JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Di tengah gempuran industri modern dan lesunya kondisi ekonomi, denyut nadi kesenian ukir khas Kudusan rupanya belum sepenuhnya mati. Sejumlah perajin lokal di Kabupaten Kudus, masih setia bertahan demi menjaga eksistensi gebyok, ornamen ikonik yang menjadi identitas utama rumah adat Kudus.
Sentra kerajinan ini berpusat di Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Saat ini, tercatat masih ada sekitar 40 perajin yang aktif berproduksi. Tidak hanya terpaku pada gebyok, tangan-tangan terampil mereka juga melahirkan karya megah lain seperti gazebo, pendopo, hingga omah joglo.
Salah satu perajin yang masih teguh melestarikan kearifan lokal ini adalah Hermawan. Ia mengakui, bahwa peminat seni ukir tradisional cenderung menurun dari tahun ke tahun. Kendati, kesetiaan para pelanggan dari berbagai daerah menjadi ‘bahan bakar’ utama baginya untuk terus menatah kayu.
‘’Peminat gebyok Kudusan ini rata-rata adalah orang-orang yang mengenal dan mencintai budaya Jawa,’’ ujar Hermawan, di sela kesibukannya pada Pameran UMKM di depan Kantor Bupati Kudus, Selasa (26/5).
Hermawan menjelaskan bahwa seni ukir Kudus memiliki perbedaan esensial dibanding ukiran Jepara yang lebih populer. Gebyok Kudusan kaya akan detail spesifik yang tidak akan dijumpai pada produk daerah lain.
Adapun karakteristik utama yang menjadi pembeda di antaranya adalah Ornamen Suson yakni hiasan bertumpuk yang terletak di bagian depan pintu. Lalu Katung adalah bagian sayap gebyok dengan detail rumit.
Selanjutnya Dadungan yang merupakan Motif tali tambang yang khas. Pembeda yang paling menonjol adalah Teknik Tiga Dimensi, dimana kedalaman ukiran yang lebih menonjol dan hidup.
‘’Kalau di gebyok Jepara, fitur suson itu tidak ada,’’ tegas Hermawan.
Disinggung soal penerus, Hermawan menyebut meski pasar masih tersedia, tantangan terbesar yang dihadapi industri kreatif ini justru datang dari dalam, yaitu sulitnya regenerasi seni ukir di kalangan muda.
‘’Menghasilkan seorang pengukir andal membutuhkan proses yang panjang dan dedikasi tinggi,’’ tuturnya.
Menurut Hermawan, seorang pemula membutuhkan waktu minimal empat bulan hanya untuk menguasai teknik dasar atau ukiran kasar. Proses menghaluskan dan mendetailkan motif membutuhkan waktu yang jauh lebih lama lagi. Hal ini membuat generasi muda enggan melirik profesi ini.
‘’Anak muda sekarang lebih memilih bekerja di pabrik karena upahnya pasti. Kalau membuat gebyok sistemnya borongan, penghasilannya tidak menentu,’’ keluhnya.
Bicara soal harga, karya seni bernilai tinggi ini dibanderol berdasarkan tingkat kerumitan dan ukuran. Satu meter ukiran gebyok Kudusan dihargai Rp 7 juta. Sementara untuk bangunan siap pakai seperti gazebo, dipatok mulai dari harga Rp 17 juta.
Uniknya, pesanan tidak hanya datang dari wilayah lokal Jawa Tengah. Hermawan kerap menerima order dari luar pulau seperti Bali, Jakarta, hingga Kalimantan. Mayoritas pemesan adalah warga kelahiran Jawa yang merantau dan ingin menghadirkan nuansa kampung halaman di tempat tinggal baru mereka.
‘’Mereka memesan gebyok ini untuk mengobati rasa kangen pada tanah Jawa,’’ pungkas Hermawan. (han/rit)



