JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kudus mencatat realisasi investasi di Kabupaten Kudus, pada paruh pertama tahun 2026 mencatat mencapai angka 97 persen dari target tahunan. Keberhasilan ini didorong oleh dominasi sektor industri pengolahan (manufaktur) serta penguatan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang menjadi motor utama penggerak ekonomi daerah.
Kepala DPMPTSP Kabupaten Kudus, Mohammad Fitriyanto, mengungkapkan bahwa kunci dari capaian impresif ini adalah strategi jemput bola dan pendampingan intensif kepada para pelaku usaha.
‘’Kita lakukan pendekatan melalui kegiatan pengawasan dan pendampingan kepada pelaku usaha agar selalu update untuk melakukan kewajiban dalam pelaporan LKPM (Laporan Kegiatan Penanaman Modal) sesuai jadwal waktu laporan yang sudah ditetapkan dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM,’’ ujar Fitriyanto, saat ditemui di kantornya, baru-baru ini.
Sambungnya, berdasarkan data akumulasi LKPM hingga Triwulan II 2026, total investasi yang masuk ke Kabupaten Kudus telah menembus angka Rp1,123 miliar. Jumlah tersebut berasal dari 1.401 proyek yang tersebar di berbagai wilayah Kudus.
Menariknya, seluruh proyek ini murni mengoptimalkan potensi lokal dengan menyerap 2.827 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tanpa melibatkan satu pun Tenaga Kerja Asing (TKA).
Jika dibedah per periode, Triwulan I menjadi penyumbang terbesar dengan total investasi mencapai Rp877,44 miliar dari 593 proyek. Memasuki Triwulan II, iklim investasi tetap terjaga kondusif dengan tambahan realisasi sebesar Rp246,08 miliar dari 808 proyek.
‘’Sektor PMDN mendominasi Triwulan II dengan nilai Rp231,87 miliar, jauh melampaui Penanaman Modal Asing (PMA) yang tercatat sebesar Rp14,21 miliar,’’ paparnya.
Sambung Fitriyanto, khusus pada Triwulan II, sektor industri pengolahan (manufaktur) kokoh memimpin sebagai penyumbang modal terbesar dengan nilai Rp80,89 miliar dari 190 proyek, sekaligus menyerap 1.184 tenaga kerja. Posisi kedua ditempati sektor perdagangan besar, eceran, dan reparasi dengan angka Rp72,65 miliar.
‘’Sedangkan sektor jasa lainnya, juga menunjukan capaian bagus di peringkat ketiga dengan serapan 616 tenaga kerja,’’ ungkapnya.
Sementara itu, beberapa sektor penunjang seperti konstruksi menyumbang Rp11,22 miliar, disusul sektor transportasi dan pergudangan senilai Rp2,42 milar, sektor akomodasi makanan-minuman Rp1,96 miliar, serta real estat sebesar Rp1,16 miliar.
‘’Adapun sektor primer seperti perkebunan, perikanan, pertambangan, dan kesehatan masih mencatatkan angka di bawah Rp300 juta,’’ tandasnya.
Dengan sisa dua triwulan berjalan di tahun 2026, DPMPTSP Kudus optimistis target investasi tahun ini tidak hanya akan tercapai, melainkan mampu melampaui estimasi awal lewat pengawasan kepatuhan LKPM yang berkelanjutan.
‘’Kami optimis sampai akhir tahun ini, bisa melampaui target investasi yang ditetapkan sebelumnya,’’ pungkasnya. (han/rit)





