JATENGPOS.CO.ID, SALATIGA – Ada yang menarik dari prosesi jamasan pusaka yang digelar oleh Salatiga Keris Ageman Lestari ( Sakral) di Museum Salatiga Prasasti Plumpungan, Kamis ( 2/7/2026) . Di acara kirab sebelum jamasan ada nampan beralaskan janur kuning yang di atasnya ada beberapa batang besi bekas pembakaran.
Namun besi tersebut bukan besi sembarangan, melainkan besi pilihan untuk cikal bakal yang akan dibabar menjadi pusaka resmi Kota Salatiga. Besi yang digunakan adalah besi tua era Belanda dan nantinya dalam pembabaran keris dan tombak pusaka tersebut akan diselipkan emas sebagai pelengkap energy yang memiliki makna untuk ketentraman dan menyejukkan masyarakat Salatiga.
Sedangkan wujud kedua pusaka nantinya berupa sebilah keris dan tombak.
Menurut Empu Ridwan yang akan membabar keris pusaka tersebut, untuk tombak bentuk atau dhapurnya berupa Karno Tinanding dan sebilah keris luk 7 Balebang, keduanya berpamor wengkon yang melambangkan permohonan perlindungan dan keselamatan kepada Tuhan YME.
Dikatakan Empu Ridwan, dhapur Karno Tinanding memiliki makna filosofis bahwa seorang pemimpin harus menyerap aspirasi rakyatnya dari berbagai sisi ,sebagai bahan untuk mengambil kebijakan yang bijaksana dan dapat diterima oleh semua pihak.” Sedangkan dhapur Balebang memiliki makna seorang pemimpin harus punya upaya spiritual, yaitu mendekatkan diri kepda Tuhan YME supaya diberi petunjuk dalam kepemimpinannya,” ujar empu muda dari Tuntang kepada Jateng Pos, Jumat ( 3/7/2026).

Sementara itu, pembina Sakral Hartoko Budhiono,SE mengatakan, saat jamasan kemarin merupakan wiwitan atau awal proses untuk membabar pusaka Kota Salatiga yang beruwujud tombak dan keris. Nantinya bakalan pusaka tersebut akan ikut dikirab dan diperkanalkan saat prosesi Hari Jadi Salatiga tanggal 24 Juli mendatang. “ Kami akan menampilkan prototype bakal calon pusaka Salatiga yang akan dibikin yaitu tombak, keris dan payung berikut kita jelaskan nilai-nilai filosofisnya,” ujar Hartoko yang juga anggota DPRD Salatiga ini.
Dikatakan Hartoko, pihaknya akan melibatkan komponen masyarakat lainnya untuk berpartisipasi dalam pembabaran pusaka ini, yaitu di tanggal 21 Agustus, saat acara pameran keris Salatiga yang diadakan Sakral, akan mengundang perwakilan masyarakat Salatiga untuk ikut menempa bakal calon keris dan tombak pusaka tersebut yang rencananya akan ditempa secara beramai-ramai di halaman gedung DPRD Salatiga di Jalan Sukowati. “ Selanjutnya, Insya Allah tanggal 10 November di momen Hari Pahlawan, pusaka resmi kota yang berupa keris, tombak dan payung tersebut sudah jadi. Kemudian untuk pengelolaan dan perawatan diserahkan kepada pemerintah kota, karena ini pusaka resmi pemerintah kota,” tandas Hartoko yang juga pecinta sepak bola ini. Ia juga meminta doa restu dari masyarakat Salatiga untuk ikut mendukung agar cita-cita ini bisa terlaksana dan berjalan dengan lancar serta bermanfaat bagi Kota Salatiga. ” Keberadaan pusaka resmi Kota Salatiga ini juga sebagai bentuk identitas diri, Salatiga sebagai kota budaya, kota bersejarah dan juga kota pusaka,” imbuhnya.
Dikatakan Hartoko, rencananya pusaka kota ini akan diajukan untuk di-Perda-kan, sehingga ada proses yang harus dilalui dan butuh masukan semua tokoh di Salatiga, karena jangan sampai ada yang tidak pas atau tidak tepat. “ Untuk buat Perda memang lama, setahunan bisa lebih, karena harus mendengarkan masukan masyarakat dengan menggelar forum grub discussion, dengar pendapat, kajian akademisi, buat naskah akademik terlebih dahulu, kita share ke masyarakat, rencananya memang seperti itu,” pungkasnya. (deb)





