JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Pemandangan semarak terlihat di halaman gedung Balai Diponegoro Kodam IV Jalan Perintis Kemerdekaan Semarang, Selasa (14/4/2026). Puluhan stand pedagang bunga bucket berjejer menawarkan aneka bunga segar hingga buatan dengan beragam asesoris menarik. Ada acara apa?

Saat itu di gedung balai yang megah tengah digelar acara Wisuda ke XX Universitas Ngudi Waluyo (UNW) Ungaran periode bulan April 2026. Moment ini terasa sangat berharga tidak hanya bagi wisudawan dan keluarga, para pedagang bunga bucket turut meraup rezeki dari rangkai bunga yang ditawarkan.
Syaifullah (38) warga Wonosari, Kota Semarang, salah satu pedagang berupaya menangguk untung. Ia datang dengan menjajakan hasil karyanya mulai dari bucket boneka, bunga kering, bunga segar hingga bucket berhias lembaran uang rupiah. Masing-masing bucket dikemas plastik berpita dan kotak mika yang unik.
“Tren yang banyak dicari keluarga wisudawan yang rangkaian bunga kering jenis adelweis dan bunga cemara. Bucket ini tahan lama bisa disimpan sebagai kenangan abadi,” ujarnya kepada Jateng Pos saat ditemui di standnya.
Meski merasakan gairah berjualan di moment penuh kenangan bagi wisudawan ini, ia turut merasakan betapa sulitnya menetapkan harga bucket yang ditawarkan. Di tengah bahan baku plastik mengalami kenaikan terdampak perang Timur Tengah, ia bergeliat memutar otak untuk menyesuaikan harga agar tidak merugi.
“Ya, bahan baku mengalami kenaikan. Ini kemasannya semua pakai bahan plastik. Kita menyiasati dengan menaikkan sedikit harganya, ada juga yang kita kurangi bahan bakunya. Seperti bunga kering bisa pakai 7 kuntum kita kurangi jadi 5 kuntum, harga tidak kita naikan asal tetap dapat untung,” jelasnya.
Ada pun harga bunga bucket yang dijual bervariasi mulai dari harga Rp 50 ribu hingga Rp 350 ribu. Model yang ditawarkan cukup beragam. Seperti harga paling mahal dihias boneka taddy bear, ada juga dihias rangkaian uang lembaran Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu.
“Jumlah uang yang Rp 20 ribu ada 10 lembar, nilanya saja sudah Rp 200 ribu. Dirangkai dengan bunga dan asesoris lainnya per bucket harganya jadi Rp 350 ribu,” ungkapnya.
Syaifullah mengaku di tengah lesunya penjualan bunga bucket maupun bunga rangkai lainnya, ia cukup terbantu dengan digelarnya acara wisuda UNW. Kesempatan ini dimaksimalkan menawarkan bucket hasil merangkai sendiri bersama keluarganya.
“Alhamdulillah masih ada rezeki di tiap acara wisuda. Untung jualan masih ada, saya membuat sendiri dibantu anak-anak dan kakak saya. Kemarin dapat infonya dari grup WA komunitas (pedagang bunga, red),” pungkasnya.

Diketahui, pada wisuda kali ini UNW Ungaran meluluskan sebanyak 684 mahasiswa dari 17 Program Studi dengan nilai rerata IPK lulusan 3,58. Terhitung total lulusan UNW Ungaran sampai saat ini sebanyak 19.263 orang.
Rektor UNW Ungaran Prof Dr Subyantoro M.Hum menyampaikan harapan pada seluruh alumni yang ikut wisuda ke XX menunjukkan kompetensi yang selama ini didapat dari perkuliahan di UNW. Selain itu, dituntut memiliki karakter yang tangguh, atas segala cara di era yang serba bersaing saat ini.
“Bekal itu perlu dimiliki para lulusan. Kompetensi dan karakter sangat diperlukan oleh perusahaan-perusahaan besar yang merekrut tenaga kerja. Jangan sampai oleh perusahaan sudah diikutkan pelatihan, namun belum lama mereka bekerja kemudian keluar hanya tidak tahan tekanan target dan lain sebagainya,” ujarnya.
Prof Bi –panggilan akrabnya— sampaikan, saat ini perusahaan maupun instansi pemerintah membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi tinggi dan karakter tangguh. Kompetensi dibutuhkan seiring tuntutan industri usaha semakin bersaing ketat.
“IPK adalah bekal, namun karakter adalah kemudi. UNW telah membekali lulusan dengan nilai-nilai luhur. Di mana pun kalian berada, jadilah “garam” yang memberi rasa dan “cahaya” yang memberi arah. Ingatlah, total alumni telah mencapai 19.263 orang. Kalian kini bergabung dalam barisan besar yang berkewajiban menjaga nama baik almamater melalui karya dan pengabdian,” pesannya saat memberikan sambutan acara wisuda.

Dalam kesempatan ini, Prof Bi juga sampaikan ucapan terima kasih kepada mitra strategis UNW Ungaran yakni IDUKA, Instansi Layanan Kesehatan tempat praktik, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang. Diibaratkan sebagai jembatan yang menghubungkan antara pulau teori dengan daratan realitas.
“Tanpa lahan praktik yang Anda sediakan, tanpa sinergi kebijakan dari Pemda, ilmu lulusan kami hanyalah tinta di atas kertas. Bersama Anda, mereka belajar bahwa ilmu sejati adalah yang mampu menyentuh nadi kehidupan masyarakat,” pungkasnya. (muz)















