25 C
Semarang
Minggu, 15 Maret 2026

Ciswak Kelenteng Sri Kukus Redjo Ungaran, Potong Rambut dan Lepas 800 Burung


JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN– Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2576 Kongzili pada tanggal 29 Januari, masyarakat Tionghoa di Jawa Tengah (Jateng) mulai mempersiapkan diri dengan mengikuti ritual ciswak atau upacara tolak bala. Salah satunya digelar di Kelenteng Sri Kukus Redjo Ungaran, Kabupaten Semarang, Minggu (19/1/2025).

Ritual Ciswak digelar di kelenteng yang dikenal sebutan Kelenteng Gunung Kalong itu merupakan kegiatan tahunan menjelang Tahun Baru Imlek. Dalam tradisi ini diadakan untuk membersihkan dan mendatangkan keberkahan diikuti peserta dari berbagai daerah di Jateng dan luar daerah.

Ketua Yayasan TITD Sri Kukus Redjo Gunung Kalong, Tjoa Lie Lie mengatakan, tujuan Ciswak untuk memohon perlindungan kepada Tuhan serta para Buddha dan Dewa-Dewi agar terhindar dari segala kesialan dan hambatan di Tahun Ular Kayu 2576.

“Ada beberapa shio yang masuk jiong besar dan jiong kecil di Tahun Ular akan datang. Jiong Besar diantaranya shio Ular, Babi, Macan dan Monyet, sedangkan jiong kecil shio Kerbau, Ayam dan Kelinci,” ujarnya seusai ritual, Minggu (19/1/2025).
.
Dijelas Lie Lie, beberapa shio yang dianggap jiong tersebut tidak selaras dengan shio tahun akan datang, karena itu mereka yang bershio jiong mengukuti Ciswak untuk membersihkan kesialan dan hambatan.

Baca juga:  Antisipasi Banjir, TNI-Polri Sukoharjo Bersihkan Sungai Bladon

“Meski demikian sebaiknya semua menjalani ritual Ciswak di awal tahun agar mendapatkan keberkahan dan perlindungan,” jelasnya.

Banthe melakukan penyiraman air bunga sebagai wujud pembersihan diri dalam prosesi Ciswak di Kelenteng Sri Kukus Redjo Ungaran, Minggu (19/1/2025). FOTO: MUIZ/JATENGPOS

Rangkaian prosesi ritual diikuti umat, disebutkan Lie Lie diawali menggelar doa bersama di altar kelenteng dipimpin Banthe, dilanjutkan melepas burung seusai jumlah peserta Ciswak, dan diakhiri potong rambut dan siraman air bunga.

“Jumlah burung yang kita lepas sebanyak 800 ekor lebih. Masing-masing peserta mendapatkan sepasang burung untuk dilepas, dari jumlah peserta semuanya sebanyak 400 orang lebih,” ungkapnya.

Pelepasan burung menurut Lie Lie bermakna melepas keburukan dalam hidup. Selain tentu memberi kehidupan bagi sesama makhluk hidup. Burung-burung yang dilepas agar dapat hidup damai di alam bebas.

Baca juga:  Petugas LP Semarang Gagalkan Penyelundupan Pil Koplo Bercampur Makanan

“Saat melepaskan semua berdoa agar kebaikan selalu menyertai kita sepanjang tahun mendatang. Semoga keberuntungan dan keselamatan turut menyertai kita semua,” tambahnya.

Sedangkan siraman air kembang dimaknai ritual membersihkan semua yang menempel pada tubuh, membersihkan dari cela dan keburukan agar menjalani tahun akan datang lancar dan tentram.

“Ritual siraman air kembang selain itu merupakan bentuk penghormatan terhadap leluhur kita sebagai bentuk kesadaran akan kearifan lokal,” pungkasnya didampingi pengurus kelenteng Suci Suryani dan Dedi.

Pantauan di lokasi ritual tepatnya di depan panggung kelenteng, seusai doa bersama dan melepas burung, peserta satu per satu dipotong ujung rambutnya, kemudian kepala masing-masing disiram air bunga oleh Banthe. (muz)



TERKINI


Rekomendasi

...