JATENGPOS.CO.ID, SALATIGA – Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Salatiga menjadi saksi prosesi khidmat pelantikan pengurus Paguyuban Kawula Karaton Surakarta (PAKASA) Cabang Salatiga masa bakti 2026–2031, kemarin. Suasana semakin khidmad saat alunan gending Jawa mengiringi jalannya acara, menegaskan kuatnya nuansa budaya dalam kegiatan tersebut.
Acara diawali dengan penampilan Tari Edan-edanan, tarian dengan ekspresi jenaka yang sarat makna filosofis sebagai simbol pembersihan energi negatif di pelataran pendopo. Selanjutnya, Tari Gambyong dibawakan dengan gerak gemulai yang melambangkan penghormatan sekaligus ucapan selamat datang bagi para tamu kehormatan dari Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Pelantikan pengurus berlangsung di hadapan GKR. Dra. Koes Moertiyah Wandansari, M.Pd ( Gusti Moeng)., serta KPH. Dr. Edy S. Wirabhumi. Momentum ini menandai dititipkannya tanggung jawab besar kepada jajaran pengurus baru PAKASA Cabang Salatiga untuk periode lima tahun ke depan.
Wali Kota Salatiga, dr. Robby Hernawan, Sp.OG, dalam arahannya menegaskan bahwa kehadiran PAKASA di tengah masyarakat modern merupakan sebuah kebutuhan. Menurutnya, budaya bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari napas peradaban.
“Pelantikan ini adalah peneguhan amanah. Seperti tarian yang kita saksikan, terdapat doa dan harapan agar pengurus PAKASA menjadi penyejuk sekaligus penjaga moral di tengah dinamika sosial,” ujar Robby.
Ia juga menambahkan bahwa PAKASA menjadi bukti nyata bahwa Salatiga tetap menjadi rumah bersama yang menjunjung tinggi toleransi serta keberagaman identitas budaya.
Ketua PAKASA Cabang Salatiga yang baru dilantik, Retno Robby Hernawan, menyampaikan komitmennya untuk menjaga semangat nilai-nilai budaya Jawa di tengah arus globalisasi. PAKASA, menurutnya, akan berperan sebagai jembatan antara nilai luhur masa lalu dengan kehidupan masyarakat modern.
“Kami ingin memastikan nilai tepa selira dan andhap asor tetap hidup. Pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada seremoni, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari,” tegas Retno.
Sementara itu, KPH. Dr. Edy S. Wirabhumi menekankan bahwa menjaga budaya merupakan wujud nasionalisme. Ia mengingatkan bahwa Keraton Surakarta adalah salah satu pilar sejarah dalam perjalanan Republik Indonesia, sehingga perjuangan kebudayaan menjadi bagian dari menjaga keutuhan NKRI.
“Hari ini kita memberikan kepercayaan penuh kepada pengurus untuk meneruskan peradaban Mataram yang adiluhung di Salatiga. Semoga membawa manfaat nyata bagi harmoni masyarakat kota ini,” pungkasnya.( deb)




