JATENGPOS.CO.ID, PATI – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Kabupaten Pati turun langsung menyelamatkan naskah-naskah kuno yang tersebar di masyarakat. Lewat program “Sosialisasi, Identifikasi, Pendaftaran, dan Digitalisasi Naskah Kuno”, Arpus berupaya agar ilmu di dalam dokumen bersejarah itu tidak ikut terkubur dimakan usia.
Kegiatan yang digelar Kamis (16/4/2026) di Ruang Rapat Dinas Arpus Pati itu melibatkan banyak pihak. Mulai pemerhati sejarah, penulis, jurnalis, perwakilan kecamatan, organisasi keagamaan, hingga lembaga pendidikan duduk bersama membahas langkah penyelamatan literasi daerah.
Program ini berjalan berkat dukungan Dana Alokasi Khusus Non-Fisik dari Perpustakaan Nasional. Sasarannya jelas: naskah-naskah kuno milik warga yang selama ini tertutup dari publik karena dianggap sebagai pusaka keluarga.
Kepala Dinas Arpus Pati, Sukardi, mengakui Pati sebenarnya gudangnya naskah kuno.
“Di Pati ini cukup banyak naskah kuno tapi belum tergali. Sudah ada beberapa yang kami alihmediakan, tapi masih banyak yang belum,” ujarnya.
Persoalan utama justru ada di kultur. Banyak pemilik naskah meyakini dokumen warisan leluhur itu sakral dan tidak boleh diperlihatkan ke orang luar. Akibatnya, naskah hanya disimpan rapat di lemari atau peti tanpa perawatan, rentan rusak karena usia dan cuaca.
Karena itu strategi Arpus tahun ini adalah jemput bola. Mereka menggandeng perwakilan kecamatan untuk turun ke desa dan membangun komunikasi dengan pemilik naskah.
“Kami ingin menyadarkan bahwa dokumen bisa diamankan lewat alih media tanpa harus kehilangan fisiknya. Yang dipakai belajar nanti hasil digitalnya, sehingga naskah aslinya tidak rusak,” jelas Sukardi.
Sejauh ini tim Arpus sudah mengidentifikasi 12 naskah kuno di Pati. Tujuh di antaranya telah selesai dialihmediakan ke format buku cetak ulang, PDF, dan foto digital. Sebagian besar naskah itu berasal dari lingkungan pesantren di Kajen, Tayu, hingga Trangkil. Isinya berupa kitab-kitab klasik beraksara Arab gundul peninggalan kiai sepuh.
Kabid Perpustakaan Dinas Arpus Pati, Aris Haryono, menegaskan peran aktif warga sangat dibutuhkan.
“Yang kita amati, buku peninggalan mbah-mbah kita, dari kiai-kiai kita, kesannya dianggap pusaka sehingga tidak dipublikasikan. Sosialisasi ini untuk meningkatkan kesadaran bahwa peninggalan luhur itu bisa dialihmediakan,” kata Aris.
Ia memastikan, digitalisasi tidak akan mengambil hak kepemilikan. Naskah asli tetap di tangan pemilik, sementara hasil digitalnya yang akan diakses publik untuk pembelajaran dan riset. Dengan begitu, ilmu leluhur tetap lestari tanpa memutus mata rantai antara pewaris dan masyarakat luas.
Langkah Arpus ini disambut baik akademisi muda. Dian Aji, mahasiswa magister sejarah asal Pucakwangi yang ikut dalam sosialisasi, menyebut program ini sebagai oase. Selama ini peneliti sulit mengakses sumber primer karena tertutupnya pemilik naskah.
“Naskah itu sering dianggap keramat, padahal isinya ilmu pengetahuan. Upaya Arpus menjembatani pemilik naskah dengan kebutuhan edukasi publik ini sangat krusial agar sejarah lokal Pati tidak hilang ditelan zaman,” ungkap Dian.
Sementara itu, Ketua LTNNU Pati, Angga Saputra, mengusulkan agar program tidak berhenti di digitalisasi saja. Perlu ada hilirisasi lewat kajian mendalam, alih bahasa, hingga pameran publik. “Tujuannya merekonstruksi identitas serta nilai-nilai luhur ke-Pati-an,” ucap Angga.
Ke depan, Dinas Arpus berharap tokoh masyarakat dan aparat kecamatan ikut mengedukasi warga. Digitalisasi bukan mengurangi kesakralan naskah, melainkan bentuk penghormatan tertinggi: memastikan warisan intelektual leluhur aman dan ilmunya tetap mengalir ke generasi berikutnya.(Ida/rit)















