Wibowo Prasetyo Dorong Guru Madrasah Bangun Personal Branding lewat Karya Nyata


JATENGPOS.CO.ID,   WONOSOBO – Personal branding di era digital bagi guru madrasah bukan sekadar membangun popularitas di media sosial, melainkan upaya memperkuat reputasi profesional melalui kreativitas, karya nyata, dan keteladanan.

“Di era digital, guru punya peluang lebih luas untuk memperkenalkan karya dan membagikan pengetahuan kepada masyarakat,” kata Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Wibowo Prasetyo dalam Seminar Membangun Personal Branding di Era Digital bagi Guru Madrasah yang digelar di Wonosobo, Jumat (23/10/2026).

Seminar yang diikuti lebih dari 250 guru madrasah se-Kabupaten Wonosobo tersebut diselenggarakan atas kerja sama Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.

Selain Wibowo, seminar menghadirkan Wakil Dekan I FKSP Dr. Hj. Siti Robiah Adawiyah sebagai narasumber. Hadir pula Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang Dr. Ahmad Munthohar, Wakil Dekan III Dr. Karnadi, beserta jajaran.

Wibowo menjelaskan, personal branding guru harus tumbuh dari kualitas pekerjaan dan kontribusi nyata dalam pendidikan, bukan sekadar pencitraan di ruang digital.

“Guru nggak mesti selebritas TikTok atau memiliki ribuan pengikut. Reputasi seorang guru justru dibangun dari kualitas pengajaran, karya, dan manfaat yang diberikan kepada murid maupun masyarakat,” ujar Wibowo, legislator dari Dapil Jawa Tengah tersebut.

Baca juga:  Komplotan Pecah Kaca Mobil Gondol Uang 100 Juta Dibekuk Tim Resmob Polda Jateng

Menurutnya, media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube dapat menjadi sarana bagi guru untuk memperluas jangkauan pembelajaran. Melalui konten edukatif, pengalaman mengajar, maupun inovasi pembelajaran, pengetahuan seorang guru tidak lagi terbatas pada ruang kelas.

“Personal branding bukan soal banyaknya viewer atau yang menonton, tapi seberapa banyak orang mendapatkan manfaat. Jangan sampai guru sibuk buat konten, tapi kualitas pembelajarannya justru dinomorduakan” tegasnya.

Wibowo mengungkapkan, berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2026, jumlah pengguna internet Indonesia mencapai sekitar 235,26 juta orang atau 81,72 persen dari populasi. Angka tersebut menunjukkan ruang digital telah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat, termasuk peserta didik.

Karena itu, guru madrasah perlu memanfaatkan internet untuk memperbarui pengetahuan, mengembangkan kreativitas pembelajaran, membangun jejaring profesional, sekaligus memperkuat citra positif pendidikan madrasah.

Sementara, Dr. Hj. Siti Robiah Adawiyah menjelaskan, personal branding guru harus dibangun secara otentik, kredibel, dan konsisten. Guru perlu mengenali keunggulan dan karakter profesionalnya sebelum menentukan bagaimana dirinya ingin dikenal di ruang digital.

“Personal branding harus mencerminkan kemampuan dan nilai yang benar-benar dimiliki guru. Media sosial dapat menjadi ruang untuk menunjukkan karya, membagikan praktik baik pembelajaran, serta menyebarkan nilai-nilai pendidikan dan keislaman,” jelasnya.

Baca juga:  Wajib Pajak Perlu Tahu Apa Itu PPS

Siti Robiah menjelaskan sejumlah strategi, mulai dari membangun profil digital yang profesional, memilih platform media sosial, hingga membuat konten edukatif secara konsisten.

Ia mendorong guru membuat video pembelajaran singkat, infografis, serta materi ajar digital. Namun, aktivitas tersebut harus tetap memperhatikan etika, perlindungan data peserta didik, validitas informasi, dan jejak digital.

“Reputasi digital yang baik tidak dibangun dalam sehari. Dibutuhkan konsistensi, integritas, dan tanggung jawab agar kehadiran guru di media sosial benar-benar memberikan manfaat,” tambahnya.

Selain personal branding, seminar juga membahas pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) untuk mendukung profesionalisme guru. AI, kata Wibowo, dapat membantu menyusun rancangan pembelajaran, membuat variasi soal, hingga mempermudah pekerjaan administrasi.

“Membuat soal bisa pakai AI, tapi guru juga harus paham jawabannya dan menguasai pelajarannya. Intinya, teknologi harus memperkuat kemampuan guru, bukan menggantikan,” katanya.

Wibowo juga menekankan pentingnya dukungan Kementerian Agama terhadap transformasi digital madrasah, terutama melalui pelatihan teknologi yang aplikatif, pemerataan fasilitas internet, serta peningkatan kualitas, dan kesejahteraan guru.

Menurutnya, profesionalisme guru di era digital membutuhkan keseimbangan antara penguasaan teknologi, kualitas pembelajaran, dan pembentukan karakter peserta didik.



TERKINI

Rekomendasi

...