JATENGPOS.CO.ID, SUKOHARJO – Musim kemarau tahun ini menjadi berkah tersendiri bagi warga Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Sentra desa wisata jambu air tersebut mulai memasuki masa panen raya yang melimpah sejak awal musim kering dan diprediksi mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus 2026.
Salah seorang petani jambu setempat, Sugino, mengungkapkan bahwa sekitar 25 pohon jambu jenis Wulung dan Citra miliknya mampu menghasilkan sedikitnya dua kuintal buah per hari. Di tingkat petani, harga jambu dibanderol Rp10.000 per kilogram untuk pengepul, sementara untuk porsi eceran dipatok lebih tinggi.
“Tahun ini panen melimpah, perawatan jambu saat musim kemarau justru menghasilkan cita rasa yang lebih manis dan segar.” Kata Sugino ditemui di kebon jambu miliknya, Minggu (26/07).
Nampak Sugino sibuk melayani sejumlah pengunjung yang melakukan petik jambu sendiri dari pohonnya langsung. Sejak ditetapkan menjadi desa wisata sentra jambu air, ada aktivitas wisata petik jambu. Jadi tidak hanya melayani pengepul buah tapi petani juga langsung melayani konsumen langsung.
Salah satu pengunjung, Desi warga Ngringo Palur mengatakan ia mendapat informasi dari kerabatnya tentang wisata petik jambu langsung di Pranan.
“Setiap bulan Juli kan panen raya jambu. Saya pasti kesini bisa beli langsung ambil dari pohonnya, lebih seger.” Ungkap Desi.
Kepala Desa Pranan, Jigong Sardjanto, menambahkan bahwa periode panen kali ini datang lebih awal dan diperkirakan berlangsung lebih panjang. Ia juga memastikan pasokan air untuk budidaya tetap aman karena wilayahnya disokong jaringan Irigasi Colo.
“Pada puncak panen raya, total produksi jambu di seluruh Desa Pranan mampu mencapai 20 ton per hari. Komoditas ini dipasarkan hingga ke luar kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Semarang melalui jasa pengiriman harian.” Imbuhnya.
Camat Polokarto Heri Wahyu Cahyono mengapresiasi keaktifan warga yang menjadikan budidaya jambu air sebagai penggerak roda perekonomian desa selain sektor padi dan mangga.
“Kami mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat infrastruktur jalan dan akses masuk kawasan, guna memantapkan status Desa Pranan sebagai destinasi wisata petik buah.” Imbuhnya.
Inovasi juga terus dikembangkan oleh Penggerak PKK Desa Pranan untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen. Ketua PKK Desa Pranan, Endang, menjelaskan bahwa jambu air kini tidak hanya dijual sebagai buah segar, melainkan diolah menjadi ragam produk seperti sirup, manisan, selai, hingga sambal jambu. Produk olahan yang telah mengantongi izin dan sedang memproses sertifikasi halal tersebut dipasarkan secara langsung maupun lewat jejaring daring.(dea/rit)





