JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG — Teater Emper Kampus (Emka) mengangkat persoalan krisis ekologis dan ketimpangan kelas melalui pementasan Laboratorium Naskah (Labnas) 2026 bertajuk Siur Semai di Gedung Serba Guna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Sabtu akhir pekan lalu.
Pementasan tersebut memadukan drama musikal dengan pendekatan realisme dan isu sosial. Siur Semai menyoroti keterkaitan kerusakan alam dengan kehidupan kelas pekerja dan masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam.
Mengambil perspektif Marxisme Ekologis, Teater Emka melihat krisis lingkungan tidak semata-mata sebagai akibat perilaku individu, tetapi juga berkaitan dengan sistem ekonomi-politik yang mengejar akumulasi keuntungan.
Dampaknya dinilai paling dirasakan kelompok rentan, seperti petani, buruh, nelayan, dan masyarakat miskin perkotaan.
Uyuy selaku Sutradara Labnas 2026 mengatakan Siur Semai merupakan refleksi kehidupan pertanian yang terdampak sistem ekonomi yang berlaku.
Ketimpangan muncul ketika nilai tukar komoditas ditempatkan lebih tinggi daripada nilai gunanya sehingga membuat petani terus berproduksi dalam keterbatasan ekonomi.
“Para petani terus memproduksi tetapi juga terus hidup dalam keterbatasan ekonomi,” ujarnya.
Ia berharap persoalan yang diangkat tidak berhenti di atas panggung, tetapi berlanjut menjadi percakapan dan kesadaran bersama di tengah masyarakat.
Sementara itu, Indra Pimpinan Produksi Labnas 2026 menyebut persiapan pementasan berlangsung selama lima bulan.
Proses tersebut melibatkan kerja kolektif seluruh tim untuk menghadirkan realitas sosial dan ekologis yang dinilai kerap terabaikan.
“Teater Emka, yang membawa visi “teater untuk rakyat” menempatkan panggung bukan hanya sebagai ruang estetika, tetapi juga sebagai medium untuk mengungkap persoalan dan kontradiksi dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap melalui Siur Semai, mereka mendorong penonton memahami persoalan ekologis dan ketimpangan sosial sebagai persoalan yang memiliki dimensi struktural. (ucl/rit)




