JATENGPOS.CO.ID, MILAN – Timnas Italia menuntaskan rangkaian laga di Grup I Kualifikasi Piala Dunia zona Eropa, Senin (17-11-2025) dini hari WIB, tetapi perjalanan mereka sepanjang 2025 jauh dari kata mulus.
Perubahan besar sempat terjadi di tubuh Azzurri setelah kekalahan telak dari Norwegia yang diperkuat Erling Haaland, hasil yang membuat Luciano Spalletti digantikan Gennaro Gattuso sebagai pelatih kepala.
Beban menuju putaran final tahun depan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pun makin berat. Dua kegagalan mengejutkan pada edisi 2018 dan 2022 masih segar di ingatan, meski di antara periode itu, Italia sukses menjuarai Piala Eropa.
Bagi satu di antara negara tersukses dalam sejarah Piala Dunia, absen dari turnamen berformat 48 tim ini akan menjadi aib besar. Berikut ini ulasan posisi Italia dalam perebutan tiket ke Piala Dunia 2026.
Hingga berakhirnya Kualifikasi Pildun 2026 zona Eropa, Timnas Italia belum berhasil mengamankan tiket ke putaran final.
Kekalahan 1-4 dari Norwegia di San Siro pada laga terakhir, Senin (17/11/2025) dini hari WIB, memaksa mereka finis sebagai runner-up Grup I, tertinggal enam poin dari skuad Stale Solbakken yang menyapu bersih delapan pertandingan.
Situasi itu membuat jalan Italia hanya tersisa melalui babak play-off UEFA. Timnas Italia akan kembali berlaga pada babak play-off pada Maret 2026. Lawan yang akan dihadapi baru ditentukan setelah undian pada 20 November 2025, dengan dengan Italia sebagai unggulan teratas.
Italia akan memiliki keuntungan kandang untuk semifinal play-off pada 26 Maret, laga dikabarkan akan dimainkan di New Balance Arena, Bergamo. Jika menang, Nazionale kemudian akan menghadapi undian lagi untuk menentukan apakah final dimainkan di kandang atau tandang pada 31 Maret.
Timnas Italia telah meraih empat gelar Piala Dunia (1934, 1938, 1982, dan 2006), hanya kalah dari Brasil yang mengoleksi lima trofi. Sepanjang sejarah turnamen, Azzurri tampil di 18 dari 22 edisi.
Mereka tidak berpartisipasi pada edisi perdana 1930, dan gagal lolos pada 1954, 2018, serta 2022. Pelatih Timnas Italia, Gennaro Gattuso, secara terbuka mengakui kegelisahannya usai Gli Azzurri runtuh di hadapan publik sendiri.
Menurutnya, ia lebih memilih menerima “pelajaran sepak bola dari awal sampai akhir” ketimbang melihat timnya ambruk seperti itu. “Ini mengkhawatirkan, saya akan munafik jika bilang sebaliknya,” ujar Gattuso.
Di atas kertas, peluang Italia merebut posisi puncak Grup I nyaris mustahil. Mereka membutuhkan kemenangan sembilan gol untuk menyalip selisih gol besar yang dimiliki Norwegia.
Namun, ambisi membalas kekalahan 0-3 pada Juni lalu dan menjaga tren positif menuju play-off tetap menjadi motivasi utama.
Harapan itu pupus saat keunggulan cepat Francesco Pio Esposito justru berbalik menjadi kekalahan 1-4 di San Siro, kekalahan pertama sejak Gattuso mengambil alih kursi pelatih.
Dalam konferensi pers seusai laga, pertanyaan pertama yang muncul adalah alasan Norwegia terlihat “dua kali lebih cepat” pada babak kedua.
“Saya tidak merasa ini persoalan fisik karena setelah jeda, dalam 30 detik saja kami sudah memberi mereka peluang, lalu kami mundur dan mereka mulai mengambil alih,” ucap Gattuso.
“Setelah itu, cara berlari jadi berbeda. Kami justru bermain sesuai kekuatan mereka dan itu menyulitkan kami. Ini bukan masalah kebugaran,” sambungnya.
Gattuso menilai keruntuhan mental setelah tampil sangat baik di babak pertama jauh lebih memprihatinkan.
“Bahkan saat membangun serangan dari belakang, semuanya berubah. Davide Frattesi tidak lagi melebar. Kami berhenti melakukan gerakan yang semestinya. Itu yang paling saya sesali.”
“Kami meminta maaf kepada para suporter dan mengambil tanggung jawab. Ini pertandingan yang sangat penting bagi saya. Lawan kami kuat dan kemenangan bisa membangun mentalitas untuk melangkah ke tahap berikutnya. Kami gagal. Kami tidak boleh runtuh dan dipermalukan seperti ini hanya karena menghadapi kesulitan yang pertama kali muncul,” tutur pelatih berusia 47 tahun itu.
Gattuso tidak menutupi bahwa kondisi ini menambah ancaman Italia gagal tampil di Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.
“Ini mengkhawatirkan, saya akan munafik jika bilang sebaliknya. Sekarang kami tidak akan bertemu lagi selama tiga bulan, dan jelas hari ini kami mendapat pelajaran,” katanya.
“Pertandingan seperti ini tidak boleh berakhir 1-4. Ada pemain lawan yang bisa membalikkan keadaan dalam lima menit. Gol ketiga itu yang paling membuat saya kesal. Namun, kami harus melihat ke depan. Kami tidak mungkin mencegah semua tembakan tepat sasaran, tetapi kami harus bisa merespons dengan baik ketika itu terjadi, bukan seperti hari ini,” imbuhnya.
Rencana menggelar pemusatan latihan singkat di Coverciano pada Februari sempat dikaitkan dengan persiapan play-off. Namun. Gattuso pesimistis hal itu bisa terlaksana. “Semua orang tahu tanggal yang tersedia hanya 2–3 Februari atau 9–10 Februari, tapi menurut saya kami tidak akan mendapatkannya.”
Ia sebelumnya sempat bereaksi keras terhadap sorakan penonton saat kemenangan 2-0 di Moldova pada Kamis lalu karena gol baru tercipta di menit ke-88. Namun, kali ini ia mengakui kritik suporter sepenuhnya beralasan.
“Pada akhir babak pertama tadi, saya sangat puas dengan cara tim bermain dan dukungan suporter. Orang-orang menyayangi tim ini, tetapi omongan saja tidak cukup.”
“Malam ini tidak pantas dialami siapa pun, terutama mereka yang datang untuk mendukung kami. Kami berharap bisa memberi mereka kebahagiaan,” tutur Gattuso, yang ikut mengangkat trofi Piala Dunia 2006 bersama Nazionale.
Menanggapi kekalahan 0-3 di Oslo yang terbukti bukan kebetulan dan tak bisa sepenuhnya disalahkan pada Luciano Spalletti, Gattuso menjelaskan apa yang harus dibenahi. “Kami tidak boleh begitu ketakutan dan menahan diri. Begitu menghadapi satu masalah, kami langsung hilang kepercayaan diri,” cetusnya.
“Saat ini bebannya besar. Kami tidak lolos ke dua edisi Piala Dunia terakhir, dan itu tidak bisa diabaikan.”
“Tapi, kami juga tidak boleh langsung terpuruk pada masalah pertama. Kami harus lebih percaya pada kemampuan sendiri dan tidak membatasi diri hanya pada hal-hal minimal ketika keadaan mulai memburuk,” urainya. “Saya lebih menerima jika kalah karena diberi pelajaran sejak awal,” kata Gattuso lagi.
Saat ditanya apakah Italia kini tidak lagi termasuk jajaran elite Eropa, terlebih setelah hasil buruk di Euro 2024, Gattuso memberi jawaban jujur.
“Sejujurnya, saya lebih memilih jika Norwegia memberi kami pelajaran sepak bola dari awal sampai akhir, saya bisa lebih menerimanya,” katanya.
“Itulah mengapa, saya percaya bahwa jika kami memperbaiki apa yang hilang di babak kedua, kami masih bisa berbicara banyak. Itu yang paling menyakitkan,” ungkap mantan pelatih Napoli dan Fiorentina ini.
Gattuso menolak mengaitkan masalah dengan kurangnya sosok pemimpin. “Punya pemimpin saja tidak cukup. Pada momen seperti ini kita harus tetap kompak. Yang paling membuat saya marah adalah di babak kedua, alur permainan dari belakang tidak lagi mengalir. Dari kick-off saja sudah terlihat sesuatu berubah,” ujarnya.
“Kalau takut membuat kesalahan, Anda bermain seperti menarik rem tangan, dan kami tidak boleh seperti itu.”
Menjelang akhir sesi, Gattuso juga disinggung soal peluang Federico Chiesa kembali pada play-off Maret nanti, mengingat winger Liverpool itu sempat menolak panggilan sebelumnya untuk fokus pada kebugaran.
“Saya sudah cukup bicara soal Chiesa, Anda semua tahu ceritanya. Dia pemain penting, punya karakteristik khusus, tetapi dia harus merasa nyaman,” jawab Gattuso. “Kami tahu apa yang kami bicarakan satu sama lain. Kami akan kembali berdiskusi dan melihat apa hasilnya,” tambahnya. (bol/riz)










