JATENGPOS.CO.ID, MAGELANG – Workshop Jurnalistik Filantropi yang digelar di Kota Magelang, Sabtu (25/4/2026), menegaskan pentingnya peran media dalam membangun kepedulian sosial dan memperkuat solidaritas publik. Di tengah arus informasi yang kian cepat dan cenderung mengejar viralitas, jurnalisme dinilai tidak cukup hanya menyampaikan fakta, tetapi juga perlu menghadirkan perspektif kemanusiaan yang mampu menggugah empati masyarakat.
Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Wibowo Prasetyo, yang hadir sebagai narasumber menegaskan bahwa jurnalistik filantropi bukanlah jurnalisme yang meninggalkan kaidah profesi, melainkan jurnalisme yang tetap berpijak pada akurasi, verifikasi, dan etika, tetapi lebih peka terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
“Jurnalistik filantropi adalah cara media menghadirkan fakta sosial dengan hati nurani, tanpa kehilangan disiplin jurnalistik. Berita tidak hanya dibaca, tetapi juga diharapkan mampu membangkitkan solidaritas,” ujar Anggota Komisi VIII DPR RI, di Kota Magelang, Sabtu (25/4/2026).
Wibowo yang mantan jurnalis ini menjelaskan, media memiliki posisi strategis untuk menjembatani kebutuhan masyarakat dengan kepedulian publik. Karena itu, lanjutnya, pemberitaan tentang isu sosial harus disusun dengan perspektif yang manusiawi, tidak mengeksploitasi penderitaan, dan tetap menjaga martabat narasumber.
“Dalam konteks itu, jurnalis dituntut tidak sekadar memburu sensasi, tetapi mampu menghadirkan informasi yang memberi harapan dan mendorong tindakan nyata,” jelas politisi dari Dapil Jawa Tengah VI ini.
Dalam forum yang digelar di masa reses DPR RI tersebut, NU Online juga dinilai menjadi salah satu contoh media yang tidak hanya memproduksi berita, tetapi ikut menggerakkan semangat jurnalistik filantropi. Melalui pemberitaan isu-isu sosial, kebencanaan, pendidikan, pelayanan umat, hingga kanal digital yang terhubung dengan gerakan filantropi warga Nahdlatul Ulama, NU Online memperlihatkan bahwa media dapat berperan lebih jauh sebagai penghubung antara kebutuhan masyarakat dan kepedulian publik.
Kehadiran NU Online mempertegas bahwa media berbasis komunitas dan nilai keagamaan memiliki kekuatan besar dalam menumbuhkan solidaritas sosial. Di tengah banjir informasi digital, NU Online dinilai mampu menunjukkan bahwa kerja jurnalistik dapat tetap profesional, akurat, dan beretika, sekaligus memberi ruang bagi tumbuhnya kepedulian, partisipasi, dan gerakan kemanusiaan yang nyata.
Menurut Wibowo, tantangan terbesar jurnalistik filantropi di era digital adalah derasnya arus informasi yang sering kali hanya mengejar kecepatan dan viralitas. “Di sinilah jurnalis perlu hadir, bukan hanya sebagai pemburu fakta, tetapi juga sebagai penjaga nurani publik,” katanya di hadapan puluhan peserta se-Kedu Raya.
Ia menambahkan, media harus mampu menyuarakan persoalan masyarakat secara jernih sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya partisipasi sosial. Menurutnya, jurnalisme yang berpihak pada kemanusiaan akan lebih relevan bila mampu menjaga integritas sekaligus menghadirkan manfaat sosial yang dirasakan masyarakat luas.
Para peserta menyambut positif materi tersebut karena dinilai relevan dengan situasi media saat ini. Mereka berharap pelatihan seperti ini dapat melahirkan jurnalis-jurnalis muda yang tidak hanya terampil menulis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang kuat.
Selain Wibowo, hadir sebagai narasumber Pemimpin Redaksi NU Online Ivan Aulia Ahsan, Direktur Utama NU Online Hamzah Sahal, Ketua PWI Jawa Tengah Ahmad Mundzir, Direktur NU Online Institute Setiawan Hendra Kelana, serta Kabiro NU Online Jateng Lukman Hakim.















