Etika Membonceng Buah Hati yang Kerap Terabaikan


JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Libur panjang sekolah membuat banyak keluarga memilih sepeda motor sebagai sarana transportasi yang praktis dan hemat untuk berwisata atau mengunjungi kerabat. Namun, di balik momen liburan itu, masih sering terlihat pemandangan berbahaya di jalan raya: satu sepeda motor ditumpangi empat orang. Anak kecil duduk di depan atau berdiri di dek motor, sementara bayi digendong di belakang. Dalam satu kendaraan, empat nyawa dipertaruhkan, tentu hal ini sangat berbahaya.

Secara ilmiah dan teknik berkendara (safety riding), mendudukkan anak di baris depan, terutama di antara pengendara dan stang kemudi memiliki tiga risiko besar yang mematikan:

  1. Bagaikan Airbag Hidup, ketika terjadi benturan frontal atau pengereman mendadak, tubuh pengendara di belakang akan terdorong ke depan akibat gaya inersia. Jika ada anak di depan Anda, maka tubuh mungil si anak akan terjepit di antara kerasnya setang kemudi motor dan beratnya tubuh Anda sendiri. Anak berubah fungsi menjadi “bantalan benturan” atau airbag hidup.
  2. Mengganggu Ruang Gerak Kemudi, sepeda motor membutuhkan ruang bebas agar setang bisa bergerak fleksibel untuk menyeimbangkan kendaraan. Keberadaan anak di depan otomatis mereduksi ruang gerak tangan pengendara. Ketika Anda harus melakukan manuver refleks—misalnya menghindari lubang atau kendaraan yang memotong jalan mendadak—kemudi akan tertahan oleh tubuh anak, dan kecelakaan bisa jadi tidak terhindarkan.
  3. Paparan Angin dan Dehidrasi Kemarau, ini menandai puncak musim kemarau dengan embusan angin yang cukup kencang, terutama di jalur Pantura Pekalongan dan Pati (crosswind). Anak yang duduk di depan akan menjadi “tameng” dimana paru – paru dipaksa bekerja keras menyaring debu, gas beracun dari knalpot, dan rentan mengalami dehidrasi serta gangguan pernapasan akut (ISPA).
Baca juga:  Astra Motor Jateng Berikan Special Gift Honda BeAT Sporty untuk Konsumen

Mari kita bayangkan sebuah kastel atau benteng pertahanan. Dalam logika perang mana pun, bagian yang paling rentan dan rapuh tidak akan pernah diletakkan di garis paling depan untuk menahan gempuran musuh. Anak  -anak kita, dengan struktur tulang yang belum kuat dan respons refleks yang belum matang, adalah bagian paling rapuh tersebut. Jika terpaksa harus menggunakan sepeda motor bersama anak saat liburan, berikut adalah panduan keselamatan standar yang wajib dipatuhi:

  1. Posisi Selalu di Belakang: Anak wajib duduk di jok belakang, tepat di belakang pengendara.
  2. Aturan Segitiga Keselamatan: Pastikan kaki anak sudah mampu menapak dengan mantap pada pijakan kaki (footstep) belakang. Jika kakinya belum sampai, berarti fisik anak belum siap untuk dibonceng menggunakan motor. Anak harus bisa memeluk pinggang pengendara dengan erat (bukan sekadar memegang jaket).
  3. Perlengkapan Wajib: Jangan bedakan pelindung kepala. Anak juga WAJIB memakai helm SNI khusus anak. Gunakan jaket, celana panjang, dan sepatu.
  4. Sadari Kapasitas: Sepeda motor dirancang hanya untuk dua orang (satu pengendara, satu penumpang). Membawa lebih dari satu penumpang adalah pelanggaran hukum dan pengabaian fatal terhadap stabilitas kendaraan.
Baca juga:  150 Peserta Ramaikan Convoy Merdeka Merah Putih Honda PCX

“Liburan sekolah seharusnya menjadi momen untuk menciptakan kenangan indah bersama keluarga. Karena itu, selalu utamakan keselamatan saat berkendara. Jangan sampai keceriaan liburan berubah menjadi penyesalan akibat mengabaikan aspek keselamatan, terutama saat membawa anak,” pesan Oke Desiyanto, Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng.


TERKINI

Rekomendasi

...

Nasmoco Resmikan Fasilitas GR Zone

CBR250RR Produksi AHM Tak Terbendung

Honda FESTIPARK Kembali Hadir di Semarang