31.9 C
Semarang
Selasa, 28 April 2026

Nguri-uri Tradisi Nganco, Nelayan Rawa Pening Kabupaten Semarang Bentuk PANGSAR




JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Semangat melestarikan tradisi leluhur mempererat persaudaraan antarnelayan Rawa Pening diwujudkan dengan membentuk Paguyuban Sedulur Anco Rawa Pening (PAGSAR) pada Minggu (26/4/2026).

Kegiatan launching sekaligus digelar rapat pembentukan paguyuban diprakarsai salah seorang nelayan Rawa Pening, Budi Triyono, berlangsung di rumah Ahmadi, pemilik pangkalan Perahu Ahmadi, yang berada di sebelah timur pangkalan perahu Sis, Desa Bejalen.

Acara dihadiri sekitar 30 orang nelayan Rawa Pening yang berasal dari wilayah sekitar Bawen, Ambarawa, Tuntang, hingga Banyubiru. Kehadiran para nelayan dari berbagai wilayah ini menjadi bukti kuat bahwa semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap budaya nelayan Rawa Pening masih terjaga dengan baik.

Pembentukan PAGSAR bertujuan untuk nguri-uri atau melestarikan tradisi dan budaya leluhur masyarakat nelayan Rawa Pening, khususnya tradisi nganco yang telah diwariskan secara turun-temurun.


Selain itu, paguyuban ini dibentuk untuk mempererat tali silaturahmi, mengokohkan persaudaraan antar sesama nelayan, serta menjadi wadah bersama agar para nelayan di sekitar Rawa Pening dapat semakin maju, sejahtera, dan memiliki arah perjuangan yang lebih terorganisir.

Baca juga:  Operasional Penyuluhan KB Kecamatan Demak

Dalam rapat pembentukan tersebut, disepakati susunan kepengurusan PAGSAR sebagai berikut; Ketua: Edi Kethel, Wakil Ketua: Rendra, Sekretaris: Achmad Rifa’i, Bendahara: Ahmadi, Sesepuh: Mbah Bejo dan Pakdhe Rohim. Penasehat 1: Budi Triyono, Penasehat 2: Nur Yulianto (Mas Abi) dari Ungaran.

“Paguyuban ini bukan hanya tempat berkumpul, tetapi rumah bersama untuk saling menguatkan, saling menjaga, dan saling memperjuangkan masa depan nelayan Rawa Pening,” ujar Budi Triyono kepada Jateng Pos, kemarin.

“Dengan terbentuknya Paguyuban Sedulur Anco Rawa Pening, diharapkan seluruh nelayan dapat semakin guyub, kompak, sejahtera, serta bersama-sama menjaga Rawa Pening sebagai sumber kehidupan, sumber rezeki, dan warisan alam yang harus terus dilestarikan” imbuhnya.

Terbentuknya kepengurusan ini diharapkan menjadi langkah awal yang baik bagi perjalanan PAGSAR ke depan, dalam menjaga eksistensi nelayan anco sekaligus memperjuangkan aspirasi para nelayan tradisional di kawasan Rawa Pening.

Anco sendiri merupakan salah satu alat tradisional yang digunakan oleh sebagian nelayan di Rawa Pening untuk menangkap ikan. Alat ini mirip seperti jaring angkat atau branjang ikan, namun bersifat lebih praktis dan portabel sehingga dapat dibawa ke berbagai tempat. Dari alat inilah lahir istilah nganco, yaitu aktivitas menangkap ikan menggunakan anco.

Baca juga:  Sosialisasi Anti-Bullying Mahasiswa KKN UIN Walisongo, Kepsek MI Sabilul Huda Blater Tegaskan ‘Stop Bullying’  

Dalam praktiknya, tradisi nganco memiliki beberapa cara yang umum dilakukan oleh nelayan, diantaranya menggunakan perahu kecil atau mrahu, dilakukan dari tanggul atau atas jembatan yang biasa disebut nanggul. Turun langsung ke rawa dengan kedalaman sekitar dada ke bawah dikenal dengan istilah nyobok.

Tradisi nganco bukan sekadar aktivitas mencari ikan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat nelayan Rawa Pening yang sarat nilai kebersamaan, kerja keras, dan kearifan lokal.

Dengan resmi terbentuknya PAGSAR para nelayan berharap paguyuban ini dapat menjadi rumah bersama untuk menjaga tradisi, memperkuat persaudaraan, serta memperjuangkan masa depan nelayan Rawa Pening yang lebih baik.

“Paguyuban ini juga diharapkan mampu menjadi simbol kebangkitan nelayan tradisional agar tetap lestari di tengah perubahan zaman,” pungkas Budi Triyono. (muz)




TERKINI




Rekomendasi

...