JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Kapan harus minum obat tepat waktu dan berobat rutin kini tidak lagi cuma mengandalkan ingatan pasien. Di UPT Puskesmas Balai Riam, Sukamara, Kalimantan Tengah, ada SOBAT PDKT (Sahabat Minum Obat dengan Pendekatan Keluarga Tanpa Diskriminasi) yang setiap hari mengingatkan pasien.
Sebuah inovasi yang bisa diaplikasi luas tercipta dari hasil tugas akhir Karya Kinerja perawat Puskesmas setempat, Yulia, yang sedang menempuh S1 Keperawatan jalur RPL di Universitas Ngudi Waluyo (UNW) Ungaran.
Inovasi ini sebagai strategi pemantauan minum obat Antiretroviral (ARV) berbasis keluarga, sebagai upaya meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan melalui dukungan keluarga dan lingkungan terdekat.
Dalam proses pengobatan, khususnya pada klien yang membutuhkan terapi jangka panjang, klien tidak hanya membutuhkan obat, tetapi juga pendampingan, motivasi, pengingat, dan dukungan psikososial agar mau minum obat rutin dalam jangka waktu yang panjang.
Untuk mendapatkan hasil PMO (Pengawas Minum Obat), dibagikan kepada kader (Keluarga serumah) google Form yang akan di isi melalui handpone android setiap klien selesai minum obat.
Selama proses penyelesaian tugas akhir Karya Kinerja, Yulia mendapatkan bimbingan intensif dari pembimbing utama Dr. Gipta Galih Widodo, S.Kp., M.Kep.,Sp.KMB dalam penyusunan Karya Kinerja keperawatan ini.
Hasilnya, inovasi SOBAT PDKT terbukti efektif dalam pemantauan terapi ARV. Petugas tidak perlu menunggu pasien datang ke Puskesmas untuk tahu kepatuhannya.
“Petugas dapat memperoleh informasi mengenai kepatuhan pasien secara lebih cepat melalui data yang dikirimkan secara digital tanpa harus menunggu kunjungan pasien ke Puskesmas. Hal ini membantu petugas dalam melakukan deteksi dini apabila ditemukan masalah dalam terapi, seperti keterlambatan minum obat, keluhan efek samping, maupun kendala lain yang dapat memengaruhi keberhasilan pengobatan,” ujar Yulia kepada Jateng Pos, kemarin..
Inovasi ini dapat diterapkan dengan biaya yang relatif rendah, mudah digunakan, serta tidak membutuhkan aplikasi khusus karena memanfaatkan Google Form yang sudah tersedia. Data pemantauan tersimpan dalam bentuk digital sehingga lebih mudah dikelola, dianalisis, dan digunakan sebagai bahan evaluasi program secara berkelanjutan. Penggunaan sistem digital juga membantu mengurangi penggunaan dokumen berbasis kertas sehingga mendukung efisiensi pelayanan.
Yulia menyatakan bahwa ia sangat bersyukur sekali bisa melanjutkan studi di Prodi S1 Keperawatan UNW yang telah terakreditasi Unggul dan mendapatkan pendampingan yang sangat baik selama studi dan khususnya saat menyelesaikan tugas akhir.
Dengan SOBAT PDKT, Yulia membuktikan inovasi tidak harus mahal, cukup dengan HP, Google Form, dan tangan keluarga yang mau mengingatkan. Karena pada akhirnya, sembuh bukan hanya soal obat, tapi juga soal ada yang menemani minum obat itu setiap hari. (ril/muz)






