JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Siang itu suasana Dusun Wates, Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang terasa beda. Jalan kampung yang biasanya sepi mendadak ramai. Motor ndekem di depan pagar. Mobil parkir sampai ke ujung gang. Dari pintu ke pintu terdengar: “Monggo, mlebet… sampun dhahar? (silahkan masuk, sudah makan?).” Ada apa?

Itulah hari Saparan. Tradisi merti dusun di lereng Gunung Merbabu yang mengubah kampung jadi satu ruang tamu raksasa. Senin (27/7/2026) Dusun Wates kembali menggelar pesta syukur tahunan itu. Dan suasananya, ramai bukan main.
Seperti pemandangan di rumah Gunawan Tri Rahmadi, anggota Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Semarang, tamu datang tak ada habisnya.
“Tahun ini bisa 400 orang lebih yang mampir. Dari pagi sampai malam terus,” kata Gunawan, yang akrab disapa Jepang.
Teras penuh. Ruang tamu penuh. Meja panjang berisi jadah, jenang, aneka jajanan, sampai nasi dengan lauk komplit. Belum sempat satu rombongan pamit, rombongan lain sudah duduk. Aturannya cuma satu, yang datang wajib makan.
“Dulu ada istilah mangan ora mangan sing penting kumpul. Tapi sekarang rasanya kurang pas kalau kumpul tanpa suguhan. Makanya wajib,” ujarnya sambil tertawa.
Menu makanan? Bebas. Tiap rumah beda-beda sesuai selera tuan rumah.
“Ini bener-bener MBG swadaya,” celetuk Gunawan. “Makan Bergizi Gratis, tapi yang masak warga sendiri, yang biayain warga sendiri.”
Saparan di Dusun Wates bukan cuma soal makan. Ini puncaknya rangkaian panjang. Seminggu sebelumnya warga sudah nyadran di makam leluhur, lalu nyadran kali di sungai sebagai bentuk hormat pada sumber air. Malamnya doa bersama untuk arwah.
Baru di hari Senin Kliwon bulan Sapar, pintu-pintu rumah dibuka. Menariknya, tiap dusun punya gaya sendiri. Ada yang wajib wayangan. Katanya kalau tidak wayang, bisa kena pagebluk. Ada yang ketoprakan.
“Kalau di Wates kita gantian biar anak muda juga seneng. Tahun lalu wayang, tahun ini Reog,” jelas Gunawan.
Malam harinya, setelah open house di masing-masing rumah selesai, warga nonton Reog bareng. Sebuah penutup untuk rasa syukur atas kemakmuran dusun.

Di rumah tetangga Jepang, Istichomah yang juga Kepala Dinas Sosial Kabupaten Semarang, jamuan juga tak kalah meriah. Ratusan tamu datang silih berganti. Ada satu menu yang wajib ada di rumahnya yakni jadah dan jenang.
“Ini filosofinya dalam. Jadah putih, jenang hitam. Artinya kita harus tahu mana baik mana buruk. Wajik itu lengket, harapannya silaturahmi kita juga lekat,” kata Istichomah.
Saking pentingnya hari itu, ia dan suami rela ambil cuti.
“Hari kerja, tapi saya cuti. Teman-teman ASN, perangkat desa, pimpinan OPD juga banyak yang datang. Semua wajib nyicipi,” ujarnya.
Baginya, semakin banyak tamu justru semakin senang. “Itu artinya rasa syukur yang kita bagi juga makin besar.”
Saparan di Wates jatuh setiap Senin Kliwon bulan Sapar dalam kalender Jawa, merupakan peringat hari lahir dusun. Karena itu beda dusun, beda hari. Tapi semangatnya sama, syukur dan silaturahmi. Di era yang serba cepat ini, tradisi seperti ini justru terasa langka.
Tidak ada undangan resmi. Tidak ada daftar tamu. Yang ada hanya pintu terbuka dan meja penuh jajanan dan makanan.
“Ini cara kita merawat dusun warisan leluhur. Sambil makan, kita juga ngobrol, guyup, nguatke kebersamaan,” kata Gunawan.
Malam menjelang, suara kendang Reog mulai terdengar dari lapangan. Di rumah-rumah, piring mulai kosong. Tapi obrolan belum selesai. Di Dusun Wates, Saparan bukan sekadar tradisi.
Ini adalah bukti bahwa di tengah HP dan media sosial, orang masih butuh duduk bareng, makan bareng, dan bilang: “Wes suwe ra ketemu. Ini rasanya lebih mengenyangkan dari makanan apa pun”. (muz)





