31 C
Semarang
Selasa, 24 Februari 2026

Strategi Berkendara Aman Saat Tubuh Berpuasa

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Memasuki Ramadhan, ritme jalanan mengalami perubahan drastis di wilayah Jawa Tengah. Mulai dari hiruk pikuk hingga padatnya kondisi. Perubahan pola makan, jam tidur, serta kondisi fisik yang menahan lapar dan dahaga memberikan tantangan tersendiri bagi kita, para pengendara sepeda motor. Di balik niat suci menjalankan ibadah, ada risiko nyata yang mengintai di aspal jika kita tidak memahami cara kerja tubuh saat berpuasa di atas jok motor.

Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng Oke Desiyanto menjelaskan dengan analogi “Low Power Mode” pada Hape, tentu kita pernah memperhatikan smartphone yang baterainya tinggal 15% bukan? Perangkat tersebut biasanya otomatis masuk ke “Low Power Mode.” Layarnya meredup, koneksi internet melambat, dan respons aplikasinya tidak segesit biasanya. Saat berpuasa, tubuh manusia berada dalam kondisi serupa. Secara fisik kita mungkin merasa mampu, namun secara biologis, kadar gula darah yang menurun membuat otak bekerja lebih lambat dalam memproses informasi. Jika di jalur lingkar Demak atau Pati ada kendaraan yang mengerem mendadak, waktu reaksi kita yang biasanya 0,5 detik bisa membengkak menjadi 1 detik atau lebih. Dalam kecepatan tinggi, selisih setengah detik itu adalah penentu antara selamat atau celaka.

Baca juga:  Mazda Kenalkan All New CX-60 di Semarang

Bagi warga Jawa Tengah, ada dua waktu paling kritis yang harus diwaspadai:

  1. Sore Hari (Waktu Ngabuburit): Ini adalah waktu paling berbahaya. Perut berada di titik paling kosong, konsentrasi di titik terendah, sementara volume kendaraan meningkat karena semua orang ingin cepat sampai rumah untuk berbuka. Fenomena “kesusu” (terburu-buru) sering membuat pengendara mengabaikan lampu merah atau marka jalan. Ditambah peningkatan tajam penjual takjil maupun makanan yang memiliki potensi meramaikan dan memadati jalan – jalan pulang menuju rumah.
  2. Pagi Hari (Pasca Sahur): Rasa kantuk akibat perubahan jam tidur sering kali memicu micro-sleep (tertidur sekejap tanpa sadar). Di jalur lurus seperti arah Rembang atau Blora, micro-sleep selama 3 detik saat melaju 50 km/jam sama saja dengan membiarkan motor berjalan tanpa kendali sejauh hampir 41,67 meter. Jika panjang mobil Toyota Avanza dibulatkan menjadi 4,4 meter, maka bayangkan ada 9 setengah mobil Avanza yang parkir beriringan, itulah jarak yang ditempuh berkendara dalam kondisi microsleep selama waktu 3 detik! Sangat berbahaya.

Agar tetap aman selama menunaikan ibadah, pertama pahami kapasitas diri sendiri, jika mata mulai terasa berat atau fokus sering terpecah, jangan ragu untuk menepi di masjid atau rest area terdekat. Istirahat 10-15 menit jauh lebih berharga daripada memaksakan diri. Kedua, Jaga jarak ekstra. Karena waktu reaksi otak melambat saat puasa, tambahkan jarak aman dengan kendaraan di depan. Jika biasanya 3 meter, buatlah menjadi 5 meter. Berikan ruang bagi otak Anda untuk berpikir. Terakhir adalah hindari Manuver agresif. Manuver tajam hanya akan menguras energi fisik dan memancing emosi.

Baca juga:  Raih 10 Award, Yamaha Semakin Pertegas Dominasinya di Ajang Penghargaan Bergengsi

Berkendara saat puasa bukan soal kuat-kuatan menahan haus, tapi soal seberapa dewasa kita mengelola sisa energi yang ada. Jangan biarkan emosi di jalan raya menggugurkan pahala puasa kita. Manfaatkan waktu sahur dengan mengonsumsi makanan yang melepaskan energi secara lambat (karbohidrat kompleks) dan perbanyak air putih. Hindari memakai jaket yang tebal saat siang hari yang terik karena dapat memicu dehidrasi lebih cepat.

“Jangan korbankan keselamatan demi mengejar waktu berbuka yang hanya selisih beberapa menit. Berkendaralah dengan sabar, karena kesabaran adalah inti dari puasa itu sendiri. Teko panggonan kanthi slamet, ibadah lancar, ati ayem,” kata Oke.



TERKINI

Rekomendasi

...

Resiko Bahaya Bila Telat Ganti Oli Motormu

Simak !! Ini 5 Kategori Sepeda Motor...

Instruktur AHM Ukir Prestasi