JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Kemarau panjang mulai menekan ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Semarang. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang mencatat sedikitnya 21 desa yang tersebar di 9 kecamatan mengalami kekurangan air pada musim kemarau 2026.
Kondisi tersebut mendorong Pemkab Semarang menyiapkan langkah penanganan yang tidak hanya bersifat darurat melalui distribusi air bersih, tetapi juga mencari sumber air baru yang dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Bupati Semarang H Ngesti Nugraha mengatakan, wilayah yang mengalami kekurangan air akan menjadi prioritas dalam pemetaan potensi sumber air tanah menggunakan metode geolistrik.
“Di wilayah Kabupaten Semarang saat ini dengan kemarau yang cukup panjang, ada 21 desa di 9 kecamatan yang kekurangan air,” kata Ngesti saat dikonfirmasi, kemarin.
Menurut Ngesti Nugraha, survei geolistrik menjadi tahapan penting sebelum pemerintah memutuskan lokasi pengeboran. Melalui metode tersebut, pemerintah dapat memetakan kondisi lapisan bawah tanah sekaligus melihat kemungkinan adanya sumber air yang dapat dimanfaatkan.
Pemkab Semarang, kata dia, telah berkomunikasi dengan Sekretaris Daerah agar dusun-dusun yang paling membutuhkan air bersih diprioritaskan dalam pelaksanaan survei. “Kami sudah komunikasi dengan Pak Sekda agar desa, terutama dusun-dusun yang kekurangan air, menjadi prioritas untuk melaksanakan geolistrik,” ujarnya.
Penanganan krisis air bersih di Kabupaten Semarang tidak hanya mengandalkan bantuan air tangki. Pemkab mulai mengarahkan kebijakan pada penyediaan sumber air yang lebih permanen.
Setelah titik potensial ditemukan melalui survei geolistrik, pengeboran akan dilakukan secara bertahap. Pembiayaannya akan diupayakan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), serta dukungan tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).
Ngesti Nugraha menjelaskan, lokasi pengeboran tidak selalu harus berada persis di dusun yang mengalami kekurangan air. Jika hasil survei menunjukkan tidak ada potensi air tanah, pencarian dapat digeser ke wilayah sekitar yang secara kontur berada lebih tinggi.
“Kalau dusunnya tidak keluar air di geolistrik, mungkin daerah sekitarnya, di atasnya. Contohnya seperti di Desa Plumutan, waktu itu dibor tidak keluar air, kemudian kami mengebor di Desa Rejosari di atasnya,” jelasnya.
Strategi tersebut dinilai memiliki keuntungan lain. Apabila sumber air ditemukan di wilayah yang lebih tinggi, distribusi air dapat memanfaatkan gaya gravitasi sehingga kebutuhan energi untuk mengalirkan air menjadi lebih kecil.
“Karena gravitasi akan memudahkan, meringankan beban masyarakat kaitannya dengan listrik,” jelasnya.
Meski kemarau tahun ini berlangsung cukup panjang, jumlah desa yang dilaporkan mengalami kekurangan air justru lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Ngesti Nugraha menyebut pada 2025 jumlah wilayah terdampak kekeringan sempat mencapai sekitar 50 hingga 52 desa. Tahun ini, berdasarkan pemutakhiran pemerintah daerah, jumlah tersebut turun menjadi 21 desa.
Artinya, dibandingkan kisaran 50-52 desa pada tahun sebelumnya, jumlah desa terdampak tahun ini berkurang sekitar 29-31 desa, atau secara kasar turun lebih dari separuh.
Penurunan tersebut, menurut Pemkab Semarang, tidak terlepas dari program penyediaan sumber air yang dilakukan secara berkelanjutan. Namun, berkurangnya jumlah desa terdampak tidak serta-merta membuat persoalan air bersih selesai. (muz)




