JATENGPOS.CO.ID, SRAGEN – Upaya menekan angka kematian ibu dan bayi di Sragen mendapat dukungan internasional. Profesor dari University of Adelaide, Australia, Prof. M. Afzal Mahmood, bersama tim dokter dari Universitas Sebelas Maret atau UNS dan Universitas Airlangga atau Unair Surabaya meninjau langsung fasilitas kesehatan di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro atau RSSP Sragen, Sabtu (25/7/2026).
Kunjungan tersebut bertujuan mengevaluasi penanganan persalinan dan memperkuat jejaring layanan kesehatan ibu dan anak di daerah.
Prof. Afzal didampingi Direktur RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen, dr. Iin Dwi Yuliarti, Kepala Dinas Kesehatan Sragen Udayanti Proborini, serta tim dokter dan bidan dari UNS, Unair, dan Dinas Kesehatan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Rombongan meninjau Instalasi Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif atau PONEK dan bangsal perawatan ibu dan anak.
Prof. Afzal menyebut kunci utama pelayanan ibu hamil adalah integrasi. Puskesmas, Dinas Kesehatan, dan rumah sakit harus terhubung sebagai satu sistem.
“Dalam pelayanan pasien ibu hamil dibutuhkan kerja terintegrasi agar pasien tertangani dengan baik. Puskesmas, Dinkes, dan rumah sakit harus bekerja sebagai satu keluarga sehingga pelayanan lebih efektif dan menghasilkan layanan yang lebih baik bagi ibu dan anak,” ujar Prof. Afzal.
Ia mengaku sudah melakukan kunjungan serupa di Kalimantan Timur, Balikpapan, Pasuruan, dan Surabaya. Spesialisasinya, kata dia, adalah membangun kerja sama antara rumah sakit dan dinas kesehatan untuk meningkatkan kualitas layanan maternal dan neonatal.
Usai meninjau RSUD Sragen, Prof. Afzal menilai pelayanan di rumah sakit rujukan tersebut sudah berjalan baik. Namun ia menekankan pentingnya semangat untuk terus berkembang.
“Dokter dan rumah sakit yang baik bukan yang mengatakan ‘saya yang terbaik’, tetapi yang mengatakan ‘saya mencoba yang terbaik, tetapi saya ingin berkembang lebih baik lagi’. Saya melihat semangat itu ada di RSUD Sragen,” katanya.
Sebagai rumah sakit rujukan, RSSP kerap menangani kasus persalinan dengan risiko tinggi. Prof. Afzal mendorong adanya evaluasi menyeluruh setiap kali terjadi keterlambatan penanganan.
“Kita harus menganalisis di mana keterlambatan terjadi. Apakah di rumah, saat perjalanan, di puskesmas, atau di IGD rumah sakit,” jelasnya.
Ke depan, ia berharap kasus kegawatdaruratan kehamilan bisa dideteksi lebih awal sehingga tidak semua dirujuk ke rumah sakit. Untuk itu diperlukan penyusunan protokol yang lebih baik, pelatihan tenaga kesehatan, penguatan komunikasi antara dokter spesialis kandungan dengan bidan di puskesmas, serta pengembangan sistem rujukan, hotline, dan sistem peringatan dini.
Direktur RSUD Sragen, dr. Iin Dwi Yuliarti, mengatakan kunjungan ini merupakan tindak lanjut kerja sama yang sebelumnya dibahas di UNS. Melalui kolaborasi dengan UNS, Unair, dan University of Adelaide, RSSP ingin memperkuat layanan ibu dan anak.
“Sragen menjadi salah satu daerah yang dilibatkan dalam program bersama tim ini,” ujar dr. Iin.
Ia menyebut angka kematian ibu di Sragen menunjukkan tren penurunan. Pada 2025 tercatat satu kasus, dan hingga Juli 2026 juga tercatat satu kasus.
“Harapan kami setelah ini tidak ada lagi kasus kematian ibu,” ujarnya.
Menurut dr. Iin, kolaborasi ini menjadi langkah awal untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan melalui penguatan jejaring dengan puskesmas dan rumah sakit di Sragen dan sekitarnya. (yas/rit)





