Pekarangan Pangan Lestari Berbasis Cabai Organik


Oleh: Puji Harsono (Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian UNS Surakarta)

PARADIGMA baru dalam pembangunan pertanian dewasa ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia yang seimbang dengan alam yang berjalan secara lestari dan berkesinambungan. Pertanian organik, secara holistik mendukung pertanian berkelanjutan yang menghasilkan sistem pangan mencakup dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan. Dampak ekonomi; memberikan dampak lapangan pekerjaan, pendapatan, pajak dan menjamin ketersediaan pangan. Dampak sosial; memberikan nilai tambah, tradisi budaya nutrisi dan kesehatan, hak dan keselamatan kerja.

Pangan organik adalah pangan yang berasal dari suatu lahan pertanian organik yang menerapkan praktek pengelolaan yang bertujuan untuk memelihara ekosistem dalam mencapai produktivitas yang berkelanjutan, melakukan pengendalian gulma, hama, dan penyakit, melalui beberapa cara seperti daur ulang sisa tumbuhan dan ternak, seleksi dan pergiliran tanaman, pengelolaan air, pengolahan lahan, dan penanaman serta penggunaan bahan hayati.

Pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga. Pemanfaatan lahan pekarangan berbasis cabai organik sebagai salah satu upaya mikro pengembangan hortikultura dan sekaligus mendukung program kawasan rumah pangan lestari untuk mewujudkan kemandirian pangan di tingkat rumah tangga sesuai dengan amanat Undang Undang Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan.

Cabai merah merupakan bumbu masakan yang sering digunakan untuk menambah rasa pedas dan memberi warna merah pada makanan. Dibalik rasanya yang pedas, terdapat kandungan gizi yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Capsaicin pada cabai merah berperan dalam meredakan nyeri seperti radang sendi. Capsaicin menimbulkan sensasi panas yang dapat meningkatkan pengeluaran kalori sehingga dapat mengurangi berat badan (Puspaningtyas dan Prasetyaningrum 2014).

Konsumsi cabai dapat meningkatkan asupan berbagai macam zat gizi pada komposisi gizi yang lengkap. Beberapa zat gizi yang terdapat pada cabai adalah Vitamin A, C, E dan beberapa mineral penting, serta pigmen alami yang berperan sebagai antioksidan dan beberapa jenis fitokimia (Lingga 2012).

Baca juga:  Cari Rumput, Warga Berok Tewas Tertimpa Ranting

Nanoteknologi biopestisida mampu larut dan terserap secara merata pada tanaman sehingga efektif menurunkan intensitas hama dan penyakit. Minyak serai wangi yang digunakan dalam pengendalian hama/ penyakit utama tanaman cabai dengan teknologi nanobiopestisida memberikan dalam meningkatkan toksisitas, meningkatkan umur simpan, dan meningkatkan kelarutan dalam air pestisida yang sulit larut. Minyak serai wangi mengandung senyawa aktif yang dapat digunakan sebagai bahan baku pestisida nabati untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman cabai. Hal ini berkaitan dengan sifatnya yang mampu membunuh, mengusir, dan menghambat aktivitas makan hama, serta mengendalikan penyakit tanaman yang bersifat antijamur, antibateri, antivirus, dan antinematode.

Bahan organik yang diberikan ke tanah dapat mempengaruhi sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Sumber bahan organik seperti kotoran ternak sebagai sumber efektif hara mineral (N, P dan K) dan mempengaruhi dinamika ketersediaan nutrien. Arang-bio dapat digunakan untuk memperbaiki struktur tanah, kesuburan tanah, meningkatkan retensi air dan mineral, menurunkan aliran permukaan (run off) nutrisi, meningkatkan efisiensi pemupukan. serta meningkatkan produksi biomassa tanaman.

Pemanfaatan mulsa organik seresah tanaman dalam budidaya cabai di lahan pekarangan untuk mewujudkan pekarangan pangan lestari memberikan beberapa keuntungan: (a) melindungi tanah dari butir-butir hujan, `sehingga erosi dapat dikurangi, tanah tidak mudah menjadi padat; (b) mengurangi penguapan (evaporasi), ini sangat bermanfaat pada musim kemarau karena pemanfaatan air (lengas tanah) menjadi lebih efisien; (c) menciptakan kondisi lingkungan (dalam tanah) yang baik bagi aktivitas mikroorganisme tanah; (d) setelah melapuk bahan mulsa akan meningkatkan kandungan bahan organik tanah; dan (e) menekan pertumbuhan gulma.

Baca juga:  DPRD Audiensi Tower BTS Rusak Rumah Warga Siwal

Budidaya cabai organik di lahan pekarangan mengacu good agricultural practices (GAP). Praktek pertanian yang baik atau GAP digunakan untuk merujuk hingga elemen yang sangat beragam, mulai dari pemantauan penggunaan pestisida, hingga aspek yang lebih menyeluruh sistem produksi primer dan pasca produksi, seperti penilaian dampak lingkungan atau kondisi tenaga kerja. GAP mencakup penerapan teknologi yang ramah lingkungan, pencegahan penularan organisme pengganggu tanaman, menjaga kesehatan dan meningkatkan kesejahteraan petani, dan prinsip penelusuran balik (traceability).

Pekarangan pangan lestari berbasis cabai organik paling tidak sebagai salah satu solusi tuntutan masyarakat akan kebutuhan pangan yang aman dan ramah lingkungan: produknya lebih kaya nutrisi dan mineral; lebih aman untuk dikonsumsi karena bebas residu kimia sintetis, bebas residu hormon sintetis dan antibiotic, bebas genetically modified organism (GMO) atau transgenik; ramah lingkungan karena mampu meningkatkan jumlah mikroorganisme tanah, menciptakan keseimbangan musuh alami, menjaga keseimbangan agroekosistem dan penerapan pertanian yang berkelanjutan.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui PKM HGR UNS 2026 bermitra dengan Pokdawis Johosari I, Desa Joho, Kabupaten Sukoharjo bertujuan (1) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam budidaya organik tanaman cabai , (2) menyediakan kebutuhan pangan keluarga yang sehat secara mandiri

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Universitas Sebelas Maret (UNS) yang telah memberikan kontribusi pendanaan selama pelaksanaan kegiatan PKM HGR UNS Tahun Anggaran 2026 melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dengan Nomor Kontrak Pengabdian: 463/UN27.22/PT.01.03/2026. (*)


TERKINI

Rekomendasi

...