Tim Pengabdian Grup Riset Ekonomi dan Pembangunan Pedesaan UNS Dampingi KWT Mustika Sari Tingkatkan Produktivitas Kopi Temanggung


JATENGPOS. CO ID, TEMANGGUNG – Kabupaten Temanggung dikenal sebagai salah satu sentra produksi kopi terbesar di Jawa Tengah. Namun, di balik besarnya potensi tersebut, produktivitas kebun kopi rakyat masih belum optimal.

Produktivitas kopi rakyat saat ini masih berada pada kisaran 0,72 ton per hektar, jauh di bawah potensi ideal yang dapat mencapai 1,5–2 ton per hektar.

Rendahnya kepadatan tanaman, keterbatasan akses terhadap bibit unggul, serta minimnya pemahaman mengenai pengelolaan usaha tani menjadi tantangan yang masih dihadapi petani dalam meningkatkan produktivitas dan pendapatan.


Berangkat dari kondisi tersebut,Tim Pengabdian kepada Masyarakat Grup Riset Ekonomi dan Pembangunan Pedesaan (Tim PKM RG EPP), Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) yang diketuai oleh Dr. Umi Barokah, S.P., M.P. melaksanakan pelatihan dan pendampingan bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Mustika Sari di Kabupaten Temanggung.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Hibah Grup Riset (PKM-HGR) UNS Tahun 2026, yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas petani melalui pelatihan analisis finansial usahatani kopi serta teknologi perbanyakan kopi robusta menggunakan metode stek berakar.

Program pengabdian tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Tim juga melakukan pendampingan, monitoring, dan evaluasi secara berkala untuk memastikan pengetahuan yang diberikan dapat diterapkan oleh peserta dan memberikan dampak nyata terhadap pengembangan usahatani kopi.

Dalam sesi pelatihan, Dr. Umi Barokah, S.P., M.P. menjelaskan pentingnya pengelolaan usahatani berbasis analisis finansial. Peserta diperkenalkan dengan cara menghitung biaya produksi, penerimaan, keuntungan, hingga indikator kelayakan investasi seperti Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Net Present Value (NPV), dan Internal Rate of Return (IRR).

” Usahatani kopi memiliki prospek ekonomi yang sangat baik apabila dikelola secara efisien. Petani perlu memahami struktur biaya, terutama tenaga kerja dan pupuk, sehingga keuntungan yang diperoleh dapat semakin optimal,” ujar Dr. Umi Barokah, S.P., M.P.

Baca juga:  Semangat, Keseruan, dan Antusiasme Purwokerto Half Marathon 2026

Selain aspek ekonomi, peserta juga memperoleh pelatihan mengenai teknik perbanyakan kopi robusta menggunakan metode stek berakar yang disampaikan oleh Aan Nawawi, S.P. Staf Teknis Kebun Benih DKPPP Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mempraktikkan secara langsung seluruh tahapan pembibitan, mulai dari pemilihan pohon induk unggul berumur 3–5 tahun, pengambilan cabang ortotrop, pemberian hormon perakaran, hingga teknik penanaman dan pemeliharaan bibit di persemaian.

” Bibit unggul merupakan fondasi utama kebun kopi yang produktif dan berdaya saing. Semua dimulai dari proses pembibitan yang benar,” jelasnya.

Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap keberlanjutan program, Tim PKM RG EPP UNS juga menyerahkan lebih dari 1.000 entres kopi robusta unggul sebagai bahan perbanyakan kepada KWT Mustika Sari.

Selain itu, tim melengkapi sarana pembibitan dengan berbagai peralatan, antara lain sungkup UV, paranet, gunting pangkas, hormon pertumbuhan, media tanam, dan polybag. Bantuan tersebut diharapkan mampu mendukung peserta untuk mempraktikkan teknik stek berakar secara mandiri sekaligus mengembangkan unit pembibitan kopi yang berkelanjutan di tingkat kelompok.

Hasil monitoring menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Lebih dari 70 persen bibit berhasil tumbuh dalam kondisi sehat, bahkan telah melampaui indikator keberhasilan program. Capaian tersebut menunjukkan bahwa peserta mampu menerapkan teknik pembibitan yang telah diberikan selama pelatihan.

Keberhasilan awal tersebut mendapat apresiasi dari Prihandayani Sumarwati, S.ST.
Koordinator BPP di Kecamatan Tembarak, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Menurutnya, pendampingan yang dilakukan oleh Tim Pengabdian RG Ekonomi dan Pembangunan Pedesaan UNS memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kapasitas Kelompok Wanita Tani, tidak hanya dari sisi teknis budidaya, tetapi juga dalam membangun peluang usaha yang berkelanjutan.

Baca juga:  Harus Waspada, Stunting dan TBC Wonosobo Masih Tinggi 

Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari anggota KWT Mustika Sari. Selama sesi diskusi, peserta aktif menyampaikan berbagai tantangan yang mereka hadapi, mulai dari serangan hama, keterbatasan modal usaha, hingga sulitnya memperoleh bibit kopi unggul.

Hasil evaluasi menunjukkan seluruh peserta menyatakan bahwa pelatihan memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka.

Ketua KWT Mustika Sari, Fitrotul Umri, berharap pendampingan dapat terus berlanjut, terutama dalam proses sertifikasi bibit.
” Kegiatan ini sangat bermanfaat. Saya menjadi lebih memahami cara pembibitan dan penanaman yang benar. Harapannya, ke depan kami juga memperoleh pendampingan dalam proses sertifikasi bibit agar usaha pembibitan ini dapat berkembang lebih baik,” tuturnya.

Program pengabdian ini turut berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan ini mendukung SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) melalui peningkatan peluang pendapatan petani, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui transfer pengetahuan dan teknologi, SDG 5 (Kesetaraan Gender) dengan memperkuat peran Kelompok Wanita Tani sebagai pelaku pembangunan ekonomi desa, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan produktivitas dan daya saing komoditas kopi, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui penerapan praktik budidaya yang lebih efisien dan berkelanjutan, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, penyuluh pertanian, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Melalui pendampingan yang berkelanjutan, Tim PKM RG EPP UNS berharap KWT Mustika Sari mampu menjadi pelopor pengembangan pembibitan kopi unggul di Kabupaten Temanggung. Sinergi antara akademisi, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan kelompok tani diharapkan dapat memperkuat ekosistem perkopian daerah, meningkatkan produktivitas, serta mendorong kesejahteraan petani melalui pengelolaan usahatani yang lebih efisien dan berdaya saing.(dea/bis/jan)


TERKINI

Rekomendasi

...