Membangun Keberlanjutan Pertanian Bukan Hanya Soal Teknologi, tetapi Soal Mindset


Oleh: Mercy Bientri Yunindanova, Ph.D.

(Dosen Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UNS/ Dosen Program Studi Agribisnis, Sekolah Vokasi, UNS/ Anggota Pusat Studi Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, LPPM UNS)

PADA tahun ini, saya berkesempatan mendampingi Program Kemitraan Masyarakat Internasional (PKMI) Universitas Sebelas Maret (UNS) yang mengusung tema “Pengembangan Kewirausahaan, Pendampingan Penyusunan Roadmap, dan Pelatihan Manajemen Bisnis Berbasis Pertanian: Transfer Pengetahuan dan Pengalaman Lapangan dari Wakai Farm Jepang untuk Kelompok Tani Hortikultura di Karanganyar, Indonesia.” Dalam program tersebut, kami menghadirkan Khaerul Fahmi, Direktur Yayasan Wakai Farm sekaligus praktisi pertanian yang telah mengembangkan usaha pertanian di Hiroshima, Jepang. Kesempatan berdiskusi, mengunjungi lapangan, dan mendampingi petani bersama beliau memberikan saya sudut pandang baru mengenai makna sesungguhnya dari keberlanjutan pertanian.

Selama ini, ketika mendengar istilah pertanian berkelanjutan, yang langsung terlintas dalam benak banyak orang adalah bagaimana mengurangi penggunaan pupuk kimia, beralih ke pupuk organik, menjaga kesehatan tanah, mengurangi pencemaran lingkungan, atau menerapkan teknologi budidaya yang lebih ramah lingkungan. Semua itu tentu merupakan bagian penting dari pertanian berkelanjutan. Namun, menurut saya, jika keberlanjutan hanya dipahami sebatas persoalan teknologi budidaya dan konservasi lingkungan, maka kita baru melihat sebagian kecil dari persoalan yang sebenarnya.


Pengalaman mendampingi PKMI bersama Wakai Farm membuat saya menyadari bahwa keberlanjutan pertanian sesungguhnya dimulai dari manusia yang menjalankan pertanian itu sendiri. Teknologi hanyalah alat, sedangkan manusia adalah penggeraknya. Sebaik apa pun teknologi yang tersedia, selengkap apa pun bantuan yang diberikan, atau sebesar apa pun subsidi yang dialokasikan pemerintah, semuanya tidak akan memberikan dampak jangka panjang apabila tidak disertai perubahan cara berpikir. Sebaliknya, petani yang memiliki growth mindset akan terus mencari solusi, belajar dari pengalaman, dan mampu beradaptasi meskipun dengan sumber daya yang terbatas.

Baca juga:  Sumanto Bapaknya Wayang Kabupaten Karanganyar: Apresiasi Gotong Royong Dalang, Wejang Pesan Moral Lakon Wayang hingga Eksistensi Pelaku Kesenian 

Dalam berbagai diskusi bersama Khaerul Fahmi, saya melihat bahwa yang paling sering dibahas bukanlah kecanggihan teknologi pertanian Jepang. Yang justru menjadi perhatian adalah bagaimana petani memandang profesinya. Bertani diposisikan sebagai sebuah usaha yang harus direncanakan, dihitung, dievaluasi, dan terus dikembangkan. Setiap musim tanam menjadi bahan pembelajaran untuk musim berikutnya. Setiap keputusan didasarkan pada data, kebutuhan pasar, kualitas produk, efisiensi biaya, dan keberlanjutan usaha. Budaya untuk terus melakukan perbaikan (continuous improvement) telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pengalaman tersebut membuat saya berpikir bahwa membangun keberlanjutan pertanian berarti membangun mindset seluruh ekosistem pertanian. Bukan hanya mindset petani, tetapi juga pemerintah, akademisi, penyuluh, pelaku usaha, hingga konsumen. Keberlanjutan tidak akan tercapai apabila masing-masing pihak berjalan sendiri-sendiri. Dibutuhkan kesamaan visi bahwa pertanian bukan sekadar menghasilkan panen, tetapi juga membangun kesejahteraan petani dan menjaga keberlangsungan sektor pertanian dalam jangka panjang.

Pandangan tersebut semakin diperkuat oleh kondisi pertanian Indonesia saat ini. Sensus Pertanian 2023 menunjukkan bahwa jumlah rumah tangga usaha pertanian meningkat dari 26.135.469 rumah tangga pada tahun 2013 menjadi 29.342.202 rumah tangga pada tahun 2023, atau bertambah sekitar 12,27%. Namun, peningkatan tersebut juga diikuti oleh meningkatnya proporsi petani kecil (small farmers) dari 50,33% menjadi 60,84%, serta kecenderungan semakin didominasinya sektor pertanian oleh petani berusia lanjut (aging farmers) (Rafani et al., 2025). Fakta ini menunjukkan bahwa tantangan pertanian Indonesia bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menyiapkan regenerasi petani, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, dan membangun kesejahteraan petani agar sektor pertanian tetap menarik bagi generasi muda.

Baca juga:  Tumpi Karangbolo Ungaran Berkembang Berkat Patenkan Rasa  

Sebagai bentuk dukungan terhadap sektor pertanian, pemerintah telah menjalankan berbagai kebijakan, salah satunya melalui program subsidi pupuk. Penelitian Ramadhani et al. (2026) menunjukkan bahwa petani di wilayah sentra padi periurban memberikan penilaian yang sangat baik terhadap sistem penyaluran pupuk bersubsidi. Namun demikian, keberhasilan subsidi tidak cukup diukur dari tersalurkannya pupuk kepada petani. Prahitaningtyas dan Olasoji (2024) menjelaskan bahwa efektivitas subsidi sangat ditentukan oleh ketepatan sasaran penerima, sistem distribusi yang baik, integrasi dengan akses pembiayaan, peningkatan kapasitas petani, serta dukungan terhadap harga hasil pertanian. Dengan kata lain, subsidi hanyalah salah satu instrumen dalam membangun pertanian yang berkelanjutan.

Di sinilah saya semakin yakin bahwa keberlanjutan pertanian tidak dapat dibangun hanya melalui teknologi, pupuk, benih unggul, atau subsidi. Semua itu adalah hardware pembangunan pertanian. Namun, yang menentukan apakah seluruh instrumen tersebut berhasil adalah software-nya, yaitu mindset. Mindset untuk terus belajar, berinovasi, bekerja sama, menghitung usaha tani secara profesional, dan berani beradaptasi terhadap perubahan pasar maupun iklim.

Menurut saya, edukasi kepada petani juga harus bergeser. Selama ini sebagian besar pendampingan masih berfokus pada bagaimana cara menanam yang benar. Padahal, petani juga perlu dibekali kemampuan mengelola usaha tani sebagai sebuah bisnis, memahami pasar, menyusun perencanaan usaha, melakukan pencatatan keuangan, mengelola risiko, membangun jejaring, hingga menyusun roadmap pengembangan kelompok tani. Inilah yang saya pelajari selama mendampingi PKMI bersama Wakai Farm Jepang: keberlanjutan pertanian bukan hanya dibangun di lahan, tetapi juga dibangun di dalam pola pikir manusianya. (*)


TERKINI

Rekomendasi

...