JATENGPOS.CO.ID, SOLO – Kota Surakarta saat ini menghadapi tantangan serius terkait manajemen limbah padat seiring kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo yang telah melampaui kapasitas ideal (overload).
Merespons hal tersebut, Kodim 0735/Surakarta hadir sebagai katalisator melalui strategi integratif penanganan sampah dari hulu hingga hilir.
Langkah ini merupakan implementasi Tugas Operasi Militer Selain Perang (OMSP) dalam membantu kesulitan masyarakat sekaligus menjaga stabilitas kesehatan wilayah. Upaya ini juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan isu sampah sebagai bagian dari ketahanan nasional.
Dandim 0735/Surakarta, Letkol Inf Arief Handoko Usman, S.H., menegaskan bahwa kunci utama penyelesaian masalah ini berada pada pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. Melalui peran aktif personel seperti Pelda Rudi, Kodim gencar melakukan sosialisasi dan pendampingan di tingkat RT/RW hingga komunitas lingkungan.
“Penanganan harus dimulai dari hulu atau sumbernya. Masyarakat didorong memilah sampah menjadi organik dan anorganik untuk meningkatkan efektivitas pengolahan dan mengurangi beban di TPA,” ujar Dandim, Kamis (23/04).
Berdasarkan data riset, volume sampah harian di Surakarta didominasi limbah organik sebesar 60-70 persen. Dalam strategi ini, sampah anorganik seperti plastik dan kertas diarahkan melalui sistem bank sampah yang memberikan manfaat finansial bagi warga melalui ekonomi sirkular.
Sementara itu, untuk sampah organik, pengolahan difokuskan pada fasilitas TPS3R Mojosongo. Di lokasi tersebut, limbah diolah menjadi produk bernilai guna seperti kompos, maggot (larva lalat Black Soldier Fly), kasgot, hingga Pupuk Cair Organik (PCO) yang bermanfaat bagi sektor pertanian lokal.
“Inisiatif ini membuktikan bahwa dengan kolaborasi lintas sektoral dan tata kelola yang tepat, sampah dapat diubah menjadi berkah. Kesadaran kolektif untuk memilah adalah kunci mewujudkan Kota Surakarta yang bersih dan sehat,” pungkas Letkol Inf Arief Handoko. (dea/rit)















