Pertanian Organik: Ketika Perubahan Paradigma Berjalan Lebih Cepat daripada Pemahaman


Oleh: Mercy Bientri Yunindanova, Ph.D.

(Dosen Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UNS/ Dosen Program Studi Agribisnis, Sekolah Vokasi, UNS/Anggota Pusat Studi Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, LPPM UNS)

INDONESIA sedang menunjukkan arah yang semakin jelas menuju pertanian yang lebih berkelanjutan. Berbagai kebijakan mulai mendorong pengurangan ketergantungan terhadap pupuk kimia, subsidi pupuk organik terus diperkuat, pelatihan pembuatan kompos, pupuk organik cair (POC), dan mikroorganisme lokal semakin banyak diselenggarakan, sementara istilah pertanian organik dan pertanian ramah lingkungan semakin sering menjadi bagian dari diskusi pembangunan pertanian.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi hanya berbicara tentang peningkatan produksi, tetapi juga mulai memikirkan keberlanjutan sumber daya alam dan kesehatan masyarakat.

Arah tersebut tentu patut diapresiasi. Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan, keamanan pangan, dan kerusakan lingkungan akibat penggunaan input kimia secara berlebihan, pertanian organik menawarkan harapan baru. Tidak mengherankan apabila permintaan produk organik terus tumbuh, terutama di kalangan masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kesehatan dan lingkungan.

Namun, di balik optimisme tersebut, terdapat kenyataan yang perlu dicermati. Pergeseran paradigma menuju pertanian organik belum sepenuhnya diiringi oleh kesiapan pengetahuan, kapasitas sumber daya manusia, dan ekosistem pendukung. Banyak program telah berhasil mengenalkan pertanian organik, tetapi belum cukup membangun pemahaman mengenai filosofi dan prinsip dasarnya. Akibatnya, transisi menuju pertanian organik sering kali berjalan tidak mulus.

Di lapangan, daya tarik pertanian organik sering kali lebih didorong oleh aspek ekonomi daripada kesadaran ekologis. Harga produk organik yang relatif lebih tinggi menjadi magnet utama. Beras organik, misalnya, umumnya dipasarkan kepada konsumen kelas menengah atas, keluarga yang memiliki kepedulian terhadap kesehatan, atau masyarakat dengan kebutuhan pangan khusus.

Baca juga:  Upaya Kolaboratif Ahmad Luthfi Menggenjot Investasi Menuai Apresiasi

Kondisi ini membuat sebagian petani melihat pertanian organik sebagai peluang memperoleh nilai jual yang lebih tinggi, bukan sebagai upaya membangun sistem pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Cara pandang tersebut memunculkan ekspektasi yang kurang tepat. Tidak sedikit petani berharap bahwa dengan mengganti pupuk kimia menjadi pupuk organik, mereka akan langsung memperoleh harga premium tanpa melalui proses adaptasi yang panjang.

Ketika menghadapi kenyataan bahwa produktivitas dapat menurun pada masa transisi, kebutuhan bahan organik cukup besar, atau pasar organik belum terbentuk dengan baik, muncul anggapan bahwa pertanian organik terlalu sulit diterapkan. Keluhan seperti “membutuhkan puluhan ton pupuk organik per hektare”, “hasil panen menurun”, atau “organik tidak menguntungkan” masih sering terdengar.

Padahal, persoalan utamanya bukan terletak pada konsep pertanian organik itu sendiri. Yang belum siap adalah fondasi yang menopang proses perubahannya. Pertanian organik bukan sekadar mengganti jenis pupuk, melainkan mengubah cara pandang terhadap tanah, tanaman, dan ekosistem.

Tanah tidak lagi diperlakukan hanya sebagai media tumbuh yang harus diberi nutrisi secara instan, tetapi sebagai ekosistem hidup yang perlu dipulihkan kesuburannya secara bertahap. Perubahan seperti ini tidak mungkin dicapai hanya dalam satu atau dua musim tanam.

Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah kapasitas pendampingan. Penyuluh pertanian memegang peran strategis dalam mengawal perubahan perilaku petani. Namun, kemampuan penyuluh dalam bidang pertanian organik belum merata. Sebagian besar masih memiliki pengalaman yang lebih kuat pada sistem budidaya konvensional, sementara pertanian organik membutuhkan pendekatan yang berbeda, lebih adaptif, dan berbasis proses jangka panjang. Di sisi lain, akses petani terhadap bahan organik berkualitas, teknologi pengolahan limbah, serta pasar yang mampu menyerap produk organik secara berkelanjutan juga masih menjadi pekerjaan rumah.

Baca juga:  Warga Boyolali Rasakan Guguran Abu dari Merapi

Karena itu, keberhasilan pertanian organik seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah pelatihan yang diselenggarakan, besarnya subsidi pupuk organik yang disalurkan, atau luas lahan yang memperoleh sertifikasi. Indikator yang jauh lebih penting adalah apakah petani memahami alasan mengapa mereka menerapkan sistem tersebut, apakah penyuluh mampu mendampingi proses transisi secara berkelanjutan, dan apakah ekosistem pendukung telah benar-benar terbentuk.

Indonesia tidak kekurangan semangat untuk mengembangkan pertanian organik. Yang masih perlu diperkuat adalah fondasinya. Pergeseran paradigma memang sudah dimulai, tetapi perubahan paradigma tidak dapat dipaksakan hanya melalui program, pelatihan, atau bantuan. Ia membutuhkan proses belajar, perubahan cara berpikir, dan pembangunan ekosistem yang berjalan secara konsisten.

Pada akhirnya, masa depan pertanian organik Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa cepat kita beralih dari pupuk kimia ke pupuk organik. Masa depan tersebut akan ditentukan oleh seberapa baik kita membangun pemahaman, memperkuat kapasitas petani dan penyuluh, serta menciptakan ekosistem yang memungkinkan perubahan itu berlangsung secara bertahap, realistis, dan berkelanjutan.

Transisi menuju pertanian organik bukan sekadar perubahan teknologi, melainkan perubahan budaya bertani. Dan seperti setiap perubahan budaya, ia membutuhkan waktu, kesabaran, dan komitmen bersama. (*)


TERKINI


br>

Rekomendasi

...