JATENGPOS.CO.ID, SALATIGA – Pentingnya pengawasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sehingga pelaksanaan program ini di lapangan harus terus dikawal agar sesuai dengan tujuan pemerintah pusat.
“Mulai sekarang kita harus mengawal dan mengawasi MBG agar program ini benar-benar menjadi fokus bersama,” ujar Wali Kota Salatiga dr. Robby Hernawan, Sp.O.G.
saat kunjungan kerja ke Kelurahan Noborejo, Kecamatan Argomulyo, Senin (8/6/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Salatiga memastikan program prioritas nasional dan daerah berjalan optimal sekaligus menyerap aspirasi masyarakat secara langsung.
Selain menyasar siswa SD dan SMP, Robby menjelaskan bahwa MBG juga diperluas untuk kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Untuk itu, ia meminta dukungan Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan Linmas dalam pendataan calon penerima manfaat.
Dalam kunjungan ini, Robby juga menyoroti persoalan sampah yang menjadi tantangan bersama. Dengan produksi sampah Kota Salatiga mencapai 85–100 ton per hari dan sekitar 70 persen berupa sampah organik, ia menekankan pentingnya pengurangan sampah sejak dari sumbernya melalui pemilahan sampah rumah tangga. “Stop sampah organik dari sumbernya. Kelurahan perlu terus mengedukasi masyarakat agar memilah sampah organik dan anorganik,” tegasnya.
Selain itu, Robby mengajak masyarakat memanfaatkan layanan SOS (Salatiga Online System) guna meningkatkan literasi digital warga. Ia juga mendorong penguatan ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan lahan terbatas dengan metode pertanian kreatif.
Dalam kunjungan ini wali kota didampingi Sekretaris Daerah, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Satpol PP, Kepala Bagian Tata Pemerintahan, serta Sekretaris Camat Argomulyo.
Sementara itu, Lurah Noborejo, Megadharma Nurani Aditirta, S.STP., M.M., mengatakan, Noborejo memiliki potensi besar sebagai kawasan industri strategis sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kota Salatiga. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), kawasan industri di Noborejo mencapai 111 hektare, dengan 52 hektare di antaranya telah terbangun dan dihuni lebih dari 22 perusahaan besar dan menengah yang menyerap ribuan tenaga kerja.
Selain sektor industri, Kelurahan Noborejo juga terus mengembangkan UMKM, wisata edukasi, dan pelestarian budaya lokal. Berbagai potensi unggulan tersebut didukung inovasi pelayanan publik berbasis digital melalui Sistem Monitoring dan Evaluasi Kinerja Berbasis Digitalisasi (SINERGI) yang mempercepat koordinasi, pengawasan kinerja, dan realisasi program secara lebih efektif. ( deb)






