27 C
Semarang
Kamis, 22 Januari 2026

Buntut Tanggul Sungai Dawe Kritis, Warga Golantepus ‘Bertaruh’ dengan Karung Tanah dan Pampers Bekas

JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Kondisi tanggul Sungai Dawe yang melintasi Desa Golantepus, Kecamatan Mejobo, kian mengkhawatirkan. Sejumlah titik tanggul dilaporkan jebol dan merembes, memicu banjir luas yang merendam pemukiman warga dengan ketinggian air mencapai 50 sentimeter hingga satu meter.

Pantauan di lapangan menunjukkan struktur tanggul yang rapuh dan rawan limpas saat debit air meningkat. Menghadapi situasi darurat ini, warga terpaksa melakukan peninggian tanggul secara swadaya menggunakan material seadanya. Mulai dari karung berisi tanah, tumpukan rumput, hingga sampah rumah tangga seperti pampers bekas digunakan demi menahan laju luapan air.

Kepala Desa Golantepus, Nur Taufiq, mengungkapkan bahwa hampir seluruh bentangan tanggul Sungai Dawe turut Desa Golantepus, saat ini dalam kondisi kritis. Delapan titik diantaranya sudah cukup parah, dan mendesak dilakukan perbabikan secara total.

‘’Dari semua titik rawan, ada delapan titik yang kondisinya paling parah,’’ ujarnya di sela meninjau kondisi tanggul Sungai Dawe, Sabtu (17/1).

Baca juga:  UMK Tolak Kekerasan dan Penjarahan, Jaga Marwah Demokrasi

Taufiq menjelaskan, kerawanan Desa Golantepus disebabkan oleh posisi geografis yang “dikepung” empat sungai sekaligus, yakni Sungai Dawe, Mrisen, Poceho, dan Piji. Masalah ini diperparah dengan pendangkalan sungai yang masif, sehingga kapasitas tampung air menurun drastis.

‘’Kami berharap ada penanganan serius dari instansi terkait,’’ tegasnya.

Sementara Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, Eko Hari Djatmiko, menyatakan bahwa secara keseluruhan terdapat sekitar 30 titik tanggul jebol di wilayah Kabupaten Kudus yang perlu penanganan cepat.

‘’Penanganan darurat terus dilakukan oleh BPBD, tetapi yang butuh penanganan cepat saat ini terdata ada 30-an titik,’’ ujar Eko.

Ditanya kondisi bencana alam di Kudus, Eko menyebut, hingga Sabtu (17/1) pukul 17.00 WIB, bencana alam melanda 64 desa dari 132 Desa/Kelurahan yang tersebar di 9 kecamatan di Kudus. Sedang warga terdampak sebanyak 46.399 jiwa dari 14.791 Kartu Keluarga (KK).

‘’Sedangkan rumah yang terdampak bencana sebanyak 8.537 unit, 5.596 rumah diantaranya terendam banjir,’’ jelasnya.

Baca juga:  Resmi Gabung Komisi V DPR RI, Haryanto Siap Maksimalkan Infrastruktur untuk Pati dan Sekitarnya

Adapun pengungsi, tercatat sudah sebanyak 2.178 jiwa dari 847 KK yang tersebar di 13 Posko Pengungsian, yakni di Aula Gedung DPRD Kudus, Gedung Nu Center Pasuruhan Lor, Balai Desa Jati Wetan, Gedung Muslimat NU Loram Kulon, GKMI Tanjungkarang, Balai Desa Kesambi, Balai Desa Payaman, dan Balai Desa Gulang.

‘’Selain itu di Balai Desa Karangrowo, Kantor DPC PDI Perjuangan Kudus, Balai Desa Tanjungkarang, Pustu Tanjungkarang, dan Madrasah Hidayatus Shibyan Temulus,’’ ungkapnya.

Masih kata Eko, selama bencana hidrometeoroli melanda Kudus, terdapat 132 titik longsor, 14 pohon tumbang, 7 kendaraan menjadi korban, dan 5 warga mengalami luka ringan akibat bencana. Selain itu, 1.970 hektar tergenang, 11 tempat ibadah dan 75 fasilitas Pendidikan terdampak. Dampak bencana tersebut menimbulkan kerugian hingga Rp533,8 miliar.

‘’Kemudian dari bencana ini, 2 korban akibat laka air dan 1 warga meninggal akibat tertimbun longsor,’’ pungkasnya. (han/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...