‘Tumbuh, Riuh, Rapuh’ Sindir Ego Manusia Modern


JATENGPOS.CO.ID, KUDUS-Sebuah refleksi tajam atas arus modernitas tersaji di jantung Kabupaten Kudus. Seniman visual Umbara Cayapata, yang akrab disapa Kim, menggelar aksi seni ruang publik bertajuk “Seni Mati di Kota Sendiri #2”. Acara ini berlangsung di kompleks Taman Bojana Kudus pada Senin (17/8) malam.

Melalui instalasi video mapping berjudul “Tumbuh, Riuh, Rapuh”, Kim menyuarakan kritik terhadap gaya hidup urban. Ia menantang pandangan masyarakat modern, yang kerap mengagungkan individualisme dan mengukur pencapaian hanya dari jerih payah personal.

‘’Karya ini adalah sebuah antitesis. Manusia modern diingatkan bahwa tidak ada pertumbuhan yang benar-benar berdiri sendiri,’’ ujarnya.

Dalam pertunjukkannya, Kim memanfaatkan arsitektur publik di Taman Bojana sebagai bidang proyeksi. Langkah ini diambil guna mengeksplorasi gagasan dasar mengenai jejaring keterhubungan. Lalu dalam karyanya, manusia, alam, ruang, waktu, dan cahaya dilebur menjadi satu ekosistem yang saling menopang.

Baca juga:  Usai Divaksin COVID-19, 10 Pejabat Publik di Kudus Tak Alami Gejala

Sedang siklus pertumbuhan bunga matahari dipilih sebagai metafora visual utama. Kim menegaskan bahwa sekuntum bunga tidak akan bisa mekar tanpa sokongan tanah, air, udara, waktu, dan cahaya.

‘’Begitu pula manusia. Keberadaan kita selalu dibentuk oleh kehadiran orang lain, gesekan pengalaman, tatanan sosial, serta ruang tempat kita berproses. Pertumbuhan, bukanlah monumen ego pribadi, melainkan akumulasi relasi yang kompleks sekaligus rentan,’’ imbuhnya.

Sementara penggunaan medium video mapping dalam aksi ini, bukan sekadar atraksi estetika teknologi proyektor. Kim menggunakannya sebagai instrumen untuk menggeser persepsi publik terhadap ruang kota. Bangunan Taman Bojana yang semula pasif dan dingin, seketika ditransformasikan menjadi entitas dinamis yang tampak bernyawa.

Baca juga:  DPRD Desak Pemkab Kudus Lobi Pemerintah Pusat , Buntut Terbit Aturan Baru Produk IHT

Cahaya di dalam instalasi tersebut difungsikan sebagai simbol energi dan koneksi relasional. Sorot cahaya bergerak menembus sudut-sudut arsitektur, menghubungkan titik-titik ruang yang sebelumnya terisolasi. Perubahan visual dari kehampaan menuju ruang padat, hingga kembali rapuh, menjadi representasi puitis dari ritme kehidupan manusia.

Melalui pameran independen ini, “Tumbuh, Riuh, Rapuh” sukses mengajak masyarakat yang melintas untuk berhenti sejenak. Publik diajak menengok kembali ekosistem penopang di balik eksistensi mereka, mulai dari komunitas, lingkungan, hingga dinamika kota tempat mereka berpijak.

‘’Aksi ini membawa pesan etis yang kuat, manusia tumbuh melalui hubungan, dan energi yang didapat harus dialirkan kembali untuk menghidupi sekitar,’’ tutup Kim. (han/rit)


TERKINI


br>

Rekomendasi

...