JATENGPOS.CO.ID, KLATEN – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta bersama Kementrian PPPA dan TP PKK Provinsi Jateng resmi meluncurkan kembali Kampung Dolanan Sidowayah yang berada di Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten dengan tagline “BERSEMI” pada Sabtu (22/8).
Hadir langsung dalam kesempatan tersebut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia (RI), Arifatul Choiri Fauzi (atau dikenal dengan Arifah Fauzi); Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin; Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, S.I.Kom. beserta jajaran, dan Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si.
Rektor UNS Prof Dr Hartono mengatakan, Kampung Dolanan Sidowayah bukanlah potensi yang baru muncul. Identitas Sidowayah sebagai kampung dolanan telah tumbuh dari masyarakat dan menjadi bagian dari kekayaan budaya sekaligus potensi wisata edukasi Kabupaten Klaten. Peluncuran ini menjadi momentum penguatan potensi Sidowayah sebagai destinasi wisata edukasi berbasis budaya, permainan tradisional, sains, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
“Melalui Program PPK Ormawa, KSP ‘Principium’ FH UNS hadir membawa semangat baru. Hari ini kita melakukan re- _launching_ Kampung Dolanan Sidowayah dengan _tagline_ ‘BERSEMI’, sebuah semangat agar potensi yang telah dimiliki Sidowayah dapat terus tumbuh, berkembang, dan memberikan manfaat yang semakin luas,” ujar Prof Hartono.
‘BERSEMI’ merupakan akronim dari Berbudaya, Eksploratif, Rekreatif, Sains, Ekologis, Mandiri, dan Inklusif. Konsep tersebut menjadi landasan pengembangan Kampung Dolanan Sidowayah sebagai sebuah ekosistem yang mempertemukan budaya dan modernitas, permainan tradisional dan sains, rekreasi dan pendidikan, serta pengembangan ekonomi dengan kelestarian lingkungan.
Penguatan Kampung Dolanan Sidowayah BERSEMI tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak. UNS menyampaikan apresiasi kepada Kementerian PPPA RI yang melibatkan Kampung Dolanan Sidowayah BERSEMI sebagai bagian dari program prioritas Ruang Bersama Indonesia.
Menteri PPPA Arifah Fauzi mengapresiasi sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa, perguruan tinggi, dunia usaha, BPIP, serta masyarakat dalam membangun ruang yang mendukung tumbuh kembang anak sekaligus pemberdayaan perempuan.
Ia menilai Desa Sidowayah memiliki kekuatan tersendiri karena mampu mempertahankan nuansa tradisional dan mengembangkan budaya lokal sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
“Di sini masih terasa kuat nuansa tradisional dan kesederhanaannya. Desa ini mampu mempertahankan sekaligus mengembangkan budaya lokal yang ada,” ujar Arifah Fauzi.
Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, menyampaikan bahwa bermain memiliki peran penting dalam tumbuh kembang anak. Melalui permainan, anak dapat belajar memahami orang lain, membangun kerja sama, meningkatkan empati dan kepedulian, sekaligus mengenali berbagai kemungkinan masa depan melalui pengalaman bermain.
“Kampung Dolanan Sidowayah ‘BERSEMI’ menghadirkan ruang bagi anak untuk mengenal dan mengalami budaya secara langsung melalui permainan dan kehidupan sehari-hari. Kami berharap konsep tersebut dapat menginspirasi lahirnya kampung-kampung serupa di kabupaten/kota lain di Jawa Tengah,” kata Ning Nawal.
Nawal juga mendorong agar anak-anak tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi turut dilibatkan dalam pengembangan Kampung Dolanan, termasuk dengan mendengarkan pendapat dan kebutuhan mereka. Hal ini dinilai sejalan dengan semangat Ruang Bersama Indonesia (RBI) sebagai ruang kolaboratif untuk membangun ekosistem yang aman, inklusif, berdaya, serta peduli terhadap perempuan dan anak.
Ia menegaskan bahwa pembangunan karakter anak tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Generasi emas tumbuh dari keluarga yang hangat, lingkungan yang aman, masyarakat yang peduli, budaya yang hidup, serta kesempatan untuk bermain dan belajar.
Menutup sambutannya, Nawal mengapresiasi kolaborasi UNS, pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak dalam menghadirkan Kampung Dolanan Sidowayah ‘BERSEMI’. Ia berharap program tersebut terus hidup, menjadi ruang tumbuh bagi anak, sekaligus menghidupkan kembali budaya dan semangat gotong royong masyarakat Jawa Tengah. (dea/rit)





