Hasta Culture Fest 2026: Ketika Nyatnyono Menuturkan Ceritanya Lewat Jalanan


JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Ada hari-hari ketika jalanan bukan sekadar tempat orang berlalu-lalang. Ia berubah menjadi ruang untuk mengingat, merayakan, sekaligus menuturkan cerita. Suasana itu terasa di Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, akhir pekan kemarin.

Jalanan desa mendadak menjelma panggung terbuka. Warna-warni kostum memenuhi pandangan. Musik mengalun, kesenian ditampilkan, sementara beragam atraksi bergerak dalam satu arus panjang Kirab Budaya Hasta Muda Fest 2026.

Di tengah langkah kaki, sorak warga, dan riuh sepanjang jalan, budaya seperti menemukan rumahnya kembali.

Kirab budaya tersebut menjadi bagian dari rangkaian Hasta Culture Festival (HCF) 2026, perhelatan yang digelar Karang Taruna Hasta Muda Desa Nyatnyono. Tahun ini, festival mengusung tema “Budaya Kita, Cerita Kita.”

Kalimat itu sederhana. Namun di baliknya tersimpan pesan bahwa budaya bukan semata sesuatu yang dipertontonkan di atas panggung. Budaya adalah cerita yang diwariskan, identitas yang dirawat, sekaligus ingatan yang terus dituturkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itulah, kirab di Nyatnyono tidak berhenti sebagai tontonan. Ia menjadi ruang perjumpaan berbagai kelompok masyarakat yang datang membawa cerita masing-masing. Ada yang menyampaikannya melalui kesenian tradisional, busana, musik, ornamen, hingga atraksi yang menggambarkan karakter daerah dan komunitas mereka.

Setiap kelompok memiliki warna dan kisahnya sendiri. Namun semuanya berjalan dalam arus yang sama, menuju satu ruang yang lebih besar: kebudayaan Desa Nyatnyono.

Salah satu warna itu datang dari RW 08 di bawah komando Ketua RW, Wahyu Triatmoko. Mereka membawa tema “Jaladhara Nuswantara”, yang dimaknai sebagai sumber air atau pembawa kehidupan bagi kepulauan Nusantara.

Baca juga:  Klinik Pratama PMI Karangjati Melayani Terbaik untuk Layani Pasien

Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam beragam ornamen dan karakter yang menghiasi barisan mereka. Di bagian depan tampak maskot Batik Hara Sankara, maskot keran air, maskot ikan tuna, serta kostum yang menggambarkan aktivitas memancing.

Semua berpadu menjadi sebuah pesan: air bukan sekadar sesuatu yang mengalir. Ia adalah sumber kehidupan yang menghubungkan manusia dengan alam dan ruang tempat mereka berpijak.

Mereka mengusung tema “Wit Sogo”, merujuk pada tanaman yang dimanfaatkan sebagai bahan pewarna batik. Bagi warga Dusun Sogo, tema itu bukan sekadar simbol untuk mempercantik barisan kirab. Di dalamnya terdapat upaya memperkenalkan potensi lokal, termasuk geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tumbuh di wilayah tersebut.

Dari satu barisan ke barisan berikutnya, kirab seolah membuka satu demi satu halaman cerita tentang Nyatnyono. Ada sejarah. Ada kesenian. Ada sumber daya alam. Ada kreativitas warga. Ada pula potensi ekonomi yang tumbuh dari lingkungan sekitar.

Semuanya dirangkai menjadi bagian dari satu identitas bersama. Justru di situlah kekuatan Hasta Muda Fest 2026.

Perbedaan tidak dipaksa untuk menjadi seragam. Setiap kelompok diberi ruang untuk berbicara melalui tema dan kreativitas masing-masing. Namun pada akhirnya, semua cerita itu bertemu dalam satu perjalanan, satu perayaan, dan satu ruang kebudayaan bernama Desa Nyatnyono.

Ketua Karang Taruna Hasta Muda Nyatnyono, Suko Bintoro, mengatakan tema “Budaya Kita, Cerita Kita” dipilih sebagai ikhtiar untuk mengangkat sekaligus mengenalkan budaya lokal kepada masyarakat, terutama generasi muda.

Baca juga:  Kunjungi Panti Lansia Cepiring Kendal, Komisi E DPRD Jateng Optimalisasi Kinerja dan Aset

“Budaya, khususnya budaya lokal di Desa Nyatnyono, ingin kami angkat dalam acara ini. Misalnya kembang kolokeciko dan kembang puspo,” kata Suko.

Bagi Suko, memperkenalkan kebudayaan tidak cukup hanya dengan menampilkannya dalam sebuah pertunjukan. Ada tanggung jawab yang jauh lebih panjang: membuat generasi muda mengenal, memahami, lalu tumbuh rasa memiliki untuk ikut merawatnya.

Sebab sebuah tradisi bisa saja hilang bukan karena ia tak lagi indah, melainkan karena tak ada lagi yang mengenalnya. Di titik itulah kirab budaya menemukan maknanya yang lebih dalam.

Ia bukan hanya parade yang bergerak dari satu titik ke titik lain. Ia adalah ruang belajar yang berjalan. Anak-anak dan generasi muda dapat menyaksikan secara langsung berbagai bentuk budaya yang mungkin selama ini hanya mereka dengar dari cerita orang tua.

“Pada acara ini kami ingin mengangkat budaya-budaya tersebut,” pungkasnya.

Hari itu, jalanan Nyatnyono akhirnya kembali menjadi jalanan biasa. Kostum-kostum warna-warni perlahan disimpan. Musik berhenti dimainkan. Barisan peserta pun bubar. Keramaian yang sejak siang memenuhi jalan perlahan surut.

Tetapi cerita yang dibawa dalam kirab semestinya tidak ikut selesai. Sebab budaya tidak hidup hanya ketika dipertontonkan. Ia hidup ketika diceritakan, dikenalkan, dipahami, dan diwariskan.

Selama generasi muda masih mau mengenalinya, selama masyarakat masih bersedia merawatnya, sebuah desa akan selalu memiliki cara untuk menghidupkan kembali ingatannya. (muz)


TERKINI

Rekomendasi

...