Segmen usaha kecil dan menengah (SME) menjadi salah satu pendorong utama dengan pendapatan tumbuh 10,2 persen menjadi Rp3,3 triliun.

Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan pelanggan Indibiz sebesar 10,9 persen menjadi 771,1 ribu pelanggan. Sementara bisnis konektivitas High-Speed Internet (HSI) Telkom Solution tumbuh 6,2 persen.

Segmen International juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan 5,8 persen menjadi Rp8,9 triliun. Kinerja tersebut terutama didorong pendapatan jaringan yang meningkat 50,2 persen menjadi Rp1,37 triliun seiring penguatan konektivitas internasional bagi global hyperscalers dan global carriers.

Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno menuturkan, pengembangan konektivitas internasional menjadi bagian dari upaya memperkuat infrastruktur digital Indonesia agar memiliki peran strategis dalam ekosistem global.

“Pertumbuhan bisnis konektivitas internasional, termasuk pengembangan jaringan kabel laut dan hub Batam, menjadi bagian dari upaya TelkomGroup memperkuat infrastruktur digital Indonesia. Kami ingin memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga memiliki peran strategis dalam ekosistem konektivitas regional dan global,” ungkapnya.

Di tengah penguatan kinerja bisnis, Telkom juga melanjutkan transformasi melalui inisiatif strategis TLKM 30 yang mencakup empat pilar, yakni Operational & Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus-operandi Shift.

Baca juga:  Pertamina Perluas Pendataan QR Code Pertalite di Jateng dan DIY

Transformasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat kualitas layanan, menata portofolio bisnis, serta mengoptimalkan nilai aset melalui monetisasi dan kemitraan strategis.

Hingga kuartal III 2026, Telkom telah merampungkan penataan 14 entitas yang terdiri atas divestasi tiga entitas, penutupan sembilan entitas, serta penggabungan dua entitas. Sementara realisasi belanja modal atau capital expenditure (capex) mencapai Rp15,7 triliun dengan rasio capex terhadap pendapatan sebesar 13,8 persen.

Sebanyak 94,3 persen belanja modal dialokasikan untuk segmen B2C dan B2B Infrastructure guna memperkuat serta memperluas kapabilitas konektivitas digital.

Nanang mengatakan, penataan portofolio menjadi salah satu prioritas transformasi perusahaan tahun ini. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat fokus bisnis dan meningkatkan efektivitas organisasi TelkomGroup.

“Melalui TLKM 30, kami terus menjalankan transformasi di seluruh lini bisnis TelkomGroup, dengan streamlining sebagai prioritas utama tahun ini. Penataan portofolio dan penyelarasan peran antarentitas menjadi langkah penting untuk membawa TelkomGroup menjadi organisasi yang lebih lean, simple, dan agile,” jelasnya.

Salah satu tonggak penting transformasi tersebut adalah rampungnya pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia pada 30 September 2026. Melalui langkah ini, lebih dari 90 persen aset jaringan TelkomGroup dikonsolidasikan ke InfraNexia untuk dikembangkan melalui model bisnis carrier-neutral dan open-access.

Model tersebut memungkinkan pemanfaatan infrastruktur secara lebih optimal sekaligus membuka peluang komersialisasi dan kemitraan strategis. Telkom optimistis langkah transformasi dan penguatan bisnis inti dapat mendukung kinerja perusahaan hingga akhir 2026.

“Kami optimistis dapat menutup tahun 2026 dengan kinerja yang semakin solid dan prima. TelkomGroup akan terus meningkatkan kualitas layanan dan menghadirkan customer experience terbaik agar setiap inovasi dan kapabilitas yang kami kembangkan memberikan manfaat maksimal bagi pelanggan dan masyarakat,” tandasnya.(aln)


TERKINI

Rekomendasi

...