Bendung Karet Kering, Jutaan Ikan Sapu-Sapu Terdampar


JATENGPOS.CO.ID, PATI — Bendung Karet Sungai Juana di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, mendadak ramai didatangi warga. Mereka penasaran melihat kondisi bendung yang mengering total hingga menyebabkan jutaan ikan sapu-sapu terdampar dan sebagian mati.

Bendung Karet Sungai Juana memiliki fungsi penting untuk mengatur distribusi air irigasi bagi lahan pertanian. Selain itu, bendung tersebut juga berfungsi sebagai penyekat antara air asin dan air tawar di Sungai Juana.

Namun, pada Rabu (2/9) sore, kondisi bendung terlihat kering kerontang. Tidak tampak genangan air tawar yang biasanya menjadi sumber pengairan bagi lahan pertanian di sekitar aliran sungai.

Di tengah sungai yang mengering, ikan sapu-sapu terlihat terdampar dalam jumlah sangat banyak. Sebagian ikan masih berusaha bertahan hidup, sementara lainnya ditemukan telah mati.

Salah seorang warga Juwana, Anton, mengaku sengaja datang ke lokasi setelah mengetahui kondisi Bendung Karet Sungai Juana melalui media sosial.

“Saya dari Juwana tahunya dari postingan, kondisinya kering dan banyak ikan terdampar,” kata Anton saat ditemui di lokasi.

Menurut Anton, kondisi Bendung Karet Sungai Juana hingga mengering merupakan kejadian yang jarang terjadi. Ia menduga kondisi tersebut dipengaruhi kemarau panjang dan ekstrem.

Baca juga:  BGN Hentikan Sementara Operasional SPPG Purwosari 1, Buntut Kasus Keracunan Siswa

“Dulu waktu pembangunan saya ke sini banyak air, ternyata sekarang habis. Ini karena pengaruh musim kemarau panjang. Biasanya tidak seperti ini,” ujarnya.

Anton mengatakan kondisi tersebut mulai terjadi sekitar sepekan terakhir. Selain kemarau, air di sepanjang Sungai Juana juga banyak dimanfaatkan petani untuk memenuhi kebutuhan pengairan lahan.

Sementara itu, warga Desa Bungasrejo, Lukito, menyebut kebutuhan air meningkat karena banyak petani di sepanjang aliran Sungai Juana memasuki musim tanam. Di sisi lain, pasokan air dari arah Waduk Kedung Ombo, Kabupaten Grobogan, yang mengalir ke Sungai Juana disebut mengalami penurunan.

“Semula ini tampungan air dari atas memang kurang, untuk petani yang banyak membutuhkan air karena musim tanam. Kemarin bendung masih ada air dan harapan warga bisa tanam, tetapi ternyata panas sangat ekstrem sehingga tidak ada air,” kata Lukito.

Kondisi tersebut juga berdampak terhadap ekosistem sungai. Jutaan ikan sapu-sapu terdampar sejak sekitar sepekan terakhir. Sebagian ikan kemudian diambil warga untuk dimanfaatkan.

“Ada yang diambil, kemarin lebih banyak sekali. Kemarin sempat banyak diambil, sekarang sudah tidak, kondisinya kotor dan banyak yang mati,” ujarnya.

Baca juga:  Sabar Lur! Akhir April 2023 Pengerjaan Jembatan Juwana Selesai

Warga lainnya, Saiful, mengatakan ikan sapu-sapu yang berhasil diambil warga dimanfaatkan sebagai bahan baku tepung ikan. Pengambilan dilakukan secara gratis dari dasar sungai menggunakan mobil pikap.

Ikan yang terkumpul kemudian dijual dengan harga sekitar Rp2.000 per kilogram untuk dikirim ke pabrik tepung ikan. Sebagian warga juga memanfaatkannya sebagai pakan ikan lele.

Warga berharap pasokan air dari waduk atau sumber air lainnya dapat kembali dialirkan ke Sungai Juana. Mereka khawatir kekeringan berkepanjangan mengganggu aktivitas pertanian, terutama karena saat ini banyak petani memasuki musim tanam.

“Harapannya semoga air dari atas bisa turun ke sungai, warga bisa tanam lagi karena banyak modal sudah dikeluarkan,” harap Lukito.

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada pengelola Bendung Karet Sungai Juana belum membuahkan hasil. Pihak pengelola yang ditemui di lokasi tidak berkenan memberikan keterangan dan menyarankan konfirmasi dilakukan kepada pengelola yang berada di Semarang.

Kondisi Bendung Karet Sungai Juana yang mengering menjadi perhatian warga karena tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan air irigasi, tetapi juga berdampak pada ekosistem sungai yang ditandai dengan banyaknya ikan sapu-sapu yang terdampar dan mati.(Ida/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...